
Beberapa hari berlalu, Dendy yang sedang libur kenaikan kelas, hampir setiap hari datang ke rumah Dina. Ia selalu menemani Dina jika pergi siaran. Ia selalu menjemput dan mengantar Dina pulang.
Mereka benar-benar memanfaatkan waktu yang ada, karena Dina sangat yakin ia akan diterima di universitas A. Sebisa mungkin Dina memanfaatkan waktu yang mungkin hanya tinggal satu bulan mereka bisa hampir setiap hari bertemu.
Saat ini Dina sedang berada di studio, ia hanya ditemani oleh Widi dan Alex. Memang hari libur seperti ini mereka tidak semua kru bisa berkumpul. Sedangkan Dendy sedang mengantarkan mamanya menghadiri hajatan teman mama Tari.
"besok kalau kita kuliah di luar kota bagaimana nasib studio kita ini" tanya Dina
"menurut pak Har beliau sudah menemukan kandidat yang cocok untuk meneruskan studio ini....tapi..." ucap Alex sedikit ragu
"tapi apa Lex?" tanya Dina
"tapi Widi harus tetap mau menjadi teknisi ketika dibutuhkan" ucap Alex sambil melirik Widi yang berdiri di sebeelah meja siar
"memang...aku tidak bisa melepaskan studio ini begitu saja..." ucap Widi dengan menahan rasa sedihnya
"jelas kamu tidak bisa meninggalkan studio ini begitu saja, ini hasil kerja kerasmu, jika tidak ada kamu studio ini pasti hanya angan-angan saja yang tidak tahu kapan bisa terealisasi" ucap Dina kemudian menghela nafasnya
Mereka bertiga larut dalam pembicaraan yang sangat serius, mereka berusaha membuat studio yang mereka bangun dari nol itu tetap terjaga dan bahkan bisa lebih maju kedepannya ketika semua kru senior meninggalkan kota mereka tercinta.
"Din..." tiba-tiba mereka dikejutkan oleh seseorang yang memanggil Dina. Mereka bertiga menoleh ke arah datangnya suara.
"kamu janjian sama Toni Din?" tanya Widi
"tidak...aku tidak ada janji dengan siapapun, aku ini hanya menunggu dijemput, kamu tahu sendiri aku diantar siapa" ucap Dina
Kemudian Dina beranjak keluar dari ruang siar untuk menemui Toni. Dina sebenarnya enggan untuk menemui Toni tapi daripada mereka mengganggu Alex yang sedang siaran, Dina mengalah menekan egonya untuk menemui Toni.
"di luar saja..." ucap Dina datar berjalan keluar studio, Toni mengikutinya dari belakang.
sesampainya di luar Dina duduk di kursi yang ada di depan kelas Toni dulu, Toni juga duduk di sebelah Dina.
"sekarang ada apa?" tanya Dina
"apa kabarmu Din?" tanya Toni
"seperti yang kamu lihat aku sehat..." ucap Dina datar "oh ya...terima kasih karena waktu itu sudah menemani aku di rumah sakit"
"iya Din sudah seharusnya aku menemanimu dan menjagamu" ucap Toni dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
Dina diam, sebenarnya ia merasa tersentuh dengan perhatian Toni sewaktu ia berada di rumah sakit. Tapi ia tidak mau menunjukkan kalau ia sangat berterima kasih atas perhatian Toni. Dina tak ingin memberikan harapan palsu untuk Toni. Dina masih belum bisa melupakan jika dirinya menjadi bahan taruhan teman-teman Toni.
Dina bukan seorang pendendam hanya saja itu semua menurutnya sudah keterlaluan dan ia masih butuh waktu melupakan semuanya.
"bagaimana kemarin? diterima?" tanya Toni lembut
"tidak" jawab Dina singkat
"terus bagaimana? Kamu mengulang tahun depan atau daftar di kampus swasta?" tanya Toni penasaran. Sebenarnya beberapa hari yang lalu Toni datang ke rumah Dina, tapi mamanya Dina bilang Dina setiap hari ke studio.
