
Di rumah Krisna, Dendy meluapkan segala keluh kesahnya kepada Krisna. Krisna hanya mendengarkan, dan menurut Krisna cerita Dendy itu lucu. Kenapa tidak, punya pacar mandiri malah uring-uringan, harusnya kan senang, karena tidak setiap saat harus menuruti kemauan pacar.
Merasa keluh kesahnya tidak ditanggapi, Dendy pulang dengan perasaan jengkel. Sia-sia ke rumah Krisna kalau hanya mendapat ledekan.
.
.
Tiga hari kemudian, pagi-pagi sekali Dina sudah bangun, karena hari ini dia harus mengembalikan formulir pendaftaran. Dina sudah menyiapkan segala persyaratan yang harus dia lampirkan saat mengembalikan formulir.
Saat ia, membereskan berkas-berkasnya telepon rumahnya berdering. Dina berjalan ke arah meja telepon.
"halo pagi"
^^^☎️ pagi Din^^^
"eh iya ada apa Den?"
^^^☎️hari ini jadi mengembalikan formulir?^^^
"iya jadi"
^^^☎️ berangkat jam berapa?^^^
"jam setengah delapan"
^^^☎️oke aku jemput sebentar lagi^^^
"tapi Den..."
Tut...tut...tut...
Belum selesai Dina bicara, telepon sudah ditutup oleh Dendy. Dina kesal dia belum selesai bicara telepon sudah ditutup oleh Dendy. Dina hanya bisa mengumpat dalam hatinya.
Dina bergegas mandi, walaupun ia sedang kesal dengan Dendy, tapi ia tidak mau Dendy terlalu lama menunggunya. Setelah selesai mandi Dina segera bersiap-siap, kemudian ia sarapan.
Dendy sudah sampai di rumah Dina, keadaan rumah sudah agak sepi karena adik-adik Dina sudah berangkat sekolah. Dendy memarkirkan motornya di halaman rumah Dina.
Dendy berjalan ke pintu samping rumah, bertepatan papanya Dina yang sepertinya hendak berangkat kerja.
"cari siapa?" tanya papanya Dina
"Dina ada om?" tanya Dendy sopan
"tunggu sebentar, tadi Dina sudah siap-siap paling sebentar lagi keluar" ucap papanya Dina sambil memanasi mesin motornya
Dendy duduk di teras, menunggu Dina keluar dari rumahnya. Ia yakin kalau Dina tadi mendengar suara motornya, dan pasti sebentar lagi akan keluar rumah. Dendy merasa canggung, karena papanya Dina hanya diam dan berwajah datar.
Papanya Dina kembali masuk ke dalam rumah, tinggalah Dendy sendiri di teras. Dendy bisa bernafas lega, sedari tadi ia merasa gugup, takut kalau ditanya macaam-macam oleh papanya Dina.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dina sudah keluar rumah, sudah siap dengan helm, jaket serta tasnya.
"sekolah kamu bagaimana?" tanya Dina menghampiri Dendy yang duduk di teras
"tadi aku sudaj ijin" ucap Dendy
"mama bagaimana?"
"aku enggak bilang mama" ucap Dendy memaksakan senyum menampilkan gigi-giginya
"sudah aku bilang, aku bisa berangkat sendiri, kenapa kamu harus bolos sekolah?!" ucap Dina menahan kesal "padahal aku sudah janji dengan Ani" Dina menghela nafasnya kasar
"urusan Ani sudah beres, nanti juga ketemu di sana" ucap Dendy
"aduh...aku tidak mau kena masalah gara-gara kamu bolos ya...!" ucap Dina sambil memakai helmnya
"asal kamu tidak bilang ke siapa-siapa tidak akan ada yang tahu" ucap Dendy beranjak dari tempat duduknya
"ayo berangkat, jadwalku jam sembilan nanti" Dina berjalan ke arah motornya Dendy yang terparkir di halaman
"iya...iya..." Dendy mengikuti Dina, dia tahu kalau Dina sedang kesal sebisa mungkin ia mengalah daripada Dina marah
Mereka berdua berangkat ke lokasi pengembalian formulir, masih di kampus yang sama waktu pengambilan formulir hanya beda gedung saja.
Setelah setengah jam berkendara, mereka telah tiba di tempat pengembalian formulir. Setelah memarkirkan motornya Dendy menggandeng Dina berjalan keluar area tempat parkir.
