
Bimo pun juga ikut berdiri, dan menghapus air matanya. Kemudian ia memakai kaca mata hitamnya yang tadi ia bawa. Sebenarnya Bimo ingin mengajak jalan-jalan Din, tapi saat menunggu Dina ia teringat dengan semua kenangannya bersama Dina dan itu membuatnya sesak.
Bimo menggandeng tangan Dina, tidak ada penolakan dari Dina. Tidak banyak yang melihat kebersamaan mereka, karena jam kuliah berikutnya telah dimulai.
"mas sudah makan?" tanya Dina datar
"belum..." jawab Bimo singkat "aku ingin mengajakmu jalan-jalan" lanjutnya
"kita makan dulu, aku tidak mau jalan-jalan jika kondisi mas masih seperti ini"ucap Dina dengan tatapan datarnya
Bimo menganggukkan kepalanya, ia menyalakan motornya dan menyuruh Dina naik ke boncengannya. Mereka telah sampai di sebuah warung kecil yang terlihat begitu ramai.
"ayo kita makan dulu..." Bimo mematikan mesin motornya
"ramai mas...dibungkus saja ya...aku malas jika harus makan berdesak-desakan seperti itu" ucap Dina sambil melihat ke dalam warung
"baiklah...kamu tunggu di sini" ucap Bimo dengan nada lesu
Bimo masuk ke dalam warung itu dan Dina menunggu di luar. Dari dulu Dina tidak suka jika harus makan di tempat yang ramai. Ia merasa jijik jika harus berhimpitan dengan orang lain untuk makan.
Sepuluh menit kemudian Bimo keluar dari warung tersebut. "kita ke kosku saja ya, lebih dekat" ucap Bimo dengan senyum tipisnya. Dina menganggukkan kepalanya kemudian ia naik ke boncengan Bimo.
Hanya berjarak kurang dari lima puluh meter mereka telah sampai di kos Bimo.
"ayo masuk...tidak ada siapa-siapa di dalam" ucap Bimo sambil mengunci motornya
Dina mengikuti Bimo dari belakang masuk ke dalam kamar kosnya. Bimo membuka kamarnya, Dina terkejut kamar Bimo begitu berantakan, padahal yang ia tahu Bimo itu cowok yang rapi.
"terserah kamu mau duduk di mana, singkirkan barang-barang yang mengganggu kamu" ucap Bimo sambil membuka jendela kamarnya
Dina meletakkan tasnya, dan mulai membereskan barang-barang Bimo yang berantakan. Dina merapikan semuanya, Bimo terkesima melihat apa yang dilakukan oleh Dina.
"ini baju-baju kotor semua?" tanya Dina sambil melihat gantungan yang ada di balik pintu belum lagi baju kotor yang menumpuk di belakang pintu
"eh...jangan dipegang!" Bimo menarik Dina dari belakang pintu, karena tidak siap Dina tertarik ke arah Bimo dan mereka berdua jatuh di atas kasur Bimo dengan posisi Dina di atas Bimo
Bimo tersenyum tipis menatap Dina, Dina segera bangkit dari atas tubuh Bimo. Bimo bangun dan duduk di atas kasurnya dengan tersenyum menatap Dina yang salah tingkah.
"maaf...aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, hanya saja di tumpukan pakaian kotor itu ada pakaian dalamku" ucap Bimo tersenyum tipis
"kalau tidak sempat mencuci, lebih baik laundry saja mas...! Jadi sarang nyamuk!" ucap Dina kesal
__ADS_1
"iya..." Bimo bangkit mengambil tas besar kemudian ia memasukkan pakaian kotornya ke dalam tas itu "sebelah kosmu laundry bukan?"
"iya..." jawab Dina datar
"aku laundry di sana saja sekalian nanti mengantar kamu" ucap Bimo menatap Dina
Dina menyapu lantai kamar kos Bimo, setelah terlihat rapi dan lebih bersih Dina duduk di dekat kasur Bimo.
"kalau begini kan mau makan jadi enak... Tidak seperti tadi seperti makan di gudang" cibir Dina
"iya...maaf aku membawamu ke sini hanya untuk membersihkan kamarku" Bimo terkekeh
Dina kemudian membuka bungkusan makanan yang tadi di beli Bimo.
