Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 138 Curahan hati Dina


__ADS_3

Acara bebas telah selesai, semua kelompok telah menampilkan penampilan terbaik mereka. Acara ditutup pada pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.


Sudah terlalu larut untuk para mahasiswa pulang, apalagi buat para cewek. Berta, Caca dan Dina sepakat untuk pulang bersama dan menginap di kos Dina, karena kos Dina berada di tengah-tengah antara kos Berta dan Caca.


Bimo merasa tidak tega Dina harus pulang selarut itu. Dia juga kesal sedari acara mulai Riri selalu berada di sebelahnya, seolah-olah tidak mengijinkannya untuk mendekati Dina.


Berta, Caca dan Dina sudah berjalan keluar dari area kampus dengan hati gembira karena masa pengenalan kampus telah selesai.


"Din...tumben Kak Bimo tidak mengantar kamu pulang?" tanya Berta


"aku malah lebih senang pulang bersama kalian" ucap Dina terkekeh


"tapi serius, aku bingung, sebenarnya Kak Bimo itu siapa? Kenapa dia sepertinya sudah mengenal kamu lama" tanya Caca dengan tatapan penuh tanda tanya


"tidak perlu dibahas...lebih baik kita bahas besok pagi kita mau sarapan apa" kilah Dina


"ih...kamu itu ya Din...! Ditanya serius jawabnya seperti itu!" Berta mencebik


Berta, Dina dan Caca asyik bercanda sambil menikmati suasana malam di area kampus mereka, yang ternyata belum sepi. Malah dibilang masih ramai padahal waktu sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam.


Saat mereka asyik bercanda, tiba-tiba ada suara motor yang mengikuti mereka. Caca yang berjalan paling kanan reflek menengok ke arah belakang.


"Din...Din...ada kak Bimo" Bisik Caca


Dina pun menoleh ke arah belakang, kemudian ia kembali melihat ke arah depan. Ia mengabaikan Bimo yang mengikutinya.


Bimo sudah mensejajari mereka dengan motornya "Din...ayo aku antar!" ucap Bimo dengan nada tak ingin dibantah


"aku mau pulang bersama teman-temanku mas!" ucap Dina datar


"tapi ini sudah malam Din!" ucap Bimo dengan penekanan


"siapa yang bilang ini siang!" ucap Dina asal tanpa menatap ke arah Bimo tanpa menghentikan langkahnya


Kedua teman Dina hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Dina yang terdengar ketus. Mereka semakin penasaran ada hubungan apa Dina dengan kakak tingkatnya yang menjadi idola di antara para mahasiswi baru.


Bimo pun mengalah, ia tahu watak Dina yang juga keras. Percuma saja ia membujuk Dina, ia tahu ia memiliki kesalahan terhadapnya. Dan kesalahan itu begitu besar. Bimo mengikuti mereka dari belakang, memastikan Dina aman dan selamat sampai di tempat kosnya.


Itu yang selalu ia lakukan dulu, ketika Dina tidak mau ia antar atau ia jemput. Ia selalu menjaga Dina dari jauh, memastikan Dina aman sampai di tempat tujuannya.

__ADS_1


Setelah memastikan Dina sampai di kosnya, ia melajukan motornya pulang ke tempat kosnya.


"akhirnya...Kak Bimo sudah pergi" ucap Caca sambil mengelus-elus dadanya


"memangnya ada apa Ca?" tanya Dina sambil membuka kamar kosnya


"aku takut Din... Waktu kamu menolak diantar wajahnya menjadi seram" ucap Caca bergidik ngeri


"kamu berlebihan Ca...!" ucap Dina membuka pintu kamar kosnya.


"aku benar-benar penasaran ada hubungan apa di antara kalian? Kalian pacaran ya?" tanya Berta yang masuk paling belakang


"tidak perlu dibahas lagi...lebih baik kalian bersih-bersih sana dulu" ucap Dina terkekeh


"ah...Dina tidak asyik ah...ayo cerita dong..." rengek Caca


"iya...iya...tapi setelah kalian bersih-bersih dulu!" ucap Dina sambil menyerahkan handuk yang baru ia ambil dari lemarinya.


