Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 91


__ADS_3

Setelah obrolan ringan mereka diselingi makan bakso selesai, mereka lantas membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing karena sudah terlalu sore.


Dina pulang dengan diantar Widi karena dia jugalah yang jemput Dina. Widi mengendarai motornya sedikit agak kencang karena ia tahu Dina tidak boleh pulang terlalu sore.


Sesampainya di rumah Dina hendak masuk ke dalam rumah, langkahnya terhenti karena mendengar suara motor masuk ke halamannya. Dina menoleh ke arah pagar dan ternyata Dendy bersama Krisna yang datang.


Dina yang masih belum melepaskan helmnya berdiri di dekat teras rumahnya menunggu Dendy memarkirkan motornya. Setelah memarkirkan motornya Dendy berjalan mendekati Dina yang masih berdiri mematung dengan wajah datarnya.


"Din..." Dendy berjalan mendekat ke arah Dina.


Dina diam tak bergeming, dia ingin tahu mau apa Dendy datang sesore itu ke rumah Dina.


"kamu dari mana?" tanya Dendy dengan tatapan teduhnya


"jalan-jalan dengan Widi" ucap Dina datar


Dendy merasakan dadanya panas, sesak bagaikan dihantam palu panas mendengar Dina berkata demikian.


"jalan-jalan kemana Din?" Dendy berusaha menguasai dirinya tidak terpancing emosi, karena ia sadar yang membuat Dina bersikap acuh adalah Dirinya.


"bukan urusan kamu" ucap Dina "sekarang lebih baik kamu pulang ini sudah petang" Dina berpaling dang hendak berjalan masuk ke dalam rumah namun langkahnya tertahan


"Din...bisakah kita bicara sebentar?" Dendy meraih tangan Dina


"pulanglah sudah petang, aku mau istirahat" ucap Dina datar tanpa menoleh ke arah Dendy "aku ingin mengistirahatkan hati dan pikiranku" ucap Dina dalam hatinya.


"baiklah aku pulang.... Besok aku ke sini lagi, aku mau bicara dengan kamu" Dendy membalikkan badannya dan berjalan ke arah motornya terparkir.


Dina tidak mempedulikan Dendy dan Krisna, ia berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Sebenarnya dalam hatinya ia ingin sekali bertemu dan bicara dangan Dendy, tapi egonya menyuruh dia untuk sementara waktu mengabaikannya.


"Dina marah?" tanya Krisna melihat Dendy yang berjalan ke arahnya dengn raut wajah yang berubah menjadi lebih sendu diabnding dengan sebelum mereka berangkat tadi


"sepertinya marah besar, sampai dia mengusir aku" ucap Dendy tertunduk lesu


"kamu memang pantas mendapat perlakuan seperti itu" ledek Krisna


"apa kamu bilang?!" Dendy melebarkan matanya


"kalau aku jadi Dina juga pasti akan marah, punya pacar tidak peka, sudah tahu salah bukannya datang untuk menjelaskan malah diam saja" Krisna mencibir

__ADS_1


"ayo pulang, sudah diusir kok masih ada di sini" Krisna mengajak Dendy pulang. Dengan berat hati Dendy meninggalkan rumah Dendy. Ia tidak mengira Dina akan semarah itu terhadapnya. Ia berharap besok ketika ia datang menemuinya sikap Dina jauh lebih baik.


Dalam perjalanan ia sibuk memikirkan bagaimana cara memperbaiki hubungannya dengan Dina. Seumur-umur baru kali ini ia menghadapi kemarahan cewek yang begitu lama.


.


.


Keesokan harinya sepulang sekolah ia langsung mengendarai motornya ke rumah Dina. Ia berharap Dina mau menemuinya, mau berbicara dengannya, syukur-syukur memaafkannya dan mereka bisa bersama seperti dulu lagi.


Sesampainya di rumah Dina, tampak sepi pintu samping rumah 'pun tertutup rapat tidak biasanya seperti itu, setiap hari pintu samping selali terbuka


Dendy memberanikan diri mengetuk pintu samping rumah. Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Benar-benar sepi tak berpenghuni rumahnya Dina. Akhirnya Dendy memutuskan untuk pulang dan akan kembali besok pagi karena kebetulan hari minggu, biasa Dina tidak pergi kemana-mana.


