
Aku kecewa, aku sedih namun semua itu aku tahan, aku tidak ingin Dina tahu. Aku berusaha untuk tenang, seperti selama ini yang Dina tahu. Dina tak perlu tahu bagaimana perasaanku ketika melihatnya dipeluk oleh cowok lain.
"Den...aku ke depan dulu ya...terima kasih sudah datang" tiba-tiba suara lembut Dina membuyarkan lamunanku. Ia masih tetap tersenyum, senyumannya membuat hatiku menghangat, ah...kenapa senyum itu harus dimiliki orang lain.
Aku mengangguk, tanpa mendengar apa yang akan kukatakan, Dina telah berjalan meninggalkan aku dan menghampiri teman-temannya kemudian ia menghilang di tengah kerumunan orang yang datang ke acara wisudanya.
"jangan ganggu Dina lagi, dia sudah menjadi milikku...." lagi-lagi aku terkesiap, suara pacar Dina membuatku tersentak. Ia mengucapkannya dengan pongahnya. Ia menatapku dengan tatapan permusuhan.
"apa kamu yakin cintanya Dina untukmu? Kamu boleh memiliki dia tapi di hatinya tetap masih ada diriku di sana" Entah dari mana keberanian yang aku dapat, aku begitu saja mengucapkannya.
"kau...!" pacar Dina terlihat marah, ia sepertinya tidak terima dengan ucapanku
"sebelum janur kuning melengkung, Dina masih bebas untuk memilih siapa yang pantas untuknya" aku semakin berani mengintimadisnya. Aku tetap bersikap tenang meski dada ini bergemuruh hebat. Selama ini aku selalu menghindar dari perdebatan menghindari masalah, namun kali ini aku seperti tertantang untuk membuat pacar Dina meragukan cinta Dina.
"kamu tunggu saja undangan dari kami" kata-kata itu yang mampu membungkam mulutku. Aku tak bisa berkata-kata apalagi. Apakah benar mereka akan menikah, ataukah hanya bualannya saja agar aku menjauhi Dina.
Dia pun pergi meninggalkan aku yang masih terpaku mencerna kata-katanya. Aku tidak tahu apakah kata-katanya bisa dipercaya. Selama satu tahun belakangan aku seperti kehilang informasi tentang Dina.
Aku tak tahu apa yang terjadi pada Dina. Aku pernah menghabiskan waktu bersama dengan Dina tapi tidak ada tanda-tanda jika ia memilik pacar.
Adi yang biasanya menjadi sumber beritaku juga tak pernah bercerita tentang kehidupan Dina. Dina seolah-olah telah menutup semua sumber beritaku.
Aku bingung, aku tak tahu harus berbuat apa. Pikiranku kacau, ucapan cowok itu terngiang-ngiang di telingaku. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini, aku tidak memakai lift. Aku berjalan menuruni tangga, ketika aku sampai di dekat tangga, aku melihat kedua orang tua Dina, teman-teman Dina, Dina dan juga cowok itu ada di sana.
Hatiku semakin sakit melihat mereka berkumpul di sana. Seharusnya aku yanh berada di sana, bukan cowok itu. Cowok yang telah memberikan trauma besar untuk Dina namun kini cowok itu yang berada di sampingnya.
Aku benar-benar kacau, aku melampiaskan segala perasaanku dengan minuman keras. Teman-teman satu kosku kebingungan yang melihat aku setiap malam selalu mabuk. Kuliahku terbengkalai, aku sudah tak memikirkan lagi diriku ini.
.
__ADS_1
Hampir satu tahun sejak pertemuanku dengan Dina waktu itu, perlahan aku sudah bisa menerima kenyataan itu. Selama itu pula aku tak pernah bertemu dengan Dina. Namun yang kutahu Dina belum meinikah.
Karena ternyata adikku Rio satu kelas dengan adik Dina. Dari adiknya itulah aku tahu jika Dina belum menikah, dan sekarang bekerja menjadi asisten direktur di Wijaya Group di kota kelahiranku.