"tempatnya dimana Yang?" tanya Dendy tanpa melepas genggamannya
"biar tidak ada yang melirik pacarku yang cantik ini " jawab Dendy dengan menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"oh...jadi memaksa aku biar mau diantar sama kamu itu gara-gara takut aku melirik cowok lain begitu?" Dina mencebik
"tidak ada salahnya 'kan aku menjaga pacarku yang cantik ini dari godaan cowok-cowok usil" Dendy terkekeh
"berarti kamu tidak percaya aku!" Dina menghempaskan gengaman tangannya dan berjalan meninggalkan Dendy
"yah...marah" gerutu Dendy " Din...Dina...." Dendy berlari mengejar Dina yang sudah jauh meninggalkan dirinya.
"jangan cepat-cepat jalannya" ucap Dendy, tapi tak dihiraukan Dina
Dina berjalan cepat meninggalkan Dendy karena merasa kesal dan jengkel. Tiba-tina langkah Dina terhenti, hanya jarak beberapa langkah di depannya, ada cowok yang selama ini ia hindari. Ada Toni yang sedang mengobrol dengan Roy.
Toni menyadari bahwa Dina ada di belakangnya, dia menoleh ke arah Dina dengan senyum mengembang. Toni menghampiri Dina yang berhenti mematung menatapnya.
"hai Din...kamu sendirian?" tanya Toni berjalan mendekati Dina
"tidak Ton" jawab Dina datar "eh..kamu lihat Ani tidak? Aku kehilangan jejaknya" Dina mencoba mengalihkan pembicaraan
"tadi aku lihat di depan pintu auditorium" jawab Toni
__ADS_1
"ya sudah aku ke Ani dulu" Dina bergegas meninggalkan Toni. Dina tidak mau kalau harus ribut dengan Dendy hanya karena ia berbicara dengan Toni. Dina merasa Dendy sekarang sedang posesif terhadapnya.
"Dina...tunggu!" Dendy mengejar Dina dan melewati Toni yang menatapnya dengan sinis. Toni tahu, kalau Dina berpacaran dengan Dendy.
Dina berhenti dan membalikkan badannya "apa sih Den...tidak usah teriak aku juga sudah dengar?"
Dendy tidak menjawab ucapan Dina, dia menarik tangan Dina dan menggandengnya.
Mereka berjalan ke arah pintu auditorium, di sana sudah ada Gilang dan Ani yang menunggu mereka.
"kok kamu tahu Ani ada di dekat pintu masuk?" tanya Dina
"sudah diam saja, aku hanya ingin memastikan kamu sampai di sini dengan selamat" ucap Dendy datar
"kenapa kamu yang marah" Dina makin kesal
"mbak Ani, ini Dina sudah aku antar dengan selamat" ucap Dendy
"iya...selamat dari godaan cowok-cowok ya?" Ani terkekeh
"kalian ini apa-apaan sih?" Dina menggerutu "kamu juga Lang, memangnya kamu mengembalikan formulir juga hari ini?"
"iya jadwalku jam sepuluh" jawab Gilang
"kamu jam sembilan kan? Sana masuk duluan daripada nanti berebut masuknya" ucap Gilang
"iya aku masuk duluan ya, kamu enggak masuk An?"
"jadwalku kan jam setengah sepuluh Din"
"oh...ya sudah aku masuk duluan, titip anak yang pakai seragam ini ya, takutnya kesasar" Dina tergelak sambil berlari meninggalkan mereka bertiga
"Dina kenapa Den?" tanya Ani
"entah mbak, aku juga tidak tahu, tiba-tiba marah dan jalannya cepat" jawab Dendy.
Sebenarnya Dendy sedang menahan marah dan rasa cemburunya. Karena dia melihat Dina sedang mengobrol dengan Toni mantan pacar Dina, yang ia tahu Toni masih berusaha mengejar Dina.
Dendy merasa Toni adalah saingan terberatnya. Yang ia tahu sebelum Dina berpacaran dengannya Dina masih memendam rasa kepada Toni. Tapi ia tidak berani bertanya kepada Dina secara langsung. Bahkan ia juga merasa awal hubungannya dengan Dina, ia hanya jadi pelariannya Dina saja.
.
.
.
B E R S A M B U N G
jangan lupa ritualnya ya bestie...
__ADS_1
Please like, komen dan votenya ya
Terima kasih sekebon bestie