Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 68


__ADS_3

Sedikit curhat ....


sepertinya NT sedang tidak bersahabat ya, beberapa hari ini sudah nulis bikin draft untuk update cerita selanjutnya, tapi tiba-tiba setelah dibuka lagi draftnya kosong, hu...hu....hu....sedih sekali, susah-susah nulis waktu punya ide tapi hilang begitu saja rasanya seperti ditinggal pacar saat lagi sayang-sayangnya.


Nyoba ngetik ulang, kadang karena kesibukan di dunia nyata belum selesai sudah aku tutup, tapi waktu dibuka lagi ilang lagi, bener-bener bikin kepala ini buntu, ide yang sudah mengalir jadi berantakan hiks...hiks...hiks...


Yuk...bestie...like komen dan votenya ya, yang belum pencet tombol favorit tolong pencet dulu, kirim-kirim bunga atau kopi ya...biar kepala nona enggak buntu lagi, terima kasih sekebon bestie...


Lanjuttt.....


 


................


Hari Sabtu adalah hari yang melelahkan bagi Dina. Sejak pagi sudah tidak bersemangat, masih sedih karena pengumuman seleksi program unggulan kemarin. Waktu pelajaran pun juga gurunya mendadak menjadi galak.


Bel istirahat pertama telah berbunyi, Dina bergegas keluar kelasnya, ia ingin makan nasi pecel, karena pagi dia belum sarapan. Dina ke arah kantin belakang kelas IPS menyusuri lorong kelas-kelas IPS. Ada sesuatu yang menurutnya tidak biasa.


Dari kelas Widi dan Gilang, kelas Ani hingga sebelahnya tidak tampak ada yang duduk-duduk di depan kelasnya. Dina memutuskan untuk masuk ke kelas Ani, di dalam kelas semua siswa tampak serius membolak-balik bukunya.


Dina berjalan ke arah Ani duduk


"tumben pada di dalama kelas semua" ucap Dina


"eh...Din..."Ani mengangkat kepalanya ke arah datangnya suara


"mau ada ulangan akuntansi Din" lanjutnya


"tapi tiga kelas lho An... Masak semua ulangan?" tanya Dina


"iya ulangan harian semua, jamnya berurutan" jawab Dina sambil membalik buku yang dia baca


"oh...ya sudah...aku kekantin dulu, semangat An....!" ucap Dina mengepalkan tangan ke atas memberi semangat ke Ani


Dina keluar kelasnya Ani berjalan ke kantin yang terletak di belakang kelas-kelas IPS. Seperti biasa Dina memesan nasi pecel dan es jeruk. Dina duduk menunggu pesanannya diantar.


Pesanan Dina sudah datang, karena sudah merasa lapar Dina segera memakan nasi pecelnya. Ketika hendak menyuapkan nasi pecel ke dalam mulutnya ,Dina mendengar ada yang memanggilnya. Dia hanya menoleh dan kembali melanjutkan makannya


"aku duduk di sini ya Din..." ucap Toni sambil meletakkan segelas es teh di meja


"hem..." jawab Dina tanpa menoleh ke arah Toni


Ya...yang memanggil Dina tadi adalah Toni.


"sendiri Din....?" ucap Toni


"seperti yang kamu lihat " ucap Dina tanpa menatap Toni melanjutkan makannya.


"Din...gimana pengumumannya? Lolos seleksi program unggulan tidak?" tanya Toni menatap Dina dengan tatapan penuh damba


"enggak Ton" jawab Dina tanpa menatap ke arah Toni


"terus... Rencana kamu apa?"


"ya ikut tes masuk perguruan tinggi negeri lah..." jawab Dina sambil mengambil gelas es jeruknya

__ADS_1


Dina meletakkan gelasnya yang sudah kosong ke atas meja kemudian bangkit berdiri ke arah ibu kantin hendak membayar makanannya.


"sudah aku bayar Din..." ucap Toni menghampiri Dina


"benar bu?" tanya Dina ke ibu kantin


"iya benar Non" ucap ibu kantin dengan senyum mengembang


"ck...kenapa kamu bayar Ton?" ucap Dina dengan nada kesal


"sudah kebiasaan Din" jawab Toni dengan senyum mengembang


"terima kasih" ucap Dina datar berjalan melewati Toni yang masih berdiri di depan ibu kantin


"itu non Dina kenapa mas? Enggak biasanya ketus begitu?" tanya ibu kantin


"entah bu, doain semoga saya bisa balikan sama Dina lagi ya... " ucap Toni dengan senyum merekah


"pasti mas Toni...semoga mas Toni berjodoh dengn non Dina, wajah mas Toni sama non Dina mirip biasanya kalau mirip begitu berarti jodoh" ucap ibu kantin panjang lebar


"amin...." ucap Toni dengan senyum manisnya


Dina berjalan kembali ke kelasnya, merasa lelah dan jenuh dengan rutinitasnya. Waktu masuk ke kelas dia melihat Yuni berada di depan meja guru entah melakukan apa. Yuni memandang Dina dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dina tidak mau ambil pusing, dia melangkahkan kakinya ke tempat duduknya, di situ sudah ada Putra. Sejak duduk dengan Putra Dina tidak lagi merasa kesepian karena Putra orangnya asyik dan suka bercanda.


