
"undangan....undangan apa?" mama sepertinya sudah tahu undangan apa yang dimaksud Dina
"hemm...undangan pernikahan saya tante" Dina sedikit menggigit bibirnya, dari gestur tubuhnya ia takut mama kecewa. Dina tahu betul mama sangat menyayanginya
"pernikahan? dengan siapa Din? Kapan?" mama sepertinya tidak bisa menerima ucapan Dina. Aku pun memberikan undangan pernikahan Dina pada mama. Mama terkejut melihatnya kemudian membuka dan membacanya.
"kamu menikah dengan anak pemilik Wijaya Group Din?" mama sepertinya sangat kecewa. Dan aku baru mengetahui jika pacar Dina adalah anak pemilik Wijaya Group.
"iya tante..." Dina tertunduk
"apa kamu sudah lama mengenalnya?" apa-apaan mama bertanya tentang itu, itu bukan urusan mama, tapi aku hanya bisa berbicara dalam hati
"sudah tante...jauh sebelum saya mengenal Dendy saya sudah mengenalnya" Dina terlihat pucat, sepertinya ia merasa diinterogasi mama
"selamat ya Din...tante hanya bisa mendoakan kamu semoga bahagia dengan pilihan kamu" terdengar helaan nafas dari mama. Aku tahu itu sangat mengejutkan buat mama.
"terima kasih tante, Dina harap...Om dan juga tante bisa datang ke acara pernikahan saya ajak juga Rio" Dina sedikit lega
"tante usahakan Din.... " ucap mama lirih aku tahu mama begitu kecewa
"terima kasih tante, kalau begitu saya permisi dulu" Dina beranjak dari duduknya dan berpamitan pada mama.
Dina pun pulang menaiki motor kesayangannya. Aku terkejut Dina tadi mengatakan ia akan menikah dengan anak pemilik Wijaya Group namun Dina masih menaiki motor kesayangannya.
Jika benar ia akan menjadi menantu keluarga pengusaha terkenal di kota ini, seharusnya dia mendapatkan fasilitas mobil dari mertuanya. Ternyata Dina masih sama, ia masih tetap sederhana tidak menyombongkan dirinya yang akan menjadi menantu pengusaha terkenal.
__ADS_1
Di depanku ia masih bersikap seperti Dina yang aku kenal. Ia tetap sederhana, memang tampak modis namun bagiku wajar karena ia telah bekerja. Dia pun juga tak menyinggung dia akan menikah dengan anak siapa. Ia hanya mengatakan akan menikahi mantan pacarnya.
"Dina akan menikah, dan menjadi menantu pengusaha kaya raya di kota ini, sedangkan kamu kuliah saja tidak jelas" mama memarahiku. Aku hanya diam menerima semua omelan mama.
"mama jadi berpikir, Dina itu ternyata matrealistis"
"kenapa mama berbicara seperti itu?" aku tidak terima mama menjelek-jelekkan Dina
"buktinya ia menikahi anak orang kaya"
"Dina bukan cewek seperti itu ma..." sanggahku "Toni itu mantan pacar Dina dulu...aku tahu cerita Dina bagaimana ia berusaha menjauh dari mantannya itu, jika memang ia matrealistis, dia tidak akan mau berpacaran denganku" aku kesal karena mama memojokkan Dina
"andai saja waktu papa tidak melarangku berpacaran dengannya, pasti yang menikah dengannya itu aku ma..." aku pergi meninggalkan mama dengan perasaan kesal. Aku kembali teringat ketika papa memarahiku habis-habisan untuk menjauhi Dina.
Hari pernikahan Dina pun tiba. Aku tidak tahu akan mengahdirinya atau tidak. Aku tidak sanggup melihat Dina ketika mengucapkan janji suci di altar pernikahan.
Ia pun mengatakan akan berpura-pura menjadi pacarku. Sungguh gila tanteku yang satu ini, namun sarannya perlu dipertimbangkan. Aku berpikir sejenak kemudian aku menyetujui semua ide gilanya itu.
Aku memutuskan untuk datang ke acara resepsi saja nanti malam. Resepsi yang akan diadakan di hotel milik Wijaya Group. Rasanya berat melepaskan orang yang aku cintai menikah dengan orang lain.