"isinya sama saja, nasi ayam goreng dan cah kangkung tanpa sambal karena masih pagi" terang Bimo yang makanan kesukaan mereka sama
"masih ingat?!" Dina mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut
"masih...semuanya masih aku ingat!" jawab Bimo juga sambil menyuapkan makanannya ke mulutnya
Bimo teringat, belum menyediakan minum untuknya dan Dina. Dia berjalan keluar kamar tak lama ia kembali membawa dua gelas air putih.
"maaf hanya ada air putih.." Bimo meletakkan gelas di meja belajarnya
Bimo tersenyum menatap Dina, ia benar-benar masih menyayangi Dina. Ia tidak bisa begitu saja merelakan Dina dekat dengan orang lain.
"memang pacarmu tidak marah kamu pergi denganku seperti ini?" tanya Bimo
"hmmm....kalau dia tahu ya pasti marah...!" jawab Dina datar
"berarti kamu berbohong kepadanya...sampai ia tidak tahu kamu pergi denganku" pancing Bimo yang masih penasaran akan kejujuran Dina
"aku tidak pernah berbohong kepada pacarku!" jawab Dina masih sambil mengunyah makanannya
"jadi....kenapa ia sampai tidak tahu?"
"pacarku tidak berada di sini mas..." jawab Dina menatap Bimo yang dari tadi bertanya terus
"oh...berarti LDR ya...." ucap Bimo dengan senyum smirknya
"hah...?" Dina mengerutkan dahinya
__ADS_1
"sudah...habiskan makananmu, setelah itu kita jalan-jalan terserah kamu mau kemana, aku akan mengantarmu" Bimo menyuapkan kembali makanannya
"aku sudah menghabiskan makananku mas...makanan mas yang masih utuh" cibir Dina
"ah...iya..." Bimo terkekeh
Dina membereskan bungkus makanannya kemudian meminum air yang telah diambilkan oleh Bimo.
"memang mas sibuk sekali ya...sampai-sampai kamar berantakan seperti ini?!" tanya Dina sambil menyandarkan tubuhnya di dinding kamar Bimo
Dina memperhatikan kamar Bimo, ia melihat banyak sekali foto-foto dirinya entah kapan Dina tidak mengetahuinya. Juga ada foto mereka berdua waktu SMA.
Kemudian Dina berdiri memperhatikan lebih dekat lagi foto-foto dirinya yang tertempel di dinding kamar Bimo. Dina merasa ada foto-foto waktu ia merayakan kelulusan, dan masih ada foto-foto yang sepertinya diambil saat mereka sudah putus. Dan ada foto baru yang Dina tahu betul itu diambil saat masa pengenalan kampus.
Bimo menyadari Dina pasti bertanya-tanya dari mana ia bisa mendapat foto-foto itu. "selama ini aku menngawasimu dari jauh, saat aku ada waktu, aku selalu menyempatkan diri untuk menemuimu, tapi aku tidak berani, hanya dari jauh aku bisa menatapmu" jawab Bimo dengan nada sendu
"termasuk saat kamu sakit di rumah sakit, aku ingin sekali menjagamu, tapi saat itu ada mantanmu" terang Bimo "apa dia pacarmu saat ini?" selidik Bimo
"bukan! Bukan dia! Mas tidak mengenalnya" jawab Dina sambil berdiri memperhatikan foto-fotonya.
"hanya foto-foto kamu yang selama ini menemaniku, menjadi penyemangatku, bisa dekat lagi seperti ini benar-benar sebuah keberuntungan untukku"
"foto-foto nenek sihir kenapa tidak ada di sini?" gumam Dina yang masih di dengar oleh Bimo
Bimo tersenyum mendengar gumaman Dina, ia merasa Dina masih merasakan cemburu. Ia tahu siapa yang dimaksud nenek sihir oleh Dina. Terkadang ia mencuri dengar obrolan teman-teman Dina tanpa mereka sadari.
.
.
.
B e r s a m b u n g
.
Jangan lupa ritualnya ya bestie...
Please like, vote dan komennya ya...
Mampir juga di karya 'JADIKAN AKU PACARMU!'
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie