
Dua jam kemudian Dina telah sampai di tempat kosnya. Kosnya masih dalam keadaan kosong tak berpenghuni, mungkin teman-teman satu kosnya masih belum kembali dari pulang ke rumahnya.
Dina merebahkan tubuhnya, ia merasa lelah, seharian ia pergi dengan Dendy kemudian ia melakukan perjalanan ke kota J. Dina tertidur, entah berapa lama ia sudah tertidur.
Dina dibangunkan oleh suara bel kosnya yang berbunyi nyaring. Dina membuka matanya, kemudian ia membuka pintu kamarnya.
"cari siapa?" tanya Dina masih di depan pintu kamarnya
"Dina ada?" ucap seseorang dari balik pintu kos
Dina kemudian merapikan rambutnya, dan mengambil kunci untuk membuka pintu kosnya. Ketika Dina membuka pintunya ia mendapati Bimo berdiri di depan pintu kosnya dengan tatapan datar.
"ada apa mas?" tanya Dina datar
"kamu baru bangun tidur?" tanya Bimo datar
"iya..." jawab Dina singkat
"kamu kemana saja? Aku cari dari jumat sore tidak ada" ucap Bimo menahan rasa kesalnya
"aku pulang mas..." jawab Dina datar
"kenapa tidak bilang Din?!" tanya Bimo dengan nada meninggi
"memangnya kenapa? Aku mau pulang itu urusanku! Bukan urusan mas!" ucap Dina kesal
"tapi kan...kamu sudah janji mau pergi denganku" Bimo mengusap wajahnya kasar
"kalau soal itu aku minta maaf mas" ucap Dina datar
"masih mau jalan-jalan? Sekalian kita makan malam" Bimo melunak, ia merasa tidak akan baik jika ia terlalu terbawa emosi
"aku capek mas, ini saja aku baru bangun tidur" ucap Dina lesu
"kita makan saja ya..." ucap Bimo lembut
"aku mandi dulu...tidak apa-apa mas menunggu?" tanya Dina yang sebenarnya hanya ingin membuat Bimo membatalkan ajakannya
"iya aku tunggu" jawab Bimo dengan nada tegas namun dengan tatapan teduh
"duduk dulu mas..." Dina kembali masuk ke dalam kamarnya
Sebenarnya Dina malas pergi.dengan Bimo, tapi karena ia juga merasa bersalah karena tiba-tiba ia pulang, sementara ia sudah berjanji akan pergi dengan Bimo.
Dua puluh menit kemudian, Dina telah selesai mandi. Ia keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
"sudah siap?" tanya Bimo.
"iya mas sudah..."
"ke kosku dulu ya...aku mau menaruh barang-barangku dulu" ucap Bimo datar
__ADS_1
"lhoh...mas Bimo baru dari rumah? Lebih baik tidak jadi sajalah mas..."
"iya...memangnya ada apa?" Bimo mengerutkan keningnya
"mas pasti capek..." ucap Dina
"untuk kamu tidak ada kata capek Din...." ucap Bimo lembut
Dina dan Bimo pergi berduake kosnya Bimo kemudian mereka pergi mencari tempat makan.
"kamu mau makan apa Din?" tanya Bimo sambil teriak
"apa saja mas..." jawab Dina juga setengah berteriak.
Bimo membelokkan motornya ke sebuah tenda kaki lima yang menjual sate ayam. Bimo memesan dua porsi dan dua jeruk hangat. Setelah makanan mereka tersaji mereka mulai makan.
"pulang naik apa Din?" tanya Bimo sambil memakan satenya
"naik bis mas..." jawab Dina sambil mengunyah makanannya
"tadi aku ke rumahmu, katanya kamu pergi, dengan siapa?" tanya Bimo mulai tidak sabar
Dina hanya diam tak menjawab. Ia malas menjawabnya, ia sudah tahu tabiat Bimo seperti apa. Jika Dina menjawab pasti akan ada pertanyaan lanjutannya.
Lebih baik Dina diam, karena ia malas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul selanjutnya.
