Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Bab 152 Sehari bersama Bimo (2)


__ADS_3

Dina mencari keberadaan jaket dan sepatunya, Dia melihatnya tertata rapi di dekat pintu kamar Bimo.


"yang melepas jaketku siapa?" Dina menatap penuh tanda tanya pada Bimo


"aku...agar kamu tidur dengan nyaman" jawab Bimo beranjak dari tidurnya


Terdengar lagi suara-suara aneh dari kamar sebelah Bimo "suara apa itu mas..?" Dina bingung, dengan secepat kilat Bimo menutup kedua telinga Dina agar tidak mendengar suara-suara dari kamar teman sebelahnya


"whooiii.....Dit...jangan berisik!!" teriak Bimo


"suara apa sih mas?" Dina melepaskan kedua tangan Bimo dari telinganya


"itu...sebelah...anu...hmmm...." Bimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Telinga Dina sangatlah peka, ia masih mendengar suara ******* dari kamar sebelah meski tidak begitu kencang


"mas Bimo juga pernah?" selidik Dina


"pernah apa Din?" tanya Bimo sok polos


"seperti yang di sebelah..." tanya Dina dengan wajah datar Bimo masih berpura-pura tidak tahu apa yang diucapkan oleh Dina "aku tahu mas itu suara apa!"


"hmm...hehehe...hmmm...." Bimo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Dina membulatkan matanya, jika sudah melihat mata Dina yang membulat seperti itu nyali Bimo selalu menciut "iya...pernah...sekali..."


"oh...pasti dengan nenek sihir ya...katanya tidak suka tidak cinta kok pernah?" ucap Dinaa dengan wajah judesnya


"dia yang mulai Din, dia yang memaksa...saat itu aku juga baru pulang dari club beramai-ramai semua dalam kondisi terpengaruh alkohol" ucap Bimo jujur


"jadi mas dapat perawannya dong..." cibir Dina


"eh...tidak...aku bukan yang pertama bagi dia, dia sudah sering begituan" ucap Bimo dengan wajah ketakutan "tapi dia yang pertama bagiku" ucap Bimo lirih


"pasti enak ya mas..." ucap Dina dengan senyum smirknya


"kucing dikasih ikan asin di depan mata ya pasti dimakan Din...lagipula saat itu yang aku lihat bukan wajahnya tapi wajahmu yang berada di bawahku" Bimo masih takut-takut mengakui


"kenapa wajahku?!" Dina tersinggung


"karena aku begitu mencintai kamu Din, yang aku ingat hanya kamu" Bimo mengiba di depan Dina


"pasti sekarang mas ingin mengulanginya kan...ada aku di dalam kamar mas yang terkunci ini iya kan?!" Bimo menggeleng "jujur mas..!" Bimo kemudian ia mengangguk


"ingat selalu batasan mas...! aku membiarkan mas memeluk aku bukan berarti aku mengijinkan mas berbuat lebih!"


"aku bahkan belum pernah sekalipun berciuman!" ucap Dina yang ia tidak tahu jika Bimo sudah menciumnya berkali-kali


Bimo bersorak dalam hatinya, ia beranggapan dirinyalah yang pertama bisa mencium bibir Dina, ia yang sudah berhasil menikmati bibir Dina di kala ia tidur.


"iya Din...aku akan ingat itu selalu" ucap Bimo ketakutan, seperti kerbau dicucuk hidungnya. Bimo memang selalu takut jika Dina sudah berkata dengan nada tinggi, selama ini hanya Dina lah yang ia takuti.

__ADS_1


Dina melirik ke arah jam yang terletak di meja belajar Bimo.


"ini jam berapa mas?" tanya Dina


"baru jam tiga lebih sedikit" jawab Bimo melihat ke arah jam yang amat sangat kecil di meja belajarnya.


Tiba-tiba perut Dina berbunyi, ia merasa malu tiba-tiba merasa lapar. Bimo tersenyum mendengar suara yang terdengar dari perut Dina.


"kamu lapar? Biasa jam-jam segini ada mie ayam lewat depan kos" ucap Bimo tersenyum teduh


Bimo beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya, ia melihat ke arah depan kosnya, ternyata mie ayam yang ia tunggu sudah berada di depan kosnya.


Bimo berjalan keluar dan menghampiri penjual mie ayam, kemudian ia memesan untuk mereka berdua. Bimo kembali ke dalam kamarnya ia melihat Dina yang kembali memperhatikan foto-foto yang menempel di dinding kamar Dina.


"kamu imut ya...waktu SMA..." ucap Bimo lembut


"aduh...foto-foto ini kenapa harus dipajang sih mas...aku malu..."


"biar semua orang tahu hatiku sudah ada yang memiliki"


"tapi kenapa foto nenek lampir tidak ada di sini mas? Kan tunangan mas waktu itu?"


