
Setelah selesai makan Berta dan Caca berpamitan pulang ke kos mereka masing-masing. Dina pun merapikan kamarnya yang berantakan. Setelah selesai Dina mencoba untuk tidur karena sangat lelah.
Sore pun tiba, Dina terbangun pukul empat lebih tiga puluh menit. Ia menyalakan radionya dan mendengarkan lagu-lagu yang diputar di radio.
Dina memutuskan untuk mandi sambil mendengarkan radio. Dina teringat akan perkataan Riri. Dina berpikir apakah perkataan Riri itu benar. Kalau memang benar, kenapa Bimo masih saja mendekatinya.
Dina keluar dari kamar mandi dan berganti baju rumahan, karena ia tidak berencana pergi kemana pun. Ia hanya ingin tidur-tiduran di kosnya. Walaupun dalam hatinya berkeinginan untuk berkeliling kota J di malam hari.
"Din...ada yang mencari" suara pintu kamarnya diketuk
"iya terima kasih" ucap Dina sambil berjalan dan membuka pintu kamarnya.
Bimo sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan tatapan teduhnya dan dengan senyum tipis di bibirnya.
"mas...!" Dina terkejut
"ayo kita jalan-jalan" ucap Bimo
"maaf mas...aku tidak bisa" tolak Dina mengingat ucapan Riri tadi siang
"kenapa? Karena Riri?" tanya Bimo dengan tatapan serius
Dina tidak menjawab, ia hanya diam saja, berpikir dari mana Bimo tahu alasannya apa menolak ajakan Bimo.
"boleh aku masuk?" tanya Bimo
"maaf mas...di luar saja kalau mau bicara" Dina menolak halus
"kalau begitu ayo kita keluar mumpung masih sore" ucap Bimo penuh penekanan tidak mau ada penolakan dari Dina lagi
"tapi mas...!" protes Dina
"aku akan jelaskan semuanya... Semua yang perlu kamu tahu, semua tentang kita dulu, setelah itu terserah kamu mau bersikap seperti apa, aku tunggu di luar" ucap Bimo menahan emosinya kemudian ia keluar dari kos Dina dan menunggu Dina di atas motornya
Dina masuk kembali ke kamarnya dan berganti baju. Kemudian ia keluar dari kamarnya dan menghampiri Bimo.
"sudah..?" tanya Bimo datar, dan dijawab anggukan oleh Dina
Bimo melajukan motornya dengan kecepatan agak tinggi ke sebuah perbukitan. Dina menikmati perjalanan, belum pernah ia pergi keluar sesore itu menikmati pemandangan luar tanpa harus pamit kepada siapapun.
Mereka telah sampai di sebuah bukit, dari sana terlihat pemandangan kota J di malam hari. Di sana sudah ada beberapa pasang muda-mudi yang mungkin sedang berpacaran. Bimo menggandeng tangan Dina dan mengajak ke sebuah tempat yang terpisah dari orang-orang yang duduk-duduk di sana.
"tidak apa kamu pulang malam-malam?" tanya Bimo
__ADS_1
"memangnya ada apa mas?" Dina mengerutkan dahinya
"hanya memastikan, tidak ada yang mencari kamu kalau pulang malam"
Dina hanya mengaggukkan kepalanya "aku bawa kunci kos mas, jadi sedikit bebas pulang jam berapa saja"
"tadi siang Riri bicara apa kepadamu?" tanya Bimo dengan tatapan datarnya. Dina diam tak menjawab, ia tidak ingin menjadi seorang pengadu. Lagipula ucapan Riri tidak ada pengaruhnya untuk dia.
"aku mendengar semuanya Din...tidak perlu kamu tutup-tutupi" ucap Bimo menatap Dina dengan raut penyesalan. Dina menatap Bimo dengan raut tanda tanya.
"aku tahu pasti kamu bertanya-tanya siapa Riri" ucap Bimo mengehela nafasnya. "Dialah penyebab aku meninggalkan kamu tanpa alasan"
Dina diam, ia sudah tak ingin mengetahui apapun sebenarnya. Tapi karena kejadian di kampus yang membuatnya sedikit malu mau tidak mau ia mendengarkan apa yang diucapkan oleh Bimo.
