Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 153 Perubahan Dendy


__ADS_3

Setelah mengetahui segala tentang yang Bimo lalui dan alami, kini Dina mulai bisa berdamai dengan keadaan. Dina tak lagi mengungkit kesalahan Bimo di masa lalu.


Semua sudah terjadi, tidak ada yang mampu merubahnya. Sekarang yang bisa mereka lakukan adalah berjalan ke depan tanpa melihat ke belakang.


Dina dengan segala rasa cintanya untuk Dendy, dan Bimo yang masih setia berjuang merebut hati Dina kembali. Kali ini Bimo benar-benar berupaya agar apa yang ia impikan selama ini bisa terwujud.


Bagi Bimo memantapkan tujuannya adalah hal yang penting. Apa yang ia ucapkan pada Dina bukan hanya candaan semata. Bimo telah yakin ingin menjadikan Dina tujuan hidupnya. Bimo menginginkan Dina menjadi pendamping hidupnya kelak.


Tapi bagi Dina semua masih terlalu dini untuk memutuskan semuanya. Ia menghargai Bimo yang ingin serius dengannya tapi ia juga mencintai Dendy, hanya Dendylah yang selama ini membuat ia nyaman dan merasa memiliki keluarga kedua.


Dina merasa pelan tapi pasti ia harus mulai menjauh dari Bimo agar ia tidak terlalu berharap padanya. Dina sejatinya menganggap Bimo sebagai kakak, sahabat dan pelindung untuknya.


Bersama Bimo ia merasa aman, dengan Bimo ia bisa menjadi dirinya sendiri. Jiwa kekanak-kanakannya bebas ia tunjukkan jika bersama Bimo.


Bimo masih setia menjemput dan mengantar Dina jika ia tidak benar-benar sibuk. Kemanapun Dina pergi Bimo selalu mengantarnya. Bahkan terkadang Bimo menunggunya ketika Dina harus mengerjakan tugas kelompok.


Bukan tanpa alasan Dina mau ditemani dan ditunggu oleh Bimo. Dina memanfaatkan keberadaan Bimo untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugasnya.


Sebagian besar teman-teman Bimo menganggap Dina adalah pacarnya Bimo. Karena setiap ada Dina pasti di situ ada Bimo. Tapi sebaliknya jika ada Bimo belum tentu ada Dina, itu yang membuat sebagian teman Bimo masih mempertanyakan hubungan mereka berdua.


Walaupun ada keinginan untuk mengantar Dina ketika harus pulang tapi sebisa mungkin Bimo menahannya. Ia tahu batasannya, Dina pulang untuk siapa.


Dina pulang seminggu sekali demi kekasih hatinya. Sesak di dalam dada Bimo ketika Dina dengan sengaja mengatakan jika ia akan pulang ke kotanya. Itu berarti dia harus merelakan Dina untuk bermesraan dengan pacarnya.


Selama ini Dina tidak berterus terang kepada Dendy masalah Bimo. Dina hanya mengatakan pada Dendy jika ada yang tertarik padanya dan berusaha mendapatkan hatinya tapi Dina tolak.


Hal itu membuat Dendy semakin kawatir, ia tak lagi bisa tenang ketika Dina berpamitan untuk kembali ke kota J. Dendy meminta tolong pada Dodi untuk menjaga Dina. Ketika ada waktu luang Dodi menyempatkan mengunjungi Dina di kosnya.


Bahkan ketika akan pulang ke kota K, Dodi selalu menghampiri Dina untuk mengajaknya pulang bersama. Atau jika Dodi baru saja sampai di kota J, ia akan berjalan melewati kos Dina dan mampir sebentar untuk memeriksa keadaan Dina.

__ADS_1


.


Ujian tengah semester telah usai, jadwal ujian Dina lebih cepat selesai dari Bimo. Ini kesempatan Dina untuk segera pulang agar Bimo tidak nekat untuk mengantarnya pulang.


Seperti biasa Dina menaiki bis umum untuk pulang ke kotanya. Ia sengaja pulang di siang hari agar Dendy bisa menjemputnya di terminal.


"Den...." Dina melambaikan tangan pada Dendy yang terlihat sedang mencari-cari keberadaannya di antara penumpang bis yang baru turun


Dendy mendengar teriakan Dina, dengan langkah terburu-buru Dendy menghampiri Dina.


