Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 161 Libur Akhir Semester


__ADS_3

Setelah selesai makan, Dendy naik ke kamarnya untuk berganti baju sedangkan Dina duduk di ruang tengah menonton tv. Dina tak menyadari jika Dendy telah turun.


Dendy ingin membalas kejahilan Dina. Dendy mengendap-endap ke belakang sofa tempat Dina duduk. Kemudian Dendy memeluk Dina dari belakang dengan mengecup mesra puncak kepala Dina.


Dina membelai kepala Dendy dan tersenyum "ada apa?"


"cuma ingin memeluk kamu" ucap Dendy lirih


"aku pulang ya..." ucap Dina


"baru juga bertemu sudah mau pulang saja" Dendy merajuk


"besok-besok masih ada waktu, aku libur lumayan lama" Ucap Dina lembut "lagipula aku capek, baru sampai langsung ke sini"


"kalau capek istirahat dulu saja" ucap Dendy lembut


Dendy menggandeng tangan Dina naik ke kamarnya. Dina pun merbahkan tubuhnya di tempat tidur milik Dendy. "kalau aku ketiduran bangunkan aku jam tiga ya..."


"iya..." ucap Dendy lembut kemudian ia juga ikut merebahkan dirinya di kasur. Dendy memeluk Dina dan membelai kepala Dina sesekali mengecup dahi Dina.


"sayang...."


"iya..." Dina menatap Dendy


Dendy kembali mengecup bibir Dina meraih tengkuk Dina dan memperdalam ciumannya dan **********. Kini Dina tak hanya diam, ia membuka bibirnya mengijinkan lidah Dendy untuk masuk.


Ciuman yang awalnya lembut menjadi lebih agresif. Tangan Dendy mulai membelai punggung Dina, ia merapatkan tubuhnya. Dina pun tak tinggal diam, ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Dendy.


Hawa panas mulai merasuki tubuh mereka, tangan Dendy mulai bermain-main di tubuh Dina. Mereka berciuman seakan tidak ada hari esok. Menyalurkan segala rasa yang ada.


Ciuman Dendy mulai turun ke leher Dina. Ia menciumi leher Dina hingga tak ada satu incipun terlewat. Tangan Dendy pun mulai membelai tubuh Dina dengan agresif.


Ciuman Dendy mulai turun lagi, ia membuka dua kancing tearatas kemeja Dina, ia mulai menciumi dada Dina. Dina yang mulai hanyut dalam ciuman Dendy. Matanya hanya terpejam menikmati sensasi ciuman Dendy yang memabukkan.


Dendy mulai meremas bagian dada Dina, kemudian ia berpindah menindih tubuh Dina menciumi bagian leher dan dada Dina. Ia mulai menggesek-gesekkan bagian bawah tubuhnya pada bagian bawah tubuh Dina.

__ADS_1


Ada sensasi yang tak biasa yang mereka rasakan. Mereka berdua hanyut dalam rasa itu. Ingin meraih sesuatu yang lebih. Mereka saling membelai saling meremas dan saling menggesekkan bagian tubuh mereka.


Tiba-tiba seakan mereka tersengat listrik mereka berdua merasakan ada sebuah desakan yang harus mereka keluarkan, mereka semakin liar menggerakkan tubuh mereka. Saat desakan itu tak tertahankan mereka berdua pun berteriak bersama merasakan ada sesuatu kelegaan yang mereka capai.


Nafas mereka terengah-engah, Dina membuka matanya dan menatap Dendy dengan pandangan sayu begitu pun dengan Dendy. "maaf" ucap Dendy penuh penyesalan.


"kita berdua sama-sama menikmatinya, aku harap kita tidak memgulanginya lagi, aku takut...." ucap Dina sedih


"iya...aku juga takut kita tidak bisa mengendalikan apa yang kita inginkan" ucap Dendy lembut membelai wajah Dina


"aku mencintaimu sayang...." ucap Dendy dengan tatapan penuh cinta


"aku juga mencintaimu" Mereka berdua pun berpelukan. Meski mereka tidak sampai terlalu jauh tapi ada penyesalan dalam hati mereka karena tidak bisa mengendalikan apa yang mereka rasakan.


Dendy membantu mengancingkan baju Dina yang ia lepas tadi. Memeluk erat tubuh Dina, ia begitu mencintai Dina, ia ingin memiliki Dina seutuhnya, tapi ia harus lebih bersabar karena ia menyadari jika mereka masih terlalu muda.


Hari-hari liburan Dina dilalui dengan sukacita. Meski awalnya canggung karena kejadian tempo hari, tapi mereka berdua semakin mesra. Setiap pulang sekolah Dendy menyempatkan datang ke rumah Dina walau hanya sebentar. Di hari minggu mereka berdua jalan-jalan ke manapun yang mereka suka.


Dendy lebih menyukai alam, mereka berdua jalan-jalan kalau tidak ke danau, ke gunung atau ke pantai. Dina benar-benar bahagia, ia lupa kalau selama di kota J ia sering menghabiskan waktu bersama Bimo.


Benar-benar liburan yang menyenangkan bagi Dina. Ia bisa pergi ke tempat-tempat yang selama ini belum pernah ia datangi. Dendy memang pandai membuat Dina merasa senang.


"liburku tinggal satu minggu lagi..." ucap Dina sedih


"iya..." ucap Dendy membelai lembut kepala Dina


"setelah ini sepertinya aku akan sulit untuk pulang setiap seminggu sekali" ucap Dina dengan tatapan sedih


"memangnya ada apa?" tanya Dendy


"semester dua ini rencana mau ambil mata kuliah lebih banyak dari semester lalu dan pastinya tugas-tugas juga akan semakin banyak"


"aku mengerti...." Dendy berusaha menenangkan Dina


"di hari jadi kita aku usahakan pulang "ucap Dina lirih

__ADS_1


"kalau tidak bisa jangan dipaksakan...." ucap Dendy dengan tatapan teduh


Mereka berdua duduk di tepi pantai, Dendy memeluk Dina daris samping Dina pun meletakkan kepalanya di bahu Dendy menikmati suara ombak yang menderu.


Awan mulai menghitam, mereka berdua bergegas meninggalkan pantai takut jika akan tersapu ombak jika hujan mulai turun.


Dendy mengantarkan Dina pulang, masih belum terlalu sore mereka sudah tiba di rumah Dina.


"mau mampir dulu atau langsung pulang?" tanya Dina


"aku langsung pulang saja ya..." ucap Dendy lembut


"hati-hati di jalan" Dina melambaikan tangannya melepas Dendy yang pergi meninggalkan rumahnya


Dendy melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sampai di rumah, papanya sudah menunggu di teras depan rumahnya.


"dari mana saja kamu?" tanya papanya Dendy


"dari pergi dengan Dina pa..." ucap Dendy sambil memarkirkan motornya


"ingat kamu sekarang kelas tiga, sebentar lagi kamu ujian...jangan banyak pergi-pergi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat" ucap papanya Dendy


"iya pa..." jawab Dendy lirih kemudian ia masuk ke dalam rumah.


Entah mengapa semakin hari papanya Dendy sepertinya tidak menyukai Dina. Padahal di awal mereka berpacaran tidak ada yang menentang hubungan mereka.


Sejak Dina kuliah, papanya Dendy mulai berubah, tidak sehangat biasanya ketika Dina berkunjung ke rumah. Dendy pun merasakannya tapi ia tidak berani bertanya lebih jauh.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2