Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
BONPAR 4


__ADS_3

Sejak pertemuan itu, hatiku semakin tidak tenang. Aku tidak bisa tidur mengingat senyumnya yang begitu menawan. Ingin sekali aku menemuinya namun aku tidak memiliki keberanian.


Semua perasaan ini hanya kusimpan dalam hati. Aku orang yang selalu memikirkan apa saja sebelum bertindak, bahkan terkadang lamban dalam bertindak.


Bahkan dulu ketika aku menyukai Dina, aku terlalu banyak berpikir, terlalu lamban mengambil tindakan dan akhirnya Dinalah yang membuat aku mengutarakan perasaanku.


Aku selalu berpikir, jika memang untukku pada akhirnya itu semua akan kembali padaku. Sampai saat ini aku masih belum memiliki keberanian untuk memperjuangkan perasaanku, padahal kedua orang tuaku sudah tak lagi membahas masalah Dina lagi.


Setelah pertemuan itu aku tak lagi bertemu dengan Dina. Ia seperti hilang ditelan bumi. Bahkan nomor ponselnya pun tidak aktif. Aku benar-bemar merindukannya, aku ingin sekali bertemu dengannya.


Aku pun memberanikan diri untuk datang ke kosnya namun ternyata Dina pulang ke rumahnya. Aku benar-benar sedih, semua angan-anganku hilang begitu saja.


Sebulan berlalu, aku tidak lagi mendengar kabar tentang Dina. Dia bahkan tak pernah terlihat di kampus, terkadang aku sengaja melewati kosnya namun tak ada tanda-tanda ia berada di kosnya.


Aku tidak tahu lagi harus mencari Dina dimana. Aku mulai memiliki keberanian untuk memperjuangkannya kembali namun lagi-lagi aku harus menerima kenyataan jika Dina sulit untuk kutemui.


"Den...kamu tahu nggak?" Adi tiba-tiba masuk ke dalam kamarku


"apa?" tanyaku yang heran melihat Adi yang tampak terburu-buru masuk ke dalam kamarku


"Dina minggu depan wisuda" ucap Adi yang terlihat serius


"kami yakin? Tahu dari mana? Jangan mengerjaiku" aku tidak yakin Adi serius dengan ucapannya


"aku serius....aku tadi tidak sengaja melihat Dina mengobrol dengan temannya, di depan bagian kemahasiswaan aku tanya temannya itu yang kebetulan aku juga mengenalnya, ia bilang kalau ia habis mendaftar wisuda dan Dina juga mendaftarkan wisudanya" terang Adi dengan raut wajah serius


"terus aku harus bagaimana, Dina wisuda ya baguslah..." aku bingung harus bagaimana

__ADS_1


"ah...kamu itu lamban...! ya harusnya kamu datang ke acara wisudanya syukur-syukur bisa menjadi pendamping wisudanya" Adi memarahiku


Yang dikatakan oleh Adi ada benarnya, ini kesempatanku untuk menemuinya. Aku begitu merindukan Dina, aku harus datang ke acara wisudanya.


.


Hari wisudah Dina telah tiba, sejak pagi aku mendadak gugup. Aku bingung apakah aku harus datang padahal kemarin-kemarin aku memantapkan hatiku untuk datang ke acara wisudanya.


Aku pun berjalan masuk ke dalam kamar Adi "Di...temani aku ke acara wisudanya Dina dong..." aku memohon pada Adi


"aku ada janji Den...nggak bisa..." Adi masih telungkup di atas kasurnya


"ayolah Di....cuma sebentar..."


"nggak bisa Den....lagian aku nanti jadi obat nyamuk...malas ah..."


"ya sudah kalau nggak mau....padahal sepulang dari wisuda Dina aku berencana mentraktirmu makan di resto tempo harui" aku meninggalkan kamar Adi dengan perasaan kesal


Aku tiba di auditorium kampusku, aku mengedarkan pandangan ternyata acara belum selesai. Aku memilih berdiri jauh dari pintu auditorium sambil menyiapkan diriku.


Rasanya seperti saat pertama kali kencan dengannya. Aku gugup, bingung, takut entahlah aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan ini.


Setengah jam aku menunggu akhirnya pintu auditorium terbuka menandakan jika acara telah selesai. Aku pun memperhatikan satu persatu orang yang keluar dari pintu besar itu.


Terlalu banyak orang yang ada di sana aku tidak bisa melihat siapa saja yang baru keluar dari pintu besar itu. Lagi pula mereka semua berdandan jadi aku tidak bisa mengenali mereka.


Aku memutuskan untuk mendekat ke arah pintu besar itu, aku mengedarkan pandanganku mengamati satu persatu wisudawati. Hingga akhirnya aku melihat teman-teman Dina sedang berfoto bersama seorang cewek memakai toga.

__ADS_1


Aku yakin jika itu Dina. Aku berjalan mendekat, semakin aku mendekati cewek bertoga itu aku ragu jika itu Dina. Cewek yang aku lihat begitu cantik, aku hampir tak mengenalinya jika saja salah satu dari mereka tak memanggil namanya.


Aku pun bergegas mendekati Dina. Ia masih belum menyadari jika aku sudah berdiri hanya berjarak beberapa langkah saja.


Aku memberanikan menyapanya "Din.." aku melihat mereka begitu terkejut melihat aku, namun sepertinya Dina bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"selamat ya...." aku mengulurkan tanganku tak tahu apa yang harus aku katakan dan aku lakukan


"terima kasih Den..." Dina menyambut uluran tanganku dengan senyum cerianya seperti biasanya "dari mana kamu tahu aku wisuda hari ini?" tanyanya


"itu...aku kok...ya pasti tahu dong..." aku mencoba menutupi kegugupanku


"haish...kamu itu, padahal yang tahu aku wisuda hanya mereka saja" ucapnya sambil menunjuk teman-temannya.


Aku mencoba mengajaknya mengobrol sambil bercanda aku lihat dia tak keberatan. Ia sama sekali tidak berubah selalu baik dengan semua orang. Hingga akhirnya aku mendengar suara seseorang memanggilnya "sayang...." akupun menatap pada siapa yang baru saja menghampiri kami.


Aku melihat, cowoo yang dulu pernah mengecewakan Dina datang memakai toga juga namun toga yang ia pakai berbeda dengan yang dipakai Dina. Akupun berpikir apakah dia mahasiswa kampus ini. Kalau benar kenapa aku tidak tahu.


Ataukah jangan-jangan waktu itu Dina duduk sendiri di depan ruang sidang pascasarjana sedang menunggu cowok itu pasalnya toga yang dipakainya adalah toga wisudawan pascasarjana.


Mereka memamerkan kemesraan mereka di depanku. Aku bisa melihat Dina sedikit canggung dengan situasi ini, namun cowok itu seolah-olah ingin menunjukkan bahwa Dina adalah miliknya namun sampai kapan kenapa aku tidak tahu semua ini.


Yang aku tahu setelah aku dan dirinya putus aku sempat melihat Dina bersama mantannya terdahulu di kampus tapi itu tidak berlangsung lama. Setelah itu aku sering melihat Dina pergi sendirian atau bersama teman-teman dekatnya.


Banyak hal yang telah aku lewatkan selama ini. Namun yang jelas aku melihat sorot mata bahagia ketika aku berbicara dengannya tadi. Aku bisa merasakan jika Dina masih menyimpan rasa cintanya untukku.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2