
Hening, hanya keheningan yang terjadi di ruang rawat Dina. Dina tidak ingin membuka suaranya, baginya bukan dia yang harus menjelaskan, bukan dia yang harus memperbaiki hubungan yang mulai retak itu. Sedangkan Dendy, ia gengsi kalau harus memulai pembicaraan duluan.
Dina merasa jengah, untuk apa Dendy berada di ruangannya kalau hanya diam, lebih baik ia sendirian daripada ditemani oleh patung. Apalagi patung yang sudah menuduhnya menduakannya.
"kalau kamu di sini hanya mematung di situ lebih baik kamu pulang saja" ucap Dina datar
Dendy yang mendengar perkataan Dina berjalan mendekati brankar Dina.
"aku hanya ingin bertanya, kenapa mantanmu ada di sini?" tanya Dendy dingin
"memangnya kenapa?"
"aku tanya tolong kamu jawab" ucap Dendy datar. Dendy menyiapkan hatinya andai jawaban Dina seperti yang ia pikirkan
"andai aku jawab, sekarang aku berpacaran dengannya kamu percaya?" tanya Dina dengan nada sinis
Dendy tak berkutik, ia bingung, di satu sisi ia tidak yakin jika Dina dan Toni berhubungan kembali, melihat ekspresi Dina waktu Toni membantunya tadi. Tapi di sisi lain ia tidak bisa menepis jika Dina sangat dekat dengan Toni.
"tanya pada hatimu sendiri, karena aku sudah pernah bilang, cukup kamu percaya padaku saja" ucap Dina datar kemudian ia merebahkan diri dan tidur memunggungi Dendy yang masih berdiri mematung di sebelah brankar Dina.
Dendy diam, berpikir, apakah ia telah salah menilai kedekatan Dina dan mantannya. Apakah ia mengecewakan Dina untuk yang kesekian kalinya. Bahkan di depan mamanya Dina tadi masih membelanya.
"Din...maafkan aku, aku janji ini yang terakhir kalinya" ucap Dendy meraih tangan Dina. Ia mulai sadar jika ia terlalu cemburu buta. Ia juga malu Dina memaafkannya walau jelas-jelas dia telah menduakannya.
"kemarin kamu juga bilang, yang terakhir kalinya, sekarang apa jaminan kamu tidak akan mengulanginya lagi?" ucap Dina tanpa membalikkan badannya
Dendy diam, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia tahu terlalu sering mendahulukan egonya daripada logika. Tidak harus dengan marah-marah untuk tahu yang sebenarnya. Cukup bertanya baik-baik tanpa mendahulukan emosinya. Bukankah semua masalah itu bisa selesai kalau sama-sama berkepala dingin?
"aku tidak tahu Din, tapi yang jelas aku tidak mau kita putus" ucap Dendy mengiba
"aku tidak pernah meminta putus kalau kamu tidak keterlaluan Den" ucap Dina membalikkan badannya menghadap Dendy
Dendy kehabisan kata-kata, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Di sini ia yang bersalah bukan Dina. Sudah terlalu sering ia mengecewakan Dina, dan Dina dengan tangan terbuka memaafkan semua kesalahannya. Tapi kali ini ia tidak yakin kalau Dina akan memaafkannya lagi. Tapi ia juga tidak mau putus dari Dina.
__ADS_1
Andai bisa memutar waktu Dendy pasti akan berusaha menghindari kesalahan. Tapi sayangnya waktu tak bisa diputar kembali.
"masih adakah aku di hatimu Din?" tanya Dendy dengan sorot mata mengiba
Dina menghela nafasnya, sulit baginya untuk berkata tidak. Ia masih sangat menyayangi Dendy. Tapi apakah ia harus terus-terusan memaafkan kesalahan Dendy yang terus saja diulangi lagi.
"kalau iya memangnya kenapa? Kalau tidak memangnya kenapa?" tanya Dina ambigu
"aku ingin kita memulai dari awal" ucap Dendy dengan nada sendu
"sekarang aku yang tanya, apakah kamu benar-benar menyayangiku?"
