Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 125 Mengantar Dina


__ADS_3

Hari-hari berlalu, surat pemberitahuan untuk segera melakukan pendaftaran ulang Universitas A telah diterima Dina. Papanya Dina tidak bisa mengantar karena harus menghadiri rapat penting di kantornya. Sedangkan mamanya bingung harus menitipkan adik-adiknya dengan siapa.


Akhirnya Dina memutuskan untuk meminta tolong Dendy untuk mengantarkan dirinya melakukan daftar ulang di kampusnya. Dan Dendy 'pun menyangupinya karena kebetulan ia masih libur kenaikan kelas. Ia senang karena Dina mau diantarkan olehnya. Sekaligus ia juga ingin mengetahui kampus Dina dimana.


Seperti biasa Dina setiap pagi menyempatkan untuk pergi ke studio sambil mengisi waktu. Pagi ini Dina mengendarai motornya sendiri ke studio. Biasanya ia dijemput Dendy, tapi hari ini ia menolaknya karena ia harus pergi ke beberapa tempat selain ke studio.


Sepulang dari studio, Dina mampir ke tempat budenya setelah dari tempat budenya ia mampir ke rumah Dendy. Ia memang tidak memberitahu Dendy jika ia akan mampir.


Saat sudah sampai di depan rumah Dendy, tampak sepi tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah. Dina hampir saja langsung pulang karena sepertinya tidak ada orang yang ada di rumah, Dina mendengar suara pintu dibuka tapi ia masih belum turun dari motornya.


"lhoh Din...kamu ke sini?" Dendy berlari menuju pagar dan membukakan pintu untuk Dina


"memangnya tidak boleh?" Dina mencebik


"ya tentu boleh dong sayang..." ucap Dendy tersenyum sambil membuka pintu pagarnya


"aku kira kamu pergi" ucap Dina sambil memasukkan motornya ke halaman


"iya...mama dan adikku sedang pergi ke pusat perbelanjaan" ucap Dendy menutup pintu pagarnya


"oh...kenapa kamu tidak mengantar mereka?" tanya Dina sambil melepaskan helm dan jaketnya.


"malas ah...lebih baik aku tidur" Dendy berjalan masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Dina


"kamu sudah makan?" tanya Dendy


"belum..." jawab Dina


"ya sudah aku buatkan makanan dulu ya..." ucap Dendy


"memangnya kamu bisa masak?" Dina mencibir


"bisa...masak air...." Dendy tergelak berlari ke dapur. Dina mengikuti Dendy ke dapur dan duduk di meja makan. Ia memperhatikan Dendy yang sedang meracik bumbu-bumbu.


"kamu mau masak apa Den?" tanya Dina


"masak mi goreng spesial" ucap Dendy


Kemudian Dendy mulai memasak dan Dina hanya memperhatikan. Dina terkesima melihat Dendy yang begitu cekatan mengolah mi goreng. Dalam hatinya Dina semakin menyayangi Dendy. Meskipun di awal hubungan mereka banyak sekali masalah, tapi semakin hari Dendy bisa menunjukkan dia bisa memperbaiki kesalahannya.


Dendy juga sudah mulai bisa mengendalikan rasa cemburunya. Dina benar-benar sudah jatuh dalam pesona seorang Dendy. Dendy memang tidak tampan, wajahnya memang biasa-biasa saja tapi ia hanya menilai kenyamanan yang diberikan oleh Dendy.


Bersama Dendy, Dina tidak perlu menjadi orang lain, ia tidak harus berpura-pura memahami setiap perilaku Dendy. Dina tak harus berpura-pura menjadi seperti yang diinginkan cowok -cowok pada umumnya.


Apa yang Dina suka ada pada diri Dendy semua. Dendy selalu bisa menjadi pendengar setia segala keluh kesah Dina, tanpa menghakimi Dina. Sikap dewasa Dendy dalam berpikir melebihi Dina. Meskipun kadang Dendy yang terlalu cemburu dan kadang suka menyimpulkan Apa yang ia lihat adalah yang sebenarnya.


Terlepas dari segala kekurangan Dendy, kelebihan Dendy lah yang Dina lihat. Hal itulah yang membuat Dina masih mempertahankan hubungannya dengan Dendy.

