
Dendy menahan sesak di dadanya, ia terpaksa bersandiwara membohongi Dina. Entah bagaimana selanjutnya ia tak tahu. Semua ini terasa salah baginya.
Dendy merasa tersiksa, kenapa hubungannya dengan Dina kini begitu rumit. Sampai ia menitikkan air matanya. Ia tak kuasa menahan perasaannya lagi.
"kenapa harus seperti ini Den?" tanya Gilang
"aku sendiri enggak tahu mas..." Dendy terisak
Dendy mengingat semua momen bahagia bersama Dina. Mendengar suara yang selama sebulan terakhir ia hindari begitu membuatnya terpukul apalagi Dina mengatakan jika dirinya sakit.
Dendy bukannya tak peduli, tapi ia harus melakukannya. Ancaman papanya tidak main-main, jika ia terus bersama Dina. Ia tak terima dengan apa yang papanya ucapkan tapi ia bisa apa, ia tak mau disebut anak yang tidak berbakti pada papanya.
Mamanya Dendy juga begitu sedih, ia harus merelakan anak perempuan yang selama ini sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. Anak yang sering menemaninya memasak, melakukan hal-hal yang tak mau dilakukan oleh kedua anak laki-lakinya.
Yang Dendy selalu ingat kata-kata mamanya "bersabarlah, papamu mengatakan jika kamu sudah lulus nanti, kamu bisa kembali pada Dina, papamu hanya ingin kamu fokus kuliah, papamu tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika kalian terus berdekatan, apalagi kalian jauh dari orang tua"
Kata-kata itulah yang menjadi pegangan untuk Dendy, ia meyakinkan empat tahun adalah waktu yang tidak lama. Setelah empat tahun Dendy akan kembali pada Dina lagi. Ia akan memperbaiki semua yang telah ia rusak. Ia bertekad setelah lulus kelak, ia akan langsung melamar Dina.
"terima kasih Ta..." ucap Dendy terisak kepada adik sepupunya
"harus seperti ini ya mas? Aku belum mengenal kak Dina tapi dari suaranya aku tahu dia adalah orang yang menyenangkan" ucap Ita
"Dina itu berhasil menaklukkan tante Tari Ta, tahu sendiri tante itu orang seperti apa" ucap Gilang
"iya ya...tante Tari itu orangnya susah menerima orang baru, kalau bisa dekat dengan tante berarti kak Dina memang sebaik itu" Ita mengembangkan senyumnya
"Dina itu yang terbaik, tidak ada yang seperti Dina" ucap Dendy tatapannya menerawang jauh
"apa tidak ada cara lain? Kenapa harus berbohong seperti ini? Kenapa enggak dibicarakan dengan kak Dina?" Ita masih tidak mengerti kenapa Dendy melakukannya
"Dendy itu bodoh Ta, padahal kalau Dina tahu, pasti akan lebih mudah" cibir Gilang
"sudah telanjur..." Dendy terkekeh "lagi pula dengan begini, Dina tak berharap lagi paling tidak empat tahun ke depan, dan tidak bertanya-tanya kenapa tiba-tiba papa tidak setuju"
"om Doni memang aneh, enggak suka lihat anaknya bahagia" gerutu Ita
__ADS_1
"sudahlah...tidak perlu dibahas lagi, kalau bahas Dina terus kamarku bisa banjir air mata" Gilang melirik ke arah Dendy
.
Dina kembali ke kosnya, berada di rumah hanya membuat ia terasa sesak, teringat akan Dendy. Meski belum sembuh benar, tapi ia harus kembali ke kota J.
Dina butuh pelarian, pengalihan perhatiannya pada Dendy. Sekuat apapun Dina mencoba mengabaikan peristiwa kemarin tapi nyatanya Dina tak sekuat dan setegar itu.
Dina benar-benar terpuruk, ia tak menyangka akan mendapat kejutan yag tak pernah ia harapkan. Tubuhnya kian lemah, ia tak berselera makan, pikirannya kacau. Berada di kos meskipun ia tak bisa melupakan kejadian yang menyesakkan setidaknya ia memiliki teman yang menghiburnya.