Aku merasa bangga dengannya, aku merasa semakin tidak pantas bersanding dengannya. Dia telah bekerja sementara aku, masih harus menyelesaikan kuliahku yang entah kapan akan selesai akupun belum tahu.
Hari yang tak diduga sama sekali, ia datang ke rumahku bersama Ani sahabatnya, aku terkejut sekaligus takut dengan kedua orang tuaku. Aku takut papaku akan marah dengan kedatangan Dina.
"Den...apa kabar?" Dina tampak semakin cantik, semakin modis namun sikap cerianya masih sama.
"baik...kamu sendiri bagaimana? Sekarang bekerja dimana?" tanyaku dengan perasaan bahagia karena ia mendatangiku.
"aku sekarang bekerja di Wijaya Group" ucap Dina dengan senyum yang membuat hatiku jatuh cinta lagi kepadanya
"oh...aku kira kamu bekerja di luar kota"
"tumben kamu ke sini, aku kira kamu sudah lupa dengan rumah ini"
"tidak...aku tidak pernah lupa" Dina terkekeh
"aku ambilkan minum ya...kebetulan mama sedang keluar kalau kamu datang pasti dia senang sekali" aku beranjak dari tempat dudukku
"ah...nggak usah repot-repot Den...aku hanya sebentar"
Aku mengerutkan dahiku, aku kembali duduk, perasaanku sedikit tidak enak. Kenapa Dina tiba-tiba mendatangiku dan bilang tidak akan lama.
"aku ingin mengantarkan undangan" Dina mengambil sebuah kartu undangan dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. Bagai tersambar petir di siang hari, aku tak bisa lagi berkata-kata. Kuambil undangan itu, dan aku melihat nama Dina tertera di sana.
"ka...kamu akan menikah?" aku tak bisa lagi menyembunyikan rasa sedihku "dengan siapa?"
__ADS_1
"iya...aku akan menikah dengan Toni" ucapnya sedikit tercekat
"oh...selamat ya....nanti aku usahakan datang" aku memaksakan senyumku, inilah yang selama ini aku takutkan.
"baiklah..a..." bersamaan dengan itu mamaku pulang, ia tampak terkejut melihat kehadiran Dina.
"Dina...apa kabar nak...kamu semakin cantik...kamu sudah lulus" mamaku tiba-tiba menghambur mendekati Dina
"baik tante...aku sudah lulus tahun lalu.. Tante apa kabar" Dina sepertinya merasa canggung namun sebisa mungkin dia menutupinya. Aku mengenalnya ia tidak akan mengecewakan orang yang menyapanya dengan ramah
"kabar tante baik...kamu kemana saja, tante kangen masakan kamu" mamaku benar-benar tak bisa menutupi jika ia mengharapkan Dina menjadi menantunya sayangnya itu tidak mungkin terjadi.
"saya sibuk kuliah, setelah kuliah saya kerja jadi saya jarang bisa main ke sini" Dina melirik ke arahku seolah ia meminta pertolongan. Aku tahu Dina itu tidak tega mengecewakan mamaku.
"kamu bekerja dimana? Kamu pintar pasti dapat pekerjaan yang bagus, tidak seperti Dendy" mamaku melirikku dengan tatapan kesal, aku melihat Dina tersenyum canggung
"di Wijaya Group tante..." Dina tampak semakin canggung "hemm...tante maaf saya pamit pulang dulu masih ada yang harus saya kerjakan" Dina sepertinya takut jika pembicaraan mereka akan semakin membuat mama kecewa.
"kenapa buru-buru.... Dendy saja belum membuatkanmu minum" mama menatapku sengit
"saya...ke sini hanya mengantarkan undangan tante" Dina terlihat semakin canggung, aku bisa melihat dari sorot matanya.
"Undangan....Undangan apa?" mama menatap Dina kemudian menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.
.
.
.
__ADS_1