__ADS_1


Dendy telah selesai memasak mi gorengnya. Dia memematikan kompornya lalu berjalan menghampiri Dina.


"melamunin apa sih sayangku...." ucap Dendy tersenyum sambil mencubit hidung Dina


"auhh..sakit Den..." ucap Dina sambil menggosok-gosok hidungnya.


"mau makan sekarang?" tanya Dendy


"terserah..." jawab Dina


"cewek kalau sudah bilang terserah menakutkan..." gumam Dendy yang masih didengar Dina.


Dendy berjalan mengambil piring dan menuang mie goreng yang tadi ia masak ke dalam satu piring besar. Kemudian membawanya ke meja makan.


"ayo dimakan" ucap Dendy mengambil sendok dan garpu


"kenapa hanya satu piring Den?" tanya Dina heran


"sepiring berdua" jawab Dendy tersenyum


Kemudian Dendy menyuapkan Dina mi hasil masakannya.


"bagaimana?" tanya Dendy harap-harap cemas takut Dina tidak menyukai masakannya


"hmmm....lumayan...ternyata kamu bisa masak juga" ucap Dina tersenyum


Mereka berdua makan dalam satu piring, dan saling menyuapi. Mie yang dimasak Dendy habis tak bersisa, Dendy tersenyum puas hasil masakannya dihabiskan oleh Dina.


"jam 7 atau 8 begitu bagaimana Den?" tanya Dina


"iya...aku jemput jam 7" ucap Dendy tersenyum


.


.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Dendy sudah sampai di rumahnya Dina, bahkan belum ada jam 7 Dendy sudah berada di rumah Dina.


"pagi sekali kamu datang?" ucap Dina masih belum mandi, dan terlihat seperti baru bangun tidur


"kamu baru bangun tidur?" tanya Dendy


"iya..." ucap Dina tersenyum memperlihatkan gigi-giginya


"katanya berangkat pagi-pagi kenapa baru bangun" gerutu Dendy


"iya maaf....aku mandi dulu.."ucap Dina langsung berlari masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Selesai mandi Dina segera bersiap-siap. Ia memasukkan semua berkas-berkas yang harus ia lampirkan dalam daftar ulang nanti.


"kamu jadinya berangkat sama siapa Din?" tanya mama Vera


"diantar Dendy ma..."ucap Dina sambil merapikan bajunya


"hati-hati jangan mampir-mampir setelah urusan selesai langsung pulang" pesan mama Vera


"iya ma...paling mampir makan atau lihat-lihat kos-kosan" ucap Dina nyengir kuda


"kalau mau cari kos-kosan lebih baik kamu sama wilson saja dia yang lebih tahu daerah kampusmu" ucap mama Dina


"iya ma...nanti coba aku tanya kak Wilson, syukur-syukur dicarikan sekalian...Dina berangkat dulu ya ma..." Dina menyalami tangan mamanya


"kamu tidak sarapan dulu?" tanya mamanya Dina


"nanti di jalan saja ma...kasihan Dendy sudah menunggu lama" jawab Dina sambil memakai sepatunya


"kamu ajak sarapan sekalian saja Din...papa kamu sudah selesai sarapan"


"nanti saja ma...mampir warung di jalan....dahhh mama" Dina berlari keluar rumah dan menghampiri Dendy yang duduk menunggu di teras


"sudah...?" tanya Dendy


"sudah...ayo berangkat..." ucap Dina sambil memakai helmnya


"hati-hati di jalan... Jangan ngebut...!" ucap mama Vera sambil berteriak dari ambang pintu


"baik tante...permisi" ucap Dendy sopan


Dendy melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju kota J. Dina membonceng Dendy dan memeluknya dari belakang. Kesempatan yang sangat langka, mereka berdua bisa pergi keluar kota berdua.


Sesekali mereka berdua bersenandung, menghilangkan rasa jenuh selama perjalanan. Dendy bahagia karena ia merasa dibutuhkan oleh Dina. Dina yang selalu terlihat mandiri dan berusaha tidak merepotkan orang lain, bisa bersikap manja ketika bersama dengan dirinya.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Dukung terus karya ini ya bestie...

__ADS_1


Please like komen dan votenya ya...


ditunggu kiriman bunga atau kopinya ya terima kasih sekebon bestie


__ADS_2