
Hari ujian masuk perguruan tinggi negeri tinggal dua hari lagi. Dina berusaha untuk melupakan masalahnya dengan Dendy. Meski Dina berhasil mengalihkan perhatiaannya dengaj belajar tapi tubuhnya ternyata tak bisa menipunya.
Dina pulang dengan kondisi badan mulai demam. Dina berusaha tak menghiraukan rasa sakitnya. Ada kekawatiran jika ia tak bisa mengikuti ujian itu.
Malam hari sebelum ujian berlangsung, demamnya semakin tinggi bahkan Dina sempat pingsan di kamarnya tanpa ada yang tahu. Karena tekadnya untuk kuliah di kedokteran masih begitu tinggi, ia meminum obat penurun panas agar esok hari ia merasa lebih baik dan bisa mengikuti ujian.
Paginya demam Dina mulai turun, ia berangkat menaiki motornyaa ke lokasi ujian. Meski kepalanya terasa pusing ia berusaha mengerjakan ujiannya dengan baik.
Hari pertama ia lalui dengan baik, meski masih demam. Sesampainya di rumah, ia mengecek ponselnya masih tak ada kabar dari Dendy. Dina merasa begitu rindu , apalagi kondisi sakit seperti itu Dina semakin teringat dengan Dendy.
Malam harinya demamnya naik lagi, Dina tidak memberi tahu mamanya, ia takut mamanya tidak mengijinkan ia pergi untuk ujian. Dina menghindari orang tuanya agar, tidak ada yang tahu kalau ia sakit.
Pagi harinya demamnya membaik, Dina berangkat tes hari kedua. Dina berusaha mengerjakan sebaik mungkin. Apapun hasilnya Dina siap menerimanya, karena ia mengerjakan dalam kondisi sakit Dina tak berharap ia akan lolos ujian.
Ujian hari kedua telah selesai, rasa rindu Dina semakin menjadi, Dina tak langsung pulang, ia mampir di taman biasa ia menghabiskan waktu bersama Dendy.
Dina merenung, memikirkan Dendy, rasa sedih, rindu dan marah bercampur di dalam dadanya. Dina merasa badannya semakin lemas ia memutuskan untuk pulang.
Sesampainya di rumah mamanya sudah menunggu di depan rumah.
"mama perhatikan dua hari ini kamu tampak pucat, kamu sakit?" mama Vera memegang dahi Dina
"iya ma, dua hari ini aku demam, malam sebelum ujian hari pertama aku sempat pingsan" ucap Dina
"kenapa tidak bilang mama Dina?!" mama Vera marah
"aku tidak apa-apa ma" Dina berjalan masuk ke rumah
Mama Vera mengikuti Dina masuk ke kamarnya Dina "sudah minum obat?"
"sudah ma..." Dina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya
"ya sudah kamu istirahat dulu, mama buatkan bubur untuk kamu" mama Vera meninggalkan kamar Dina
Dina mengambil ponselnya kemudian mengetik pesan
__ADS_1
โ sayang, kamu dimana? Aku sakit
Dina mengirim pesan untuk Dendy, Dina berharap pesan itu akan dibalas oleh Dendy. Meski merasa mustahil tapi Dina tetap mengirimkannya.
Banyak pesan ia kirim untuk Dendy, tapi sampai saat ini pesan itu statusnya masih pending. Ponselnya pun tak bisa ditelepon, sejak mereka berdua memiliki ponsel, Dina hampir tak pernah menelpon rumah Dendy lagi.
Saat ini pun ia merasa tak ada gunanya menelepon rumah Dendy, pernah sekali menelepon rumah Dendy dan yang mengangkat adalah papanya, terdengar suara papanya tidak begitu ramah seperti biasanya dan mengatakan Dendy sedang keluar.
Dina merasa tidak enak hati jika menelpon rumah Dendy, ia berpikiran mungkin suasana rumah Dendy sedang tidak baik jadi ia mengurungkan niatnya menelepon rumah Dendy.
Malam harinya Dina demam semakin tinggi dari hari-hari sebelumnya. Ia terbaring lemas di kamarnya, mama papanya membujuknya untuk pergi ke dokter tapi Dina tidak mau.
Alam bawah sadar dan tubuhnya merespon stress, kerinduannya akan Dendy dan akhirnya ia jatuh sakit. Belum pernah Dina demam tinggi berhari-hari seperti sekarang. Mamanya menjadi kawatir melihat Dina seperti itu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Kemauan Dina keras seperti papanya, tidak semua orang bisa membujuk Dina ketika sudah memeiliki kemauan. Apalagi ketika sedang sakit seperti sekarang, jika ia tidak mau diajak ke dokter, akan percuma obat pasti tidak akan ia minum.
Dua hari kemudian kondisi Dina berangsur membaik, meski masih merasakan pusing karena demam yang tinggi, Dina sudab bisa bangun dari tempat tidur.
Setelah mandi sore, Dina merebahkan dirinya kembali di atas tempat tidur, mamanya bersikeras Dina harus memulihkan dirinya sebelum kembali ke kos. Kebetulan Dina hanya mengambil dua mata kuliah saja di semester pendek jadi ia bisa sedikit beristirahat sebelum kembali kuliah.
Perasaan Dina mengatakan jika itu Dendy yang meneleponnya. Dina memutuskan untuk menelpon balik nomor tersebut. Dina berjalan keluar rumah menuju ke halaman, dengan perasaan penuh harap jika itu benar Dendy.
Lama menunggu akhirnya terdengar suara yang sangat ia rindukan, tapi Dina masih belum yakin ia takut semua hanya halusinasinya karena ia terlalu merindukan Dendy
^^^๐ฒ Halo^^^
"halo...ini siapa?"
^^^๐ฒmemangnya siapa? ^^^
"nomer baru?"
^^^๐ฒ hehehehe^^^
"aku sedang sakit Den...."
__ADS_1
^^^๐ฒ ada yang mau bicara dengan kamu^^^
Diam....
"siapa Den?"
^^^๐ฒ halo ini kak Dina ya?^^^
Terdengar suara cewek dari seberang sana, perasaan Dina tak enak, tapi ia mencoba berpikiran positif, ia tak mau berpikiran macam-macam sebelum memastikan siapa pemilik suara itu
"iya...ini siapa?"
^^^๐ฒ aku Ita kak, temannya kak Dendy ^^^
Deg....Dina termenung, ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, siapakah dia, pikiran Dina berkecamuk.
^^^๐ฒsudah ya kak, daah kak Dina^^^
^^^๐ฒ halo Din...sudah dulu ya, aku mau pergi, jaga diri baik-baik^^^
"ah...iya Den apa?"
sambungan teleponnya terputus, Dina bertanya-tanya siapa Ita, dan kenapa nomor ponsel Dendy berubah.
Kepala Dina terasa pusing lagi, ia mencoba menelpon nomor tadi tapi sudah tidak aktif. Beberapa kali a mencoba menelpon tapi hasilnya tetap sama, nomornya tidak aktif.
Seperti tersambar petir, telepon yang ia tunggu-tunggu ternyata bukan suara Dendy seperti yang ia harapkan, suara cewek yang ia belum pernah tahu sebelumnya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1