"besok kuliah jam berapa?" Bimo mengalihkan pembicaraan
"aku tidak bisa menjemputmu tidak apa-apa kan?" ucap Bimo sengaja ingin tahu reaksi Dina
"tidak apa-apa mas...aku bisa berangkat sendiri" ucap Dina santai
"hati-hati....di seberang kosmu itu kos cowok" ucap Bimo
"iya mas...aku tahu...mereka ramah-ramah kok" jawab Dina apa adanya
Bimo merasa cemburu dengan ucapan Dina yang memuji cowok-cowok yang kos di seberangnya. Yang ia tahu di situ kos mahasiswa teknik sipil. Dan Bimo mengenal salah satu penghuni di sana.
.
Keesokan harinya, Dina bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Hari pertama dia kuliah. Hari pertama ia resmi menjadi seorang mahasiswi. Dina sangat bersemangat. Ia berharap kuliah hari pertama akan sangat menyenangkan.
Dina membuka pintu kosnya dan betapa terkejutnya ia, seperti biasa Bimo sudah duduk di atas motornya dan menunggunya.
"kenapa ada di sini mas?" tanya Dina sambil mengunci pintu kosnya
"jemput kamu" jawab Bimo dengan senyum mengembang
"katanya tidak bisa?" Dina mengerutkan dahinya
"sudah...ayo naik...aku pagi ini praktikum di laboratorium bawah" ucap Bimo dengan senyum yang tak pudar sedikitpun
__ADS_1
Dina akhirnya menurut, dan ikut dengan Bimo. Hanya karena Dina menghargai Bimo yang pagi-pagi telah datang ke kosnya dan menjemputnya.
Sesampainya di kampus Dina turun dari boncengan Bimo. Dina hendak berjalan duluan tapi tangannya ditahan oleh Bimo.
"sebentar...aku bantu kamu cari ruangan kamu" ucap Bimo dengan tatapan teduh
Dina hanya diam, menunggu Bimo melepas helm dan mengunci motornya. Kemudian mereka berdua berjalan beriringan masuk ke area lobi kampusnya.
Bimo menarik tangan Dina dan membawanya ke papan pengumuman.
"kamu harud sering-sering melihat papan-papan ini agar tidak ketinggalan informasi" terang Bimo
"kamu kuliah apa Din?" tanya Bimo sambil membaca jadwal perkuliahan yang ditempel di papan pengumuman
"konsep ilmu teknik" jawab Dina
"ketemu....ayo...ruangan kamu di lantai tiga" Bimo menarik tangan Dina dan mengantarnya ke ruangan tempat Dina kuliah
Mereka berdua menaiki tangga ke lantai tiga. Setelah menemukan ruangan yang dimaksud, Bimo meninggalkan Dina. Dina bertemu kembali dengam Caca dan Berta.
"diantar siapa tuh...?" goda Caca
"lebih tepatnya dipaksa diantar" Dina mencebik
"harusnya senang dong...hari pertama kuliah ada yang mengantar" Berta gantian menggoda Dina
"biasa saja..."Dina terkekeh
"masuk yuk...itu dosennya sudah datang" ucap Caca sedikit panik
Mereka bertiga masuk ke ruangan kelas mereka. Dosen mulai memperkenalkan dirinya dan menjelaskan sistem penilaiannya. Semua mahasiswa mendengarkan dengan seksama.
"Ca...perhatikan dosen kita...miri winie the pooh ya" bisik Dina ke Caca
"kamu ini ada-ada saja Din...." Caca terkekeh.
"Ta....Dosen kita ini mirip siapa coba?" bisik Dina
"winie the pooh Din..." jawab Berta dengan wajah polosnya.
"tuh...kan Ca...Berta saja bilang begitu" bisik Dina lagi
Setelah percakapan tak berfaedah mereka, mereka kembali fokus dengan kuliah mereka. Meski Dina bosan, tapi ia mencoba untuk tetap fokus.
Perkuliahan selesai, mereka bertiga pergi ke kantin karena pagi tadi mereka tak sempat makan. Saat di kantin, Dina melihat Bimo yang sudah berada di kantin dengan Riri yang bergelayut manja di sebelahnya. Dina hanya menatapnya datar kemudian ia duduk di kursi yang tak jauh dari Bimo duduk.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1