Aku dan tanteku telah bersiap-siap untuk pergi ke acara resepsi pernikahan Dina. Aku menguatkan hatiku sendiri, aku tidak mau terlihat lemah, aku tidak mau terlihat terpuruk. Aku akan bahagia jika melihat Dina bahagia meski bukan dengan diriku.
Aku memasuki ballroom hotel tempat resepsi diadakan. Aku bisa melihat Dina tampak begitu cantik, dia pun tak berhenti tersenyum. Aku sengaja tidak mendekat dan memberikan ucapan selamat padanya.
Dada ini terasa sesak, melihat kemesraan yang dipertontonkan oleh Dina dan suaminya. Tanteku benar-benar berhasil menjalani perannya sebagai pacarku. Ia menggandeng tanganku dari masuk hingga saat ia melihat meja makanan penuh dengan makanan, dia meninggalkan aku sendirian.
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku aku pun menoleh ke belakang, ternyata teman mas Gilang dan juga teman baik Dina yang menepuk pundakku.
"pada akhirnya Dina memilih orang yang benar-benar memperjuangkannya" ucapnya seraya menatap Dina dari jauh dengan tatapan yang sulit diartikan "aku tahu betul bagaimana terpuruknya Dina saat putus dari kamu" dia menoleh ke arahku
Aku pun bingung kenapa tiba-tiba ia berkata seperti itu. "Bahkan selama ini dalam hatinya Dina masih mengharapkan kamu" ia menatapku sinis
"sampai akhirnya Dina lelah menunggu, dan dia memilih orang yang selama bertahun-tahun memperjuangkannya"
"tentu saja Dina pasti akan menerimanya, dia pria yang begitu sempurna, wanita mana yang akan menolak mendapatkan suami kaya raya seperti itu" aku tersenyum kecut
"hei...jangan kamu samakan Dina dengan wanita-wanita murahan di luar sana, aku tahu betul kisah mereka hingga saat ini, uang tidak dapat membeli cinta, tapi ketulusanlah yang membuat cinta itu tumbuh dengan sendirinya" rasanya aku seperti tertampar dengaj ucapan Roy
"sebenarnya Dina masih belum ingin menikah, tapi karena Om Yanuar memaksa agar pernikahan mereka dipercepat mau tidak mau Dina menurutinya, sekarang relakanlah Dina seperti aku merelakan dia denganmu waktu itu, Dina sudah mengakhiri penantiannya." entah apa maksud ucapannya tapi semua itu membuatku sadar selama ini Dina masih menungguku aku saja yang terlalu bodoh.
Tanteku kembali mendekatiku, ia menyuapkan aku sepotong kue, karena ia tahu aku sejak pagi tidal makan. Di saat yang bersamaan Dina menatap ke arahku, ada kesedihan di dalam matanya namun Dina tetaplah Dina. Sedetik kemudian ia merubat raut mukanya menjadi tersenyum
Iapun menggerakkan bibirnya dan aku bisa membacanya dia mengucapkan terima kasih, entah untuk apa aku tidak tahu. Aku pun reflek membalasnya berbahagialah. Kemudian ia mengucapkan terima kasih lagi kepadaku kemudian ia pun melanjutkan menerima ucapan selamat dari tamu-tamunya.
Aku hanya bisa berbicara dalam hatiku, berbahagialah, maafkan aku yang tak pernah bisa memperjuangkan cintamu. Suatu saat jika kamu tidak bahagia kembalilah padaku. Aku pun memutuskan untuk pulang, aku tak kuasa lagi menahan air mataku.
Terima kasih Dina, terima kasih untuk saat-saat terindah dalam hidupku, aku mencintaimu biarlah cinta ini tersimpan rapat dalam lubuk hatiku tang paling dalam. Selamanya kamu tetap memiliki hatiku.
End of POV Dendy
.
__ADS_1
...----------------THE END ----------------...
Akhirnya novel ini benar-benar tamat, terima kasih untuk semua para readers yang telah membaca novel ini, jangan lupa mampir di kisah Toni dan Dina di JADIKAN AKU PACARMU