"kamu sama Yuni ada apa? Kenapa dia pindah tempat duduk?" tanya Putra menatap teman sebangkunya


"entah Put" Dina mengedikkan bahunya


"entah Put, aku sendiri juga bingung, yang harusnya marah itu aku, dia sudah menuduh aku merebut pacar orang" ucap Dina sambil menengok ke arah putra


"hah... Dia nuduh kamu begitu? Pacar siapa yang kamu rebut?" tanya Putra penasaran


"entahlah Put, biarkan saja" ucap Dina sambil mengeluarkan buku pelajarannya


Putra baru mengenal Dina waktu kelas tiga karena mereka satu kelas. Tapi dia sudah mengagumi kepribadian Dina yang tidak mau ambil pusing dan mudah memaafkan orang-orang yang sudah mengecewakannya.


Jam pelajaran terakhir telah usai, Dina pulang paling akhir, karena dia harus mengerjakan tugas-tugas minggu depan terlebih dahulu supaya hari minggunya dia bisa lebih santai. Dina merasa sangat malas untuk les dia memutuskan untuk membolos les saja.


Dina berjalan ke arah tempat parkir, tinggal beberapa motor. Dina mengambil helm dan memakainya. Melihat sekeliling sudah sepi, dia melajukan motornya keluar gerbang.


Dina mendengar ada yang memanggilnya. Dia menepikan motornya dan menengok ke arah datangnya suara ternyata Gilang yang memanggilnya. Dina memutar balik motornya menghampiri Gilang.


"kenapa Lang?" tanya Dina sambil mematikan mesin motornya


"kamu enggak les Din?" tanya Gilang heran karena Dina terlihat akan pulang bukan hanya untuk keluar sebentar.


"aku sedang malas Lang"


"tunggu Dendy sebentar ya, dia bilang pulang sekolah mau ke sini." Ucap Gilang menyampaikan pesan dari Dendy


"memangnya dia pulang jam berapa?"


"sama seperti kita, jam satu kurang seperempat" jawab Gilang sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya

__ADS_1


"tadi dia bilang ke aku, kalau ketemu kamu, disuruh menunggu sebentar" lanjutnya


"iya baiklah, aku tunggu di studio aja ya Lang" ucap Dina kemudian melajukan motornya masuk ke dalam gerbang sekolahnya lagi. Dina memarkirkan motornya di depan studio. Saat akan turun dari motornya Dendy mendatanginya dengan berjalan kaki.


"Din..." ucap Dendy berjalan menghampirinya dengan senyum mengembang


"eh...Den kok kamu jalan kaki, motor kamu di mana?" Dina menatap Dendy dengan tatapan heran


"aku diantar Adi ke sini, motorku lagi cemburu" ucap Dendy tersenyum jahil


"cemburu?" Dina mengerutkan dahinya


"iya cemburu sama kamu" Dendy tergelak


"haish....gombal" Dina mencebik


"kamu hari ini ada les jam berapa Din?" tanya Dendy lembut


"jam setengah tiga Den, tapi aku mau bolos saja" jawab Dina


"kok bolos, kenapa?" Dendy melihat perubahan raut wajah Dina yang tiba-tiba menjadi sendu


"lagi banyak pikiran Den" ucap Dina tak bersemangat


"ya sudah...ayo ikut aku saja" ucap Dendy menarik pelan Dina agar turun dari motornya


"kemana Den?"


"ke rumahku saja ya..." ucap Dendy tersenyum lembut


"hah.... Ke rumahmu?" Dina membulatkan matanya


"kenapa?" Dendy bingung dengan tatapan Dina


"aku takut kalau harus ketemu mama papamu Den...." ucap Dina tertunduk


"oh...cuma itu? Santai saja Din...".ucap Dendy naik ke atas motor Dina dan menyalakan mesinnya "ayo naik"


Dina naik ke boncengan, dan mememeluk pinggang Dendy dengan tangan kanannya. Dendy mulai melajukan motornya pelan keluar melalui gerbang belakang. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka.


Dina gugup, perasaannya campur aduk, antara malu takut dan senang. Tapi rasa takut yang lebih mendominasinya. Dina takut kedua orangtuanya Dendy tidak seramah di telepon.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.

__ADS_1


__ADS_2