
Krisna yang mendengar keluh kesah Dendy menjadi kesal. Karena apa, dulu sewaktu mendekati Dina, Dendy pasif menganggap dengan dia tidak terlalu menunjukkan rasa sukanya Dina akan bisa menyadarinya. Seperti sekarang ketika Dina tidak bisa dihubungi dia hanya berdiam diri saja di rumah, berharap ada kejaiban Dina akan mendatanginya terlebih dahulu.
Padahal perempuan itu selalu ingin dimanja dan ingin selalu merasa diharapkan kehadirannya. Tapi tidak dengan Dendy, dia hanya berpikiran yang penting rasa sayangnya, bahkan dia merasa sudah cukup memperhatikan Dina. Nyatanya Dina tidak ada kabar dia hanya sesekali menelponnya.
"kamu sudah berapa kali telepon Dina?" tanya Krisna
"hmm...sepertinya baru tiga kali" ucap Dendy mengingat-ingat berapa kali ia sudah menelpon rumah Dina
"baru tiga kali?! Dalam dua minggu kamu baru tiga kali menelponnya?!" Krisna membelalakkan matanyanya sungguh heran dengan temannya yang satu ini, punya masalah dengan pacarnya tapi kenapa tidak sedikitpun berusaha untuk memperbaiki hubungannya.
Dendy hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah tanpa dosanya. Krisna makin dibuat kesal dengan temannya itu, ia kira Dendy sudah berkali-kali menelponnya ternyata apa yang ia pikirkan salah.
"aku kira kamu berulang kali menelponnya, ternyata...." Krisna menggeleng-gelengkan kepalanya
"kalau kamu seperti ini terus, yang ada Dina diambil orang yang lebih cepat dan tanggap terhada apa yang Dina inginkan"
"kamu masih ingat saingan-saingan kamu waktu mendekati Dina, mereka setiap hari memberikan perhatian, bahkan ketika Dina sudah menjadi pacar kamu, mereka masih memberi perhatian kepadanya" imbuh Krisna
"tapi Dina tetap memilih aku..." ucap Dendy bangga
"iya...karena Dina tipe cewek yang setia, coba kalau Dina tidak setia dia sudah memutuskan kamu dari kemarin-kemarin!" ucap Krisna sengaja agak keras agar Dendy sadar
"terus aku harus apa sekarang?" tanya Dendy
"aduh...aku jadi heran kenapa Dina mau dengan kamu, tahu begini aku dulu mendekati Dina" ucap Krisna sinis
"jangan coba-coba merebut Dina dari aku ya...!" ucap Dendy yang tiba-tiba menarik kerah kaos yang dipakai Krisna
"mungkin bukan aku Den, tapi yang lain bisa jadi" ucap Krisna menertawakan tingkah Dendy.
Dendy tidak ingin pacarnya direbut, tapi dia sendiri yang memberikan celah bagi orang lain untuk mendekatinya.
Setelah mendengar ucapan Krisna, Dendy melepaskan cengkeraman baju Krisna. Ia menyadari kalau memang sikapnya sekarang hanya akan memperburuk keadaan.
"sekarang temani aku ke rumah Dina" ucap Dendy
"Dina tidak ada di rumah Den..." Krisna terkekeh
"kamu kenapa bisa tahu Dina tidak ada di rumah?" tanya Dendy menahan emosinya
__ADS_1
"kamu mengaku pacar Dina, tapi Dina dimana dan dengan siapa tidak tahu" cibir Krisna
"tidak usah berbelit-belit...cukup katakan Dina dimana?" ucap Dendy
"aku tidak tahu..." ucap Krisna acuh
"tadi kamu bilang Dina tidak di rumah, tapi kamu tidak tahu, yang benar itu yang mana?!" Dendy emosi
"yang aku tahu tadi waktu perjalanan ke sini aku melihat Dina berboncengan dengan Widi" ucap Krisna menarik salah satu sudut bibirnya ke atas
Tadi Krisna sempat melihat Dina berboncengan dengan Widi, mereka sebenarnya tidak hanya berdua melainkan beramai-ramai dengan kru SMAX fm. Krisna sengaja sedikit berbohong untuk mnegerjai Dendy, agar ia tahu kalau masih banyak yang mendekati Dina meskipun sudah punya pacar.
