Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 191 Bertemu Vanya


__ADS_3

Hari ini Toni merasa Dina tak seperti kemarin, Dina memang sakit, tapi sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Dina. Toni hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya. Ia takut jika dirinya bertanya Dina akan menjauh lagi darinya.


Untuk sementara baginya, Dina mau diantar kembali ke kosnya merupakan sebuah kemajuan yang sangat berarti setahun terakhir ini. Ia tak mau hubungannya dengan Dina yang mulai membaik harus rusak karena egonya seperti dulu.


Dina sebenarnya tak benar-benar tidur, ia hanya memejamkan matanya, pikirannya campur aduk. Meski sekarang di sedang perjalanan kembali ke kosnya, tapi hati dan pikirannya masih berada di kota asalnya.


Dina juga menghindari pembicaraan dengan Toni. Ia terlalu lelah jika sampai muncul konflik baru lagi. Masalahnya dengan Bimo masih belum benar-benar selesai, kini Dendy yang tak datang padahal dirinya pulang hanya untuk Dendy, menjadi tanda tanya besar baginya.


Semakin hari, ia merasa komunikasinya dengan Dendy tak sesering dulu. Terkadang ia maklum karena Dendy harus mempersiapkan ujian akhor sekolahnya. Tapi sesibuk-sibuknya Dendy, ia selalu menyempatkan menelponnya di malam hari.


Dina terhenyak dari lamunannya ketika mendengar Toni bernyanyi pelan bersamaan lagu yang diputar di radio.


Bulan merah jambu luruh di kotamu


Kuayun sendiri langkah langkah sepi


Menikmati angin menabur daun daun


Mencari kembaranmu di waktu lalu


Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi


Tercipta nelangsa merenggut sukma


Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud


Aku tak bisa pindah pindah ke lain hati


Begitu lelah sudah kuharus menepi


Hidup telah ditambatkan berlabuh dipantaimu


Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi


Tercipta nelangsa merenggut sukma oh


Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud


Aku tak bisa pindah pindah ke lain hati (oh oh)


Pindah ke lain hati (oh oh)


Pindah ke lain hati


Sungguh kuakui (tak bisa ke lain hati)


Sungguh kuakui (tak bisa ke lain hati)


Sungguh kuakui (tak bisa ke lain hati)


Mengingatmu mengenangmu


Menggapai paras wajahmu


Sendiri


Oh


Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi

__ADS_1


Tercipta nelangsa merenggut sukma oh


Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud


Aku tak bisa pindah pindah ke lain hati (oh oh)


Pindah ke lain hati (oh oh)


Pindah ke lain hati (oh oh)


Pindah ke lain hati oh oh (oh oh)


Sungguh kuakui tak bisa ke lain hati


Sungguh kuakui tak bisa ke lain hati


Sungguh kuakui tak bisa ke lain hati


(Tak Bisa Ke Lain Hati - Kla Project)


Dina tak membuka matanya, ia masih mendengarkan Toni bersenandung. Ia tak mau Toni berhenti bernyanyi, karena mendengar Toni bernyanyi menjadi hiburan baginya.


Suara Toni termasuk lumayan, masih enak di dengar ketika bernyanyi. Dina pikir Toni bernyanyi untuk menghilangkan sepinya karena mengemudi ke kota J yang jaraknya lumayan jauh dan dengan kepadatan lalu lintas di hari minggu sore.


Tiba-tiba dirinya merasa, mobil yang dikendarai Toni berhenti. Dina memberanikan sedikit membuka matanya.


"sudah bangun?" ucap Toni lembut mentapnya


"hmm....dimanaa ini?" Dina menegakkan tubuhnya


"di kos kakakku" ucap Toni sambil melepaskan sabuk pengamannya "kamu mau ikut turun atau menunggu di sini?" seperti biasa jika dengan Dina ia selalu kembut


"baiklah...aku tidak akan lama" Toni turun dari mobil kemudian mengambil sesuatu di bagian belakang mobilnya.


Tak lama menunggu, Toni terlihat keluar dari sebuah kos cewek yang terlihat mewah bersama seorang cewek cantik, modis dan ia tak tahu itu siapa.


Toni membuka pintu mobil dan masuk kemudian membuka jendelanya.


"sudah ya....besok-besok jangan menyuruhku lagi" ucap Toni kesal


"lhoh...ini siapa? Kenapa tadi enggak ikut masuk?" cewek itu menatap Dina


"ah...enggak penting..." Toni menutup jendelanya sedangkan Dina hanya terpaku dengan sikap Toni yang terlihat sangat berbeda. Terdengar jendela kaca Toni diketuk spertinya cewek itu belum puas dengan jawaban Toni.