Setelah ketiganya bersih-bersih, mereka memesan nasi goreng yang kebetulan lewat depan kos Dina. Tak berapa lama nasi goreng pesanan mereka matang, mereka pun mulai memakannya karena mereka sudah sangat lapar.


Setelah selesai makan, mereka bersiap untuk tidur. Dina menyalakan lampu tidur karenaa ada teman-temannya yang menginap. Berta tidak bisa tidur dalam keadaan gelap. Sedangkan Caca seperti Dina, jika tidur lampu ia matikan semua.


"ayo sekarang cerita..." ucap Berta


"ya pasti ingat...sudah tiga hari kami tidak bisa tidur karena penasaran!" ucap Caca kesal


"oke...aku cerita ya...tapi dari mana ya...apa tidur dulu ya, soalnya sudah larut ini" Dina menarik selimutnya


"Dina...!!"ucap Berta dan Caca serentak karena merasa hanya dikerjai oleh Dina


"mas Bimo itu mantanku dulu waktu aku kelas dua SMA"


"pantas saja, kak Bimo tatapannya selalu beda kalau sedang dekat kamu" ucap Caca


"sudah kan...jadi kalian sekarang bisa tidur nyenyak" kilah Dina


"belum...kami masih sangat penasaran!" gertak Berta


"kalian mau tahu apalagi, kan sudah aku ceritakan bubunganku dengan dia itu apa" jawab Dina merasa tak berdosa padahal kedua temannya sudah bersungut-sungut

__ADS_1


"ya...cerita semuanya Din...!"ucap Caca kesal


"kalian putus karena apa?" tanya Berta


"entah...aku sendiri tidak tau Ta....tiba-tiba dia memutuskan aku tanpa alasan, dan itu yang membuat aku trauma untuk pacaran lagi" jawab Dina


"hah....aku tidak percaya kak Bimo begitu, tiap dia melihat kamu matanya itu berbinar-binar seperti orang yang sedang jatuh cinta begitu" ucap Caca


"terserah mau percaya atau tidak tapi itu kenyataannya Ca..."ucap Dina


"terus kamu masih ada rasa ke dia tidak Din?" tanya Berta penasaran


"kalau dibilang masih atau tidak aku bingung jawabnya Ta... Tapi yang jelas aku sekarang sudah punya pacar" ucap Dina semangat karena ingat Dendy


"pacar kamu anak kampus mana Din?" tanya Caca penasaran


"masih SMA" jawab Dina dengan wajah polosnya


"hah?... Berarti kamu Pendamu dong Din" ledek Berta


Dina bingung dengan istilah yang diucapkan oleh Berta, baru kali ini ia mendengar istilah itu.


"Ta...pendamu itu apa?" tanya Caca penasaran. Dina merasa keingintahuannya sudah terwakilkan oleh Caca yang memang selalu tidak sabaran.


"pencinta daun muda" Berta tergelak


"aih...kamu itu..." ucap Caca sambil melempar boneka Dina ke Berta


"sudah...sudah...ayo tidur.....aku sudah mengantuk" ucap Dina memunggungi kedua temannya yang masih memperdebatkan istilah-istilah baru mereka.


Melihat Dina sudah memunggungi mereka, Berta dan Caca pun juga ikut tidur. Mereka juga merasa lelah. Walaupun di hari terakhir masa pengenalan kampus mereka berdua hanya menjadi tim penggembira untuk kelompok mereka.


Setelah tidak terdengar suara lagi, Dina yang tadi pura-pura tidur membuka matanya dan menolahe ke arah belakangnya. Dina mendapati kedua teman barunya itu sudah terlelap dengan posisi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Dina bergerak perlahan mematikan saklar lampu. Dina tidak bisa jika tidur ada lampu yang menyala, ia merasa cahaya lampu dari balik jendela sudah cukup menerangi kamarnya di malam hari.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2