
Pembicaraan antara Dina dan papanya Bimo berlangsung hampir dua jam. Bimo merasa was-wa, ia takut papanya melakukan hal yang membuat Dina sedih. Tapi Bimo pun tak bisa berkutik, pekerjaan yang harus ia selesaikan begitu banyak.
Bimo benar-benar merasa kawatir, ia tak tenang, dan ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Papanya dengan Dina. Bimo beranjak dari mejanya dan berjalan menuju ruangan papanya.
"kamu tidak apa-apa Din?" Bimo masuk begitu saja ke ruangan papanya tanpa permisi
Dina dan papanya menoleh ke arah datangnya suara. "Kamu pikir, papa mau berbuat apa dengan Dina hah?!" papanya Bimo kesal
"Bukan begitu pa...aku yang membawa Dina ke sini jadi aku ingin memastikan Dina baik-baik saja....aku tidak mau kejadian di kampus terulang lagi di sini" Bimo duduk di sebelah Dina
"Kalau Dina sampai kenapa-kenapa karena kamu, berarti kamu yang salah, tak bisa menjaga Dina dengan baik!"
Dina terkejut dengan ucapan papanya Bimo "apa lagi ini...kenapa papanya mas Bimo jadi membelaku bukannya membela calon menantunya" batin Dina
"ayo Din...aku antar kamu pulang..." Bimo berdiri mengulurkan tangannya kepada Dina, Dina hanya menatap datar pada tangan Bimo.
"selesaikan dulu pekerjaanmu!" bentak papanya Bimo
"aku antar Dina pulang dulu pa..." ucap Bimo datar
"selesaikan pekerjaanmu, biar papa yang antar Dina kembali ke kosnya"
"tidak bisa begitu pa..." protes Bimo
"sekarang selesaikan pekerjaanmu atau selama dua minggu kamu tidak boleh keluar rumah selain kuliah!!" ucap papanya Bimo denfgan sorot mata tajam.
"aku bisa pulang sendiri om, aku tidak mau merepotkan siapapun" Dina menyunggingkan senyumnya
"tunggu aku selesaukan pekerjaanku!" seperti biasa Bimo tak mau dibantah
"baiklah...aku temani kamu..." Dina berdiri kemudian berpamitan "saya permisi om.."
Dina berjalan keluar ruangan papanya Bimo mengekori Bimo ke meja kerjanya.
Dina kaget, karena di meja Bimo banyak sekali tumpukan kertas, sepertinya pekerjaan Bimo yang selama ini terbengkalai karena selalu menemaninya.
Dina duduk di hadapan Bimo, dan memperhatikan lembar demi lembar kertas-kertas yang dibaca Bimo kemudian mengetiknya di komputer.
"papa bicara apa denganmu?" tanya Bimo tanpa mengalihkan pandangannya pada layar komputer
__ADS_1
"Tidak bicara apa-apa mas...." jawab Dina datar
"aku tidak percaya, biasanya papa itu suka mempermainkan emosi dan perasaan orang ketika ia ingin mengenal orang itu lebih dekat"
Dina memikirkan perkataan Bimo, memang benar adanya dia merasa dipermainkan oleh papanya Bimo. Tapi Dina tak merasa berbangga hati karena sepertinya papanya Bimo lebih menyukai dirinya ketimbang calon menantunya.
"setelah ini selesai, aku antar kamu pulang ke kos... Hanya tinggal sedikit" ucap Bimo yang tampak serius membaca lembaran-lembaran kertas di hadapannya.
Dina tak menanggapi ucapan Bimo, ia termenung menatap tumpukan berkas yang ada di meja Bimo. Dalam hatinya Dina merasa kagum dengan Bimo, Bimo memakai fasilitas dari papanya tapi ia juga membantu pekerjaan papanya lebih tepatnya bekerja di kantor papanya.
Tapi Dina enggan untuk lebih dekat lagi dengan Bimo. Peristiwa di kampus hari ini membuatnya berpikir ulang. Ia tak ingin kejadian di kampus tadi menimpanya lagi. Meskipun ia mengagumi dan menyayangi Bimo, Dina tak ingin kembali terlibat dalam masalah Bimo.
Dina tak ingin dirinya selalu disalahkan atas kejadian-kejadian yang dialami Riri dan Bimo. Dina ingin berusaha lebih mandiri lagi, ia tak mau tergantunf pada Bimo.
"ayo....aku sudah selesai" ucapan Bimo membuyarkan lamunan Dina.
"hah...apa mas?" Dina tersentak kaget
"kamu melamun? Ayo aku antar kamu" Bimo berdiri dari duduknya
"ah...i..iya...baik" Dina beranjak dari duduknya.
Bimo mengajak Dina ke pusat perbelanjaan yang dekat dengan kantor papanga. Dan mengajak Dina makan di sebuah restoran cepat saji. Dina tak berselera makan, perkataan papanya Bimo terngiang-ngiang di kepalanya.
Secara tidak langsung, papanya Bimo memaksa Dina untuk menerima Bimo. Terlihat jelas di mata papanya Bimo ketika membicarakan tentang Riri kemudian dirinya.
Papanya Bimo terlihat ada kemarahan di mata papanya Bimo ketika membicarakan Riri. Tapi ketika membicarakan tentang dirinya wajahnya terlihat bahagia.
"papa bicara apa denganmu?" tanya Bimo memecah keheningan di antara mereka
"tidak bicara apa-apa, hanya obrolan ringan" kilah Dina
"aku mengenalmu Din, kamu tidak pandai berbohong" ucap Bimo lembut
Dina menghela nafasnya "seperti yang mas Bilang, mempermainkan emosi dan perasaan" Dina terkekeh
"berarti papa menyetujui kita..." ucap Bimo santai
"mas...!" Dina membulatkan matanya
__ADS_1
"iya...iya maaf..." Bimo menyadari ucapannya salah.
Setelah selesai makan, Bimo mengajak Dina ke sebuah toko yang menjual ponsel. Bimo melihat-lihat ponsel yang dipajang di etalase toko. Dina hanya diam sesekali melihat ponsel yang terpajang.
Secara spontan Dina menunjuk sebuah ponsel yang sederhana, yang harganya sesuai dengan uang tabungannya.
"ambilah kalau kamu mau"ucap Bimo lembut
"hemmm"
"ini berapa harganya" tanya Bimo pada pelayan toko
"Rp. XXXX.... " jawab pelayan toko itu
"aku mau yang ini mas..."ucap Dina kepada pelayan toko
Pelayan toko membungkus barang yang dibeli Dina. Dina pun mengeluarkan uangnya dari tas yang ia bawa "ini mas..." Dina memberikan uang yang ia bawa tadi
"aku yang bayar Din...." ucap Bimo dengan nada tak mau dibantah
"sudah cukup mas memberikan aku barang-barang mewah, biar ini aku yang bayar" ucap Dina datar
Bimo mengalah, ia tak mau ribut di tempat umum. Lagipula ia tahu Dina tidak pernah akan mau membeli barang dibayari oleh orang lain, apalavi untuk barang yang harganya mahal
Pelayan toko itu memberitahu cara menggunakan ponsel, setelah Dina paham, pelayan itu membereskan kelengkapan ponsel milik Dina.
"sini aku ketik nomor ponsel ku" Bimo menarik ponsel yang ada di genggaman tangan Dina.
Bimo mulai mengetikkan nomor ponselnya ke dalam ponsel Dina, kemudian mengembalikannya kepada Dina.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1