Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 175 Di antara dua pilihan


__ADS_3

Mereka berdua mengobrol tak kenal waktu, tak terasa waktu sudah sore hari. Dina pun pulang ke rumahnya dengan hati yang entah apa yang ia rasakan ia juga bingung.


Dina sedih karena mungkin hasil jerih payah timnya perlahan mulai tak terurus. Dina juga senang melihat Dendy baik-baik saja sudah sehat seperti sedia kala.


Sepulangnya Dina, Dendy masuk ke dalam rumahnya melewati ruang keluarga. Papanya masih duduk-duduk menonton tv.


"Den...!"


"iya pa...."


"sini...papa mau bicara dengan kamu"


Dendy berjalan menghampiri papanya dan duduk di sebelah papanya.


"papa tahu kamu ingin kuliah satu kampus dengan Dina..." ucap papanya Dendy datar


"iya pa..."


"papa mengijinkan kamu kuliah di sana..." papanya Dendy menghela nafasnya "tapi dengan satu syarat..."


"apa pa....?" Dendy mengerutkan dahinya


"kamu harus putus dengan Dina!" ucap papanya Dendy tegas penuh penekanan tak ingin di bantah


Deggg....


"tapi kenapa pa...?!" protes Dendy


"papa tidak suka kamu berdekatan dengan Dina..."


"kenapa pa...? selama ini Dina baik dengan keluarga kita..." protes Dendy tidak terima


"jangan membantah...! Kamu putuskan Dina atau tidak jadi kuliah di sana!" ucap papanya Dendy tegas


"tapi kenapa pa? Ada apa? Selama ini papa baik-baik saja terhadap Dina, kenapa tiba-tiba seperti ini?!" protes Dendy


"jangan membantah!! Pilih Dina atau kuliah kamu!" papanya Dendy benar-benar tak ingin dibantah. Kemudian meninggalkan Dendy sendirian dengan pikiran yang entah tak bisa diyngkapkan dengan kata-kata.


Dendy bingung, ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya ia melampiaskan kekesalannya dengan melempar semua buku-bukunya.

__ADS_1


Ia tak tahu kenapa papanya tiba-tiba bersikap seperti itu, padahal awalnya papanya sangat mendukung hubungan mereka. Bahkan papanya yang lebih sering berinteraksi dengan Dina daripada mamanya.


Dendy tidak tahu harus berbuat apa, di satu sisi ia sangat mencintai Dina, bahkan mereka telah saling berjanji akan saling setia selamanya. Mereka berdua sama-sama telah meyakinkan diri mereka, kelak setelah mereka lulus dan bekerja mereka akan menikah.


Semua rencana, harapan dan cita-cita telah mereka susun. Dina bukannya memaksa Dendy untuk berkomitmen, tapi Dina memang serius menjalani hubungannya dengan Dendy.


Dina telah mengutarakan apa yang ia pikirkan dan inginkan pada Dendy. Ia tidak lagi mencari pacar, tapi ia mencari sandaran hati yang akan ia jadikan teman hidupnya kelak. Dan Dendy menyetujui dan ingin memgabulkan apa yang jadi keinginan Dina.


Meski umur mereka masih tergolong muda, tapi mereka berdua sudah bisa memikirkan apa yang terbaik untuk mereka ke depannya. Bukan karena ambisi dan keinginan sesaat, tapi itu semua sudah mereka pikirkan masak-masak.


Sekarang mereka hanya ingin fokus kuliah, agar cepat selesai dan bisa mewujudkan cita-cita mereka. Mereka saling memberikan semangat satu sama lain.


Tapi apa yang mereka rencanakan dan cita-citakan harus mendapat ujian berat. Dendy dihadapkan dengan dua pilihan, memutuskan Dina tapi bisa berkuliah satu kampus dengan Dina dan bisa menatapnya meskipun dari jauh. Ataukah ia tetap berpacaran dengan Dina dan harus menjalani hubungan jarak jauh lagi.


Dendy bingung tak tahu lagi harus bagaimana, kedua pilihan itu tak ada yang baik, semua sama-sama ada resiko yang harus ia tanggung. Dan keduanya sama-sama berat baginya.