"buat apa? sebenarnya kami belum bertunangan, dan karena kejadian malam itu dia bisa seenaknya mengendalikan aku, dia berbuat sesuka hatinya terhadapku"


"dia menuduhku sudah memperawaninya, waktu itu aku masih belum tahu betul tentang dia, aku takut kedua orang tuaku marah besar terhadapku makanya aku diam saja"


"terus kenapa mas bilang dia sudah sering begituan?" Dina membalik tubuhnya menghadap Bimo


"ternyata dia itu mantannya waktu SMA dan dia dengan percaya diri menceritakan kehebatan Riri di ranjang, setelah mendengar itu aku jadi merasa jijik dengan diriku sendiri"


"kenapa?" Dina mengerutkan dahinya


"mas...! mie nya mau ditaruh di mana?!" teriak penjual mie dari luar


"itu mie nya sudah datang, mau makan dimana?" tanya Bimo lembut


"di luar saja mas..." ucap Dina


"taruh di meja luar saja pak!" teriak Bimo, kemudian Bimo keluar dari kamar dan diikuti Dina. Saat Dina keluar dari kamar Bimo pintu kamar sebelah Bimo terbuka, dan tampaklah seorang cowok yang menatap Dina dengan tatapan menggoda.


Dina buru-buru keluar dan duduk di meja teras kos Bimo. Bimo menggeser mangkok mie ke hadapan Dina.


"yang kamar sebelah mas itu siapa?" tanya Dina


"yang mana?" Bimo menatap Dina heran


"yang berkumis tipis itu yang rambutnya sedikit ikal" tanya Dina


"oh...itu Dodit yang tadi berisik" Bimo terkekeh "itu mantannya Riri kenapa kamu menyukainya?"

__ADS_1


"ih...amit-amit jangan sampai!" Dina bergidik


"memangnya kenapa? Dia orangnya baik kok" Bimo memperhatikan Dina


"tampangnya mesum begitu...mending mas kemana-mana" ucap Dina dengan wajah judesnya


Bimo tergelak mendengar ucapan Dina, bisa-bisanya menyebut Dodit mesum, memang iya level mesumnya paling tinggi di kosnya itu.


Dina makan dengan lahap, ia sangat lapar, tenaganya terkuras habis untuk jalan-jalan tadi di pusat perbelanjaan.


"masih mau jalan-jalan lagi?" tanya Bimo sambil mengunyah makanan


"iya masih...mumpung ada yang berbaik hati menemani" jawab Dina sambil tersenyum menatap Bimo


"setelah ini aku mandi dulu, setelah itu aku antar kamu pulang untuk mandi" ucap Bimo seperti biasa tegas tidak mau ada penolakan dari siapapun. Dina mengangguk kemudian ia menghabiskan makanannya.


"sebaiknya kamu di dalam kamar saja, daripada digoda oleh Dodit" ucap Bimo dengan nada tidak suka


Dina mengikuti Bimo masuk ke dalam kamar kosnya. Bimo masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dina menunggu sambil membaca buku-buku kuliah yang ada di meja Bimo.


Dua puluh menit menunggu, Bimo keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dengan rambut yang masih basah. Dina terkesima menatap Bimo, baru kali ini ia melihat Bimo seperti itu, badan yang bagus dan tegap dengan wajah yang lumayan tampan dan berwibawa siapa yang tidak tertarik dengannya.


Tapi bagi Dina, yang penting ia nyaman, bukan karena apa yang ia miliki atau ada pada diri cowok itu. Dengan Bimo ia sudah terlanjur terluka, meski ada alasan di balik itu semua, tapi tidak mudah bagi Dina untuk menerima kembali Bimo.


Berbeda dengan Dendy, entah kenapa ia selalu bisa memaafkan dan menerima Dendy lagi meski berungkali dia melakukan kesalahan. Dendy tidak setampan Bimo tapi ada sesuatu dalam diri Dendy yang selalu membuatnya nyaman.


"jangan menatapku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta padaku dan tidak mau lepas dariku lagi" ucap Bimo sambil memakai kaosnya. Dina memalingkan wajahnya, ia malu karena ketahuan memperhatikan Bimo.


"ayo...aku antar kamu pulang...mandi...dandan yang cantik.." Bimo mengambil jaket Dina dan memberikannya ke Dina


Bimo mengantar Dina ke kosnya, ia menunggu Dina di luar. Ia tidak mau kejadian di kos terulang lagi, ia tidak mau Dina membencinya. Setengah jam berlalu Dina sudah tampak rapi dan keluar dari kamar kosnya.


"semakin cantik saja" gumam Bimo yang masih didengar Dina


"ayo mas...nanti keburu malam, aku takut ketiduran lagi dan berakhir di kosmu yang horor itu" Dina terkekeh


Bimo mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, ia begitu bahagia satu hari ini bisa menghabiskan waktu bersama Dina. Dia juga lega sudah menceritakan semuanya. Ia lega Dina mengetahui segala kesalahan yang pernah ia lakukan.


Ia bersyukur Dina tidak marah dengan semua pengakuannya. Dina bisa membedakan mana kesalahan yang ia sengaja dan tidak. Dia beruntung pernah memilik Dina di hidupnya. Ia bertekat akan merebut hati Dina perlahan.


.


.


B e r s a m b u n g


.


Hari ini 4 bab sudah meluncur ya bestie...ditunggu vote, like dan komennya ya, ditunggu juga kiriman kopi sama bunganya ya...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya 'JADIKAN AKU PACARMU'


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2