"kamu lihat dimana hah?!" Dendy bertanya dengan nada marah
"tadi aku melihat mereka ke warung bakso dekat taman kota" ucap Krisna dengan menarik satu sudut bibirnya ke atas
"antar aku ke sana sekarang!" ucap Dendy datar, ia merasa cemburu Dina bisa pergi dengan orang lain, tapi hanya sekedar untuk menelponnya saja tidak ada waktu.
"kalau sekarang aku tidak yakin mereka masih ada di sana" ucap Krisna dengan tatapan jahilnya
"kalau begitu temani aku ke rumah Dina" Dendy beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya mengambil jaket serta kunci motornya.
"ayo, berangkat sekarang" Dendy berjalan melewati Krisna dan menuruni tangga. Mau tidak mau Krisna mengikuti Dendy, karena ia teman setianya Dendy.
.
.
Di tempat lain, Dina sedang makan bakso beramai-ramai dengan kru SMAX fm. Mereka menyempatkan untuk berkumpul sebelum mereka berpisah, karena mereka tidak tahu kemana mereka setelah lulus nanti.
"tumben kamu pergi dijemput Widi" ucap Joni menyindir Dina
"memangnya ada apa?" Dina mengamati teman-temannya satu per satu
"maksud mereka, tumben kamu perginya aku jemput, biasa juga kamu berangkat sendiri, tidak apa-apa kalau kamu boncengan sama aku?" ucap Widi
"tidak masalah, memangnya ada yang salah ya kalau aku pergi dengan sahabat-sahabatku?" Dina sudah tahu maksud teman-temannya itu tapi hanya pura-pura tidak mengerti maksud mereka
"iya tidak masalah, hanya saja kamu sudah punya pacar, apa tidak marah pacarmu itu?" tanya Alex
__ADS_1
"buat apa marah, dia juga pergi dengan cewek lain, jadi ya...di sinilah aku" Dina terkekeh
"kalian putus?" tanya Widi datar
"entahlah Wid...aku malas membahasnya, sudah...sudah...tidak perlu kita bahas hal yang tidak penting" ucap Dina menyudahi pembahasan mengenai dirinya
"sekarang yang perlu kita bahas, bagaimana kelanjutan SMAX fm kalau kita sudah lulus nanti" ucap Dina
"iya...betul...betul itu" celetuk Anto
"kalau aku sih, sudah jelas kalau tidak kuliah di sini ya di kota sebelah "ucap Dina
"iya sama, aku juga rencana juga tidak jauh-jauh dari rumah kasihan ibu bapakku tidak ada yang menemani" ucap Angga
"hmm...kalau aku kuliah di kota sebelah, seminggu sekali masih bisa pulang, jadi sabtu atau minggu masih bisalah bantu-bantu di studio" ucap Dina
"sama aku juga inginnya kuliah di kota sebelah saja" ucap Widi
"apa perlu kita membuka pendaftaran kru baru?" tanya Joni
"kalau dari yang pernah aku dengar, Pak Har tidak bisa mempercayakan radio kita ke adik-adik kelas, karena menurutnya belum ada bakat-bakat yang bagus pada adik-adik kelas kita" ucap Alex
"sudah begini saja...kita kembalikan lagi ke Pak Har, soalnya tidak mungkin 'kan kalau kita yang harus mengurus studio, sedang kita sudah kuliah dan belum tentu juga jadwal kuliah kita kelak bisa sesuai dengan apa yang kita rencanakan" ucap Dina
Mereka semua menyetujui ucapan Dina, karena mereka tidak tahu nasib yang akan membawa mereka. Memang mereka menghendaki masih bisa membagi waktu antara kuliah dan mengurus studio, tapi mereka juga tidak tahu bagaimana ke depannya.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Yuk bestie...ditunggu votenya
Like dan komennya juga ditunggu, terima kasih sekebon bestie
__ADS_1