"apa lagi sih Nya...?!" ucap Toni kesal


"aku cuma mau tahu kamu ke sini dengan siapa?!" ucap cewek itu kesal


"dengan pacarku, puas kamu!!" Toni semakin kesal, Dina membulatkan matanya mendengar perkataan Toni


"aku bukan pacarnya kak..." Dina menggelengkan kepalanya


"hahahaha..." cewek itu malah tertawa "hati-hati dengan Toni....dia belum jinak" cewek itu semakin keras tertawanya


Dina mengernyit heran, ia semakin bingung siapa cewek tersebut, apa benar itu kakaknya Toni, atau mantan pacar atau pacarnya Toni? Dina hanya takut peristiwa di kampusnya dulu terulang lagi. Ia tak mau dianggap perebut pacar orang.


"sudah...jangan dengarkan dia...! Toni semakin kesal


"baik...nanti aku adukan mama, kamu ke sini bawa pacar" ucap cewek itu. Dina semakin kalang kabut, ia terlihat ketakutan, ia masih begitu trauma dengan peristiwa bersama Riri beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"kamu kenapa Din? Wajah kamu pucat sekali.." Toni panik kemudian memegang dahi Dina, tapi Toni merasa kondisi Dina sudah lebih baik dari yang terakhir ia pegang


"kamu apakan anak orang Ton?" cewek itu kemudian memutari mobil kemudian membuka pintu Dina. Dina semakin panik, wajahnya semakin pucat ia benar-benar takut akan terulang lagi peristiwa yang sama.


"Din...kamu kenapa?" Toni memegang tangan Dina yang terasa sangat dingin, Dina menggeleng


"kamu kenapa? Tadi di jalan kamu diapakan sama Toni?" cewek itu juga ikut panik, Dina diam tak menjawab "ayo ke dalam dulu aku buatkan sesuatu" ajak cewek itu.


"dia itu sedang sakit, mamanya menitipkannya padaku kalau terjadi sesuatu padanya bisa-bisa aku digantung papa" ucap Toni kesal


"ke dokter ya...aku antar di depan ada apotik ada dokter yang praktek juga" ucap cewek itu


"eng...gak usah kak...aku b..baik-baik saja" Dina gugup


"aku Vanya kakaknya si tengil yang ada di sebelahmu itu, kalau kamu kenapa-kenapa aku yang diamuk sama dia" ucap cewek itu


Dina kaget dengan ucapan Vanya, akhirnya ia bisa bernafas lega. Ia tidak merusak hubungan siapapun. "aku kira...hmmm...." Dina sedikit tak enak


"kamu kira aku pacarnya Toni?" Vanya tergelak "aduh...kamu enggak lihat wajah kami ada kemiripan?"


Dina menatap Vanya kemudian menatap Toni "mm...maaf kak...aku tidak pakai kacamata jadi ya...sedikit kabur" Dina menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"sudah...sudah...aku antar kamu sekarang saja, keburu malam..." ucap Toni


"mau diantar kemana? Jangan dibawa ke rumah kamu ya...!" ucap Vanya ketus


"maunya sih begitu Nya..." Toni terkekeh


"awas ya...kuliah yang bener dulu...jangan sampai anak orang hamil" ucap Vanya kesal dengan jawaban Toni


"iya...iya...sudah ah...dia kosnya deket dari sini kok" ucap Toni


"memangnya dia kos dimana?" Vanya menatap Dina


"di belakang kampus A kak" ucap Vanya sopan


"kamu anak kampus A apa kampus P?"


"dia kuliah di kampus A, sudah....sudah...ganggu aku anak muda saja" Toni makin kesal


"iya...iya..." Vanya kesal "main-main ke sini ya...nanti kita bisa belanja-belanja bersama" ucap Vanya dengan senyum mengembang


"iya kak...terima kasih" ucap Dina sopan


Toni mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area kos Vanya "itu tadi kakakku satu-satunya dia kuliah di STIE X semester akhir" ucap Toni yang tau kalau Dina bertanya-tanya dalam hatinya


"kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya Ton?" Dina menatap Toni


"dia dari kelas dua SMA sudah tinggal di kota ini, dia pindah sekolah sebagai bentuk protes pada mama dan papa" ucap Toni tercekat ia tak mau menceritakan yang tidak perlu ia ceritakan pada orang lain.


Dina hanya mengangguk mendengar ucapan Toni. Ia tak mau ambil pusing dengan masalah Toni. Menurutnya itu bukan urusannya, itu masalah keluarga Toni.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2