Sahabat-sahabatnya pun menghiburnya dengan sering mengunjungi kosnya terkadang mereka memginap di kos Dina. Teman-teman kosnya tinggal Tere saja yang ada karena yang lain tidak mengambil semester pendek.
"Din, itu anak baru ceroboh banget..." gerutu Tere
"anak baru? Yang ada di kamar depan sendiri itu?" tanya Dina "aku belum pernah bertemu"
"iya...dia itu kalau mau jemur baju, airnya berceceran sepanjang jalan sampai jemuran" ucap Tere kesal
"oh begitu ya kak..." Dina berjalan ke arah jemuran "aawwhhh...." tiba-tiba ia terpleset dan terjatuh kakinya masuk di bawah rak plasti tempat anak-anak kos meletakkan sandal jepit mereka jika mau ke jemuran
"kamu tidak apa-apa Din?" Tere dengan sigap membantu Dina berdiri
Dina mencoba berdiri dan berjalan "aduhh...." Dina meringis kakinya hanya lecet tapi terasa sakit sekali untuk berjalan
"kamu tidak apa-apa? Ini pasti gara-gara air dari ember tadi" Tere kesal
"iya kak... Coba kak, itu ada yang pencet bel, lihat siapa yang ada di bawah" Dina berjalan pelan-pelan sambil berpegangan pada dinding
Sedangkan Tere turun ke bawah mengecek siapa yang memencet bel, karena di bawah sedang sepi. Tak lama Tere sudah tampak di depan tangga dan ada Bimo di belakang Tere.
"kamu kenapa Din?" Bimo panik berlari ke arah Dina yang berjalan tertatih kemudian ia menggendong Dina membawa masuk ke dalam kamarnya diikuti Tere dari belakang
"Dina terpeleset di dekat jemuran tadi" ucap Tere ikut panik
"mana yang sakit Din?" Bimo panik, Dina belum pernah melihat Bimo sepanik itu.
__ADS_1
"hanya lecet mas..." Dina berusaha untuk tersenyum
"ada obat luka?" tanya Bimo Dina hanya menggeleng
"aku ada..ada betadine sebentar aku ambil dulu..." Tere bergegas ke kamarnya dan mengambil peralatan P3K miliknya
Tak lama ia kembali ke kamar Dina "Ini...." Tere menyerahkan kotak P3K miliknya kepada Bimo
Dengan telaten Bimo membersihkan luka Dina kemudian membalutnya dengan perban. Dina hanya meringis menahan perih kakinya. Tapi luka itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luka hatinya.
"sudah...." Bimo merapikan kembali peralatan yang ia pakai dan mengembalikannya kepada Tere
"kalau ada apa-apa panggil saja Din....aku ada di kamar" Tere meninggalkan Dina berdua dengan Bimo
"kenapa mas kemari? Enggak kuliah?" Dina memperbaiki letak kakinya
"melihat kamu, takutnya kamu putus asa..." ucap Bimo datar kemudian duduk di depan Dina
"putus asa?" Dina mengerutkan dahinya
"aku sudah dengar semuanya dari Ratna, aku akan buat perhitungan dengan pacarmu itu" ucap Bimo dengan nada marah "kamu sampai kurus begini"
"jangan campuri urusanku mas, mas harusnya juga ingat dulu mas seperti apa, hampir sama..." ucap Dina dengan tatapan tidak suka
Bimo menghela nafasnya "maafkan aku Din..." ucap Bimo lirih
Awalnya Dina merasa senang karena Bimo begitu perhatian merawat lukanya, tapi mendengar Bimo ingin mencampuri urusannya Dina marah. Ia kembali teringat pada Bimo yang dulu.
Seharusnya dia berkaca pada dirinya, dulu ia seperti apa sekarang kenapa ia ingin menjadi pahlawan bagi Dina. Dina berterima kasih karena perhatian Bimo tapi ia tak suka jika ada yang ikut campur masalahnya.
.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g