"aku sangat menyayangimu Din" ucap Dendy mantap
"kalau kamu memang menyayangiku, kenapa kamu tidak percaya padaku?"
"bukannya aku tidak percaya padamu Din, tapi aku sangat cemburu ketika kamu bersama dengan cowok lain" ucap Dendy lirih
"cemburumu itu tidak lucu!" ucap Dina ketus
"kamu mau kemana?" tanya Dendy
"aku mau mandi, tolong ambilkan tas yang ada di dekat sofa" ucap Dina sambil berdiri di sebelah brankar
Dendy langsung mengambilkan tas yang Dina maksud. Kemudian menyerahkannya kepada Dina. Dina mengambil baju gantinya kemudian berusaha mengambil kantong infusnya. Lagi-lagi Dendy membantunya meski ia masih sedikit marah tapi ia tetap kawatir dengan Dina.
Dendy membantu Dina masuk ke kamar mandi. Setelah memastikan semua keperluan Dina siap, Dendy keluar dan menutup pintu toilet rapat-rapat. Kemudian ia berjalan ke arah brankar dan membereskan tas tempat baju ganti Dina tadi.
Dina sudah selesai mandi, dan tampak lebih segar. Ia keluar kamar mandi dengan memegang kantong infusnya, dengan sigap Dendy membantu Dina lagi.
"kamu kalau mau pulang, pulang saja tidak apa-apa aku di sini sendirian" ucap Dina naik ke brankar
"tidak...aku akan tetap di sini sampai kamu diijinkan pulang oleh dokter" ucap Dendy tegas
__ADS_1
"sebentar lagi papaku datang, yakin kamu mau tetap di sini?" tanya Dina
"iya...setidaknya aku di sini sampai papamu datang Din, besok aku ke sini pagi-pagi sekali aku akan menemani kamu seharian" ucap Dendy mantap
Dina hanya menganggap angin lalu apa yang Dendy katakan. Ia hanya ingin cepat sembuh, tidak terlalu mengharapkan apa yang Dendy ucapkan akan dia lakukan.
Dina ingin segera keluar dari rumah sakit karena tes masuk perguruan tinggi negeri tinggal beberapa hari lagi. Ia sudah terlalu banyak membuang-buang waktu belajarnya karena sakit yang seharusnya bisa ia hindari.
Tak lama kemudian papanya Dina datang, maka Dendy 'pun pamit untuk pulang. Papanya hanya akan menemaninya waktu malam hari, sedangkan mamanya tidak bisa menemani Dina karena harus mengurus adik Dina yang masih kecil-kecil.
Dina menyadari itu semua, karena memang kondisi yang mengharuskan dia harus di rumah sakit sendirian. Memang begitulah anak sulung. Ditempa, dipaksa untuk menjadi anak yang mandiri.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Dendy sudah berada di rumah sakit bahkan papanya Dina belum pulang dia sudah datang. Dendy sebenarnya takut bertemu dengan papanya Dina, tapi mau bagaimana lagi ia harus menepati janjinya kepada Dina.
Papanya Dina terkejut, sepagi itu Dendy sudah datang, bahkan Dina baru saja bangun dari tidurnya dan belum mandi. Dendy duduk diam di sofa yang ada di ruangan itu sambil menunggu Dina selesai mandi.
"Dina bagaimana om, apa sudah lebih baik kondisinya?" Dendy memberanikan diri bertanya pada papanya Dina
"sudah" jawab papanya singkat padat dan jelas dengam tatapan datar.
Suasana di dalam ruang rawat Dina begitu horor bagi Dendy. Ia sudah mulai berkeringat karena gugup dan takut. Dendy bisa bernafas lega melihat Dina keluar dari kamar mandi dan papanya Dina juga pulang meninggalkan Dina sendiri ditemani oleh Dendy.
.
.
B E R S A M B U N G
.
jangan lupa ritualnya ya bestie
Please like komen dan votenya
__ADS_1
Terima kasih bestie