Dan dari mamanya Dina Toni tahu kalau Dina tidak diterima di perguruan tinggi negeri dan habis mengikuti tes masuk universitas A.
"mau tidak mau daftar kampus swasta Ton " ucap Dina sendu
"kenapa tidak mencoba mengulang tahun depan Din?" tanya Toni lembut yang sebenarnya sudah tahu semuanya dari mamanya Dina.
"tahun depan mengulang lagi Ton, tapi tahun ini mungkin aku kuliah dulu di kampus swasta, papaku menyuruhku tidak boleh menganggur jadi mau tidak mau ya aku daftar di kampus swasta" ucap Dina pertama kalinya berbicara lebih panjang dari sebelum-sebelumnya.
Toni yang mendengar Dina berbicara panjang lebar tersenyum senang. Dia merasa Dina mulai bisa terbuka dengannya. Ia yakin perlahan tapi pasti Dina akan bisa menerimanya lagi.
"Din...aku masih tetap menunggumu, aku harap penantianku tidak akan sia-sia" ucap Toni penuh harap
"aku yakin, cinta itu lambat laun akan pudar Din..." ucap Toni penuh keyakinan
"aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, terima kasih karena kamu sudah menyayangi aku" ucap Dina beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya masuk ke studio meninggalkan Toni duduk termenung sendiri.
"aku harus bagaimana lagi Din...agar kamu percaya kalau aku tidak pernah menjadikanmu bahan taruhan" gumam Toni sendu. Toni sudah kehabisan kata-kata untuk meminta maaf. Ia juga sudah tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan untuk memperjuangkan Dina kembali.
Dina masuk ke studio dengan tatapan datar. Widi tahu pasti telah terjadi sesuatu antara Dina dengan Toni. Widi orang yang peka akan segala sikap Dina.
"ada apa?" Widi menghampiri Dina
"tidak ada apa-apa Wid" ucap Dina mencoba tersenyum
"aku tahu pasti telah terjadi sesuatu di antara kamu dan Toni" ucap Widi
"aku baik-baik saja Widi...sudah aku mau siaran lagi" ucap Dina yang sudah menjadi riang kembali.
Widi keluar studio dan mencari keberadaan Toni, dan ia menemukannya masih duduk di kursi depan kelasnya dulu.
__ADS_1
Toni melihat Widi yang berjalam ke arahnya hanya bisa menahan kesal. Widi selalu saja ikut campur apa saja yang ia lakukan terhadap Dina.
"ada apa lagi?" tanya Widi datar
"tidak ada apa-apa" ucap Toni menahan rasa kesalnya
"kalau kamu menemui Dina hanya untuk menyakitinya lebih baik jangan pernah menemuinya lagi" ucap Widi penuh penekanan
"aku tidak ingin menyakitinya, aku hanya ingin mengutarakan apa yang aku rasakan" ucap Toni ketus "kamu jangan sok menjadi pahlawan untuk Dina."
"dimana kamu saat Dina terbaring di rumah sakit?"
Widi terkejut mendengar Toni mengatakan jika Dina sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
"di mana kalian, yang selau Dina anggap sahabat ketika dia sakit?" tanya Toni dengan tatapan sinis
"Dina sakit? Kapan? Tidak ada yang memberitahuku" ucap Widi panik
"sudah lama... Tidak perlu dibahas lagi" ucap Toni sinis
"mulai sekarang biarkan Dina menentukan apa yang menurutnya baik, kamu tidak perlu lagi menjadi orang yang sok menjadi pahlawan baginya" ucap Toni kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Widi yang kebingungan
Saat Dina sakit dan dirawat di rumah sakit tidak ada yang mengetahuinya, hanya Toni dan Dendy yang mengetahui jika Dina sakit. Widi merasa bersalah kepada Dina, seharusnya ia lebih mengetahui semua tentang Dina, karena ia dekat dengan papanya Dina. Tapi nyatanya ia telah gagal dalam menjaga Dina.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
Dukung terus karya ini ya besti
Please vote, like dan komennya terima kasih bestie...
__ADS_1