"pasti kamu bertanya, kenapa sampai aku berbuat seperti itu padamu"
"waktu itu aku tidak ada pilihan lain Din"
Bimo menceritakan semuanya, tanpa ada yang ia tutup-tutupi lagi. Sikap misterius Bimo selama ini terjawab sudah. Dina tidak lagi penasaran.
"maafkan aku Din...dulu aku tidak berterus terang kepadamu" ucap Bimo dengan nada penyesalan.
"iya mas tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu dari dulu" ucap Dina dengan senyuman
"maksudnya mas....?" Dina mengerutkan dahinya
"aku ingin memulainya lagi seperti dulu Din..aku masih sangat mencintai kamu" ucap Bimo mengiba, dengan tatapan penuh harap. Seluruh rasa yang ia pendam selama ini, ia tumpahkan semua kepada Dina.
"maaf mas...aku tidak bisa..." ucap Dina tegas
"kenapa Din?" tanya Bimo dengan tatapan sedih
"aku sudah memilik pacar mas..." ucap Dina tegas, akhirnya ia bisa mengatakan apa yang selama ini ingin ia katakan
"siapa Din? Oh...apa yang tempo hari menjemputmu?" tanya Bimo dengan nada marah
"bukan...bukan dia...mas tidak perlu tahu siapa orangnya" ucap Dina masih dengan nada tegas
"lantas siapa Din...? Atau jangan-jangan hanya alasan kamu saja?! Iya kan!" Bimo mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Terlalu banyak yang harus ia korbankan karena Riri.
"kamu tidak mengenalnya, aku tidak mengada-ada, mas juga mengenalku dengan baik bukan? Aku tidak pernah berbohong untuk masalah yang sperti ini!" jawab Dina
"terus kenapa kamu masih mau aku ajak pergi, aku antar jemput? Hah?!"
__ADS_1
"mas yang memaksa, lagipula aku menghargai mas karena sudah bersusah payah menjemput dan mengantarku, membawakanku makanan, itu sebagai ucapan terima kasihku padamu!" terang Dina
"apakah tidak ada lagi kesempatan untukku Din?" Bimo mulai terisak, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga, ia sangat berharap pada Dina.
"kedepannya aku tidak tahu mas, tapi untuk saat ini aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, karena hatiku sudah dimiliki orang lain" ucap Dina lembut
Bimo diam, larut dalam kesedihannya, harapan yang selama ini ia gantungkan, jatuh karena penolakan Dina. Selama ini bisa kembali lagi dengan Dina adalah harapan terbesarnya, dan menjadi motivasi hidupnya.
Dina merasa iba, tapi ia pun tidak bisa berbuat apa-apa, andaikan Bimo berterus terang dari awal pasti tidak akan menyakitkan bagi Bimo. Perlahan Dina menarik bahu Bimo dan membelainya.
"mas Bimo orang baik pasti akan bertemu dengan cewek yang baik juga, jangan bersedih...." ucap Dina sambil membelai bahu Bimo
"kamulah yang terbaik untukku Din..." ucap Bimo sambil menatap Dina yang tersenyum kepadanya.
"ijinkan aku memperbaiki semua ya Din...kamulah semangatku selama ini" ucap Bimo menatap Dina penuh harap
"aku tidak bisa memberikan harapan yang lebih pada mas, hanya persahabatan yang bisa aku berikan pada mas" jawab Dina dengan senyuman.
"apapun itu asalkan aku masih bisa dekat denganmu, aku akan terima, jangan melarangku untuk perhatian kepadamu" ucap Bimo penuh harap
"iya...mas..." jawab Dina dengan senyuman.
Hatinya tersentuh, melihat Bimo begitu rapuh, tapi Dina lega, mungkin kalau dulu Bimo tidak memutuskannya tanpa alasan mungkin ia akan menghadapi permasalahan yang rumit dalam hubungannya denga Bimo.
.
.
B e r s a m b u n g
.
.
jangan lupa ritualnya ya bestie...
Ditunggu kiriman kopi atau bunganya
Mampir juga di novel keduakua ya 'JADIKAN AKU PACARMU'
Terima kasih sekebon bestie..
.
__ADS_1