Dengan langkah gontai Dendy berjalan ke arah motornya terparkir. Ia menyalakan mesinnya dengan setengah hati masih berharap tiba-tiba Dina membuka pintu untuknya. Tapi semua itu hanya angan-angan nyatanya rumah Dina benar-benar sepi.


Dendy pulang dengan tangan hampa, merasa sebegitu sulitnya ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Dina, tidak semudah dulu waktu ia mengejarnya.


.


.


Dendy membersihkan motornya, dia menyapu rumah dan halaman, mamanya pulang dari pasar sampai kaget melihat rumah sudah dalam keadaan bersih.


Pukul delapan Dendy memutuskan untuk mandi. Setelah mandi Dendy memakai baju terbaiknya, dan setelah selesai ia bergegas menyalakan mesin motornya dan melajukannya ke rumah Dina. Dalam perjalanan ia berharap Dina ada di rumah dan tidak sedang keluar atau pergi ke tempat lain.


Harapan dendy terkabul, ketika sampai di rumah Dendy ia melihat adik-adik Dina sedang bermain di halaman bersama teman-temannya. Dia berpikir berarti Dina ada di rumah karena rumah dalam keaadaan ramai.


Setelah memarkirkan motornya di pinggir dekat pagar rumah Dina, ia berjalan menghampiri adiknya Dina dan menanyakan apakah Dina ada di rumah, senyumnya terkembang ketika adiknya menjawab jika Dina ada di rumah.


Dendy duduk di teras rumah Dina sambil menunggu adiknya Dina memanggil kakaknya. Akhirnya yang ia nanti-nantikan menjadi kenyataan Dina menemuinya.


"Din..." Dendy beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Dina yang berjalan ke arahnya.


"duduk saja Den..." ucap Dina datar


"aku kemarin pulang sekolah ke sini tapi rumah sepi" ucap Dendy menatap Dina dengan penuh damba


"oh...itu aku ada di studio " ucap Dina datar

__ADS_1


"Dina...aku ingin bicara sesuatu denganmu tapi tidak di sini" ucap Dendy menjadi sendu


"terus mau bicara dimana Den?" tanya Dina menautkan kedua alisnya


"aku mau ajak kamu ke suatu tempat tapi agak jauh dari sini" ucap Dendy menatap Dina berharap Dina mengiyakan ajakannya


"baiklah...tunggu sebentar aaku ganti baju dulu" Dina beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah


Tidak butuh waktu lama Dina sudah keluar dari rumah memakai jaket dan membawa helmnya.


"yuk Den... " ucap Dina


"ah..iya Dina..ayo..." Dendy mendadak gugup


Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat dimana motor Dendy terparkir. Dendy segera menyalakan mesin motornya dan menyuruh Dina naik ke boncengannya. Dina naik ke boncengannya Dendy, ia masih ragu untuk memeluk Dendy. Dendy pun tidak meminta Dina untuk berpegangan padanya karena ia takut Dina akan marah.


Selama perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka. Sebenarnya Dina tidak begitu marah kepada Dendy, tapi ia hanya ingin sedikit memberi jarak antara dia dan Dendy agar Dendy sadar akan perbuatannya.


Dina merasa rindu yang amat sangat karena sudah lama ia tidak bertemu dengan Dendy, kalau kemarin-kemarin ia membiarkan egonya yang berbicara tapi tidak untuk kali ini. Dina meluapkan rindunya dengan memeluk Dendy erat dari belakang dan menyandarkankan kepalanya di punggung Dendy.


Dendy yang mendapat perlakuan seperti itu terkejut, tapi kemudian ia tersenyum, ternyata ketakutan Dina akan memutuskannya tidak menjadi kenyataan. Perlahan dia mengusap tangan Dina yang memeluk erat pinggangnya sambil tangan kanan memegang kemudi motor.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Yuk bestie dukung terus karya ini ya...


Please like, vote dan komennya ya, terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2