"sayang......" ucap Dendy dengan binar mata bahagianya.


"aku lapar...." rengek Dina


"ayo kita makan....kamu mau makan apa mumpung masih sore"ucap Dendy lembut sambil mengambil tas ransel yang digendong Dina


"hmmm....apa ya....ayam bakar saja ya..." ucap Dina dengan nada cerianya


Dina selalu saja menemukan suasana baru ketika pulang dan bertemu Dendy. Waktunya ketika pulang lebih banyak ia habiskan bersama Dendy. Dina ingin menebus waktu yang hilang bersama Dendy.


Dendy mengajak Dina makan di sebuah warung di dekat terminal. Binar mata bahagia terlihat di mata keduanya.


"bagaimana ujiannya?" tanya Dendy yang duduk di hadapan Dina


"lancar...." jawab Dina dengan senyum mengembang


"masih ada yang suka mengganggu atau mendekatimu lagi?" tanya Dendy dengan rasa cemburu yang tertahan


"hmmm....mengganggu tidak ada, mendekati mungkin ada juga... Aku tidak tahu, aku juga tidak mau dikatakan terlalu percaya diri" jawab Dina dengan senyum cerianya

__ADS_1


"hmm....Dodi pernah cerita, katanya pernah melihat kamu diantar cowok ke kampus" tanya Dendy hati-hati


"oh...mungkin itu Wilson atau temanku...entahlah aku sering mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman cowok jadi aku tidak tahu yang mana yang dimaksud Dodi" jawab Dina jujur


Tapi memang ada yang ia tutupi, ia tidak mungkin bercerita jika yang sering mengantar jemput dirinya adalah Bimo. Ia hanya ingin hubungannya dengan Dendy baik-baik saja, karena ia terlalu sayang dengan Dendy. Terlalu sayang jika hubungannya rusak karena cerita tentang obsesi Bimo terhadapnya.


Bukan tanpa alasan Dina tidak menceritakan tentang obsesi Bimo terhadapnya. Ia menyadari, jika ia menceritakan masalah itu kepada Dendy masalah tidak akan pernah ada jalan keluarnya. Karena Dendy pasti akan melepas Dina, merelakan Dina begitu saja untuk bersama Bimo. Padahal yang Dina inginkan adalah Dendy yang memperjuangkan dan mempertahankannya.


Ia tahu Dendy sekarang sudah jauh berubah. Ia lebih bisa mengontrol dirinya sendiri. Dendy yang sekarang, Dendy yang jauh lebih bijaksana dari yang Dina kenal dulu.


Lebih sabar, dan lebih dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang ada. Lebih bisa mengontrol emosinya, dan lebih bisa mengekspresikan rasa sayangnya kepada Dina.


Itulah yang membuat Dina semakin menyayangi Dendy, perubahan yang begitu besar perubahan menjadi lebih baik. Bersama Dendy Dina merasa nyaman, tenang dan damai. Dina tak lagi takut akan ada kesalahpahaman di antara mereka lagi.


Dina tak lagi takut Dendy akan cemburu buta lagi. Semakin hari, Dina semakin melihat sosok papanya di diri Dendy. Sabar namun tegas dan bijaksana itulah yang Dina kagumi dari papanya dan itu juga ada di diri Dendy.


Dina merasa Dendy adalah cinta keduanya setelah papanya. Meski dari segi fisik Dendy jauh dari cowok-cowok yang kini sedang memperebutkan hatinya tapi Dina tidak goyah hanya dengan ketampanan fisik tapi tidak memberikan kenyamanan.


Terkadang Dina merasa bersalah terhadap Dendy. Dina seperti cewek yang sedang berselingkuh darinya. Tapi Dina juga tak bisa berbuat apa-apa. Semakin Dina terlihat menghindar Bimo akan semakin mengejarnya. Dina hanya bisa berusaha untuk tetap menjaga hati dan pikirannya untuk Dendy seorang.


Dina yakin mereka sedang diuji dengan adanya Bimo yang selalu dekat padanya. Seperti dulu di awal hubungan mereka, mereka diuji oleh Nia yang mendekati Dendy, dan Dendy tak kuat menahan godaan itu.


Dina tidak ingin itu terjadi pada dirinya, makanya ia setiap minggu pulang ke kotanya, untuk selalu menyuburkan rasa yang ada di hatinya untuk Dendy.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2