Dendy lelah berpikir sendirian, ia mengambil kunci motornya dan pergi dari rumah tanpa pamit. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi ke rumah Dodi, saat ini teman yang bisa ia ajak bicara hanyalah Dodi, karena Dodi lah satu-satunya teman yang paling bijak diantara teman-temannya yang lain.


"Dod...." Dendy turun dari motornya dan berjalan menghampiri Dodi yang baru saja turun dari mobilnya


"tumben jam segini ke sini..." Dodi menutup pintu mobilnya


"aku sedang pusing...kepalaku rasanya mau pecah..." Dodi duduk di teras disusul oleh Dendy


"bukan...aku dan dia baik-baik saja..." ucap Dendy lesu


"lantas....?" Dodi mengerutkan keningnya


"papaku memyuruh aku memutuskan Dina..." ucap Dendy mengambil sebatang rokok kemudian menyalakannya


"alasannya...?" Dodi menghisap rokoknya


"aku tidak tahu Dod...." ucap Dendy frustasi


"kalau tidak beralasan ya lebih baik kamu tanya lagi apa alasannya..." ucap Dodi


"aku diberi dua pilihan....aku putus dengan Dina tapi boleh kuliah di kampusmu atau aku tetap bersama Dina tapi aku hanya boleh kuliah di kota ini" ucap Dendy frustasi


Mereka berdua terdiam, hanya kepulan asap rokok yang bersahut-sahutan yang keluar dari mulut mereka. Dendy tidak tahu harus memilih jalan yang mana.

__ADS_1


"terus rencana kamu apa?" tanya Dodi sambil menghembuskan asap rokoknya


"kamu tahu aku ingin kuliah di kampusmu agar aku bisa dekat dengan Dina, jadi untuk apa aku memutuskannya"


"berat juga ya... Bagaimana kalau kamu pura-pura sudah putus dengan Dina agar papamu setuju kamu kuliah di kampusku?" saran Dodi


"kalau ketahuan bagaimana?" tanya Dendy ragu


"kamu harus cerita masalah ini dengan Dina... Den..."


"tidak mungkin aku menceritakannya Dod... Dina sudah berharap banyak padaku, bahkan kami sudah berjanji setelah lulus dan bekerja kelak kami akan menikah" ucap Dendy serius


"masih SMA saja sudah medencanakan menikah" cibir Dodi


"apa salahnya punya tujuan, daripada kamu setia...setiap tikungan ada" Dendy ganti mencibir Dodi


"aku tidak tahu harus memberikan saran apa-apa padamu, kamu lihat sisi positif dari kedua pilihan yang diberikan papamu, mana yang lwbih baik..." ucap Dodi


"kalau aku kuliah di tempatmu, meski aku tidak bersma Dina lagi setidaknya aku masih bisa dekat dengannya, jika aku rindu aku bisa ke tempatnya setiap saat, tapi kalau aku kuliah di kota ini, Dina yang harus bolak- balik pulang untuk bisa bertemu, tapi aku masih tetap bersamanya" terang Dendy dengan nada sendu


"dan harus kamu pikirkan, sampai kapan Dina akan bisa bertahan sering pulang pergi seperti sekarang, sedangkan yang aku tahu, aku sering melihat Dina diantar jemput oleh cowok ketika kuliah" Dodi akhirnya menceritakan apa yang selama ini ia tutup-tutupi dari Dendy


"hah....? Serius kamu? Dina punya pacar lagi?" Dendy kaget sekaligus emosi


"kalau pacaran aku tidak tahu, tapi dari yang aku lihat sikap dan sorot mata Dina terhadap cowok itu biasa-biasa saja, tidak seperti waktu kalau aku menceritakan tentang kamu kepadanya" ucap Dodi sambil mengambil sebatang rokok lagi


"Dina selingkuh?" Dendy sedih


"belum tentu Den...sepertinya cowok itu yang sengaja mendekati Dina, kalau dia selingkuh buat apa setiap minggu dia pulang menemui kamu" cibir Dodi


Dendy memikirkan perkataan Dodi, pikirannya semakin kacau, yang ia takutkan akhirnya terjadi, hubungan jarak jauh selalu banyak godaannya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya bestie... Jangan lupa mampir di karya 'JADIKAN AKU PACARMU'


Lope...lope...sekebon bestie...


__ADS_2