Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 99


__ADS_3

Dina masih tiduran dengan berbantalkan paha Dendy. Dendy membelai-belai rambut Dina. Mereka berdua diam, larut dengan pikirannya masing-masing.


Dina menikmati kebersamaannya dengan Dendy, sebelum ia disibukkan kembali dengan persiapan tes masuk perguruan tinggi negeri. Dan mungkin juga setelah itu ia harus berjauhan dengan Dendy.


Dina ingin memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, sebelum mereka terpisah jarak nantinya. Dina ingin menciptakan quality time bersama dengan orang yang ia sayangi. Bersama Dendy dia begitu yakin bahwa hubungan mereka akan terjalin lama, dan merasa Dendy adalah jodohnya kelak.


Meskipun Dendy sempat mengecewakannya, Dina tetap memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Bahkan kali ini Dina berusaha mengakrabkan diri dengan keluarga Dendy. Berharap setelah ia dekat dengan keluarganya Dendy kejadian penghianatan Dendy tidak akan terulang lagi.


Terlepas dari tujuannya itu, Dina merasa sangat nyaman berada di tengah-tengah keluarga Dendy yang begitu terbuka menerimanya. Mamanya Dendy benar-benar membuatnya merasa diinginkan di dalam keluarga itu.


"sayang....kamu tidur beneran?" tanya Dendy sambil membelai rambut Dina


"tidak..." jawab Dina lirih


"kamu jadi kuliah di kota J ?" tanya Dendy


"belum tahu Den... Kita lihat besok hasilnya seperti apa?" ucap Dina


"jaga hatimu untukku ya" ucap Dendy seolah-olah Dina akan pergi besok


"kamu juga ya sayang.... Jangan pernah duakan aku lagi " ucap Dina masih dalam posisi tidur menyamping


"aku janji.... " ucap Dendy mantap


"aku pulang sekarang ya..." Dina bangun dari tidurnya dan duduk di samping Dendy


"biarkan seperti ini sebentar lagi sayang..." Dendy menarik Dina dalam dekapannya dan memeluknya erat. Menciumi puncak kepala Dina berkali-kali seolah-olah tidak akan mau berpisah dengan Dina


Dalam hati Dendy merasa sangat bersalah telah menduakan Dina. Dia ingin mengganti waktu beberapa minggu terakhir yang hilang karena kesibukan Dina dan keegoisannya.


"entah kenapa aku tidak rela jika kamu pulang" ucap Dendy masih memeluk Dina


"tidak mungkin aku menginap di sini Den" ucap Dina lirih


"ah...andaikan rumah kita berdekatan pasti aku tidak akan kesepian" ucap Dendy


"kamu itu ada-ada saja, masih ada mama, papa dan adikmu" Dina terkekeh


"itu beda Din...mereka keluargaku dan kamu itu orang yang aku sayangi dan cintai" ucap Dendy


"kamu tahu lagunya BIP yang tempo hari 'kan, seperti itulah kata-kata dalam hatiku ketika aku rindu padamu tapi kamu tidak ada" ucap Dina


"jadi kamu juga sering merindukan aku ya?" tanya Dendy menggoda Dina


"sering" Dina mencebik "yang dirindukan tidak tahu, entah kemana perginya tidak ada kabar" lanjutnya


"hahaha....iya...iya...maaf...aku akan berusaha membagi waktu untukmu Yang..." Dendy tergelak

__ADS_1


"sudah ya...aku pulang sudah sore, aku tadi pamit mama tidak lama perginya" ucap Dina


"ya sudah...besok-besok kalau ke sekolah lagi mampir ya, atau kalau tidak aku yang ke rumahmu" ucap Dendy mengacak rambut Dina


"iya...iya...nanti tolong pamitkan ke mamamu ya" Dina beranjak dari duduknya dan memakai jaket yaang tadi ia letakkan di kursi ruang tamu


"iya...hati-hati di jalan, tidak usah ngebut" ucap Dendy sambil membuka pintu ruang tamunya


Dina berjalan keluar rumah Dendy dan memakai helmnya kemudian mengeluarkan motornya keluar pagar rumah.


"aku pulang dulu ya sayang..." ucap Dina sambil menyalakan mesin motornya.


"iya...hati-hati...!"


Dina melajukan motornya meninggalkan rumah Dendy. Hari ini dia merasa senang, setidaknya setelah permasalahan yang terjadi di antara dia dan Dendy ada hikmah yang bisa ia ambil. Hikmahnya adalah dia menjadi lebih dekat dengan Dendy dan keluarganya.


.


.


Keesokan harinya, Dendy sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dia sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi. Ketika ia sudah selesai makan, telepon rumahnya berbunyi dan yang menerima telepon adalah Gilang


"Den...ada telepon" ucap Gilang sambil berjalan menaiki tangga


"dari siapa?" tanya Dendy tapi tidak ada jawaban dari Gilang


^^^☎️halo Den^^^


"ada apa?"


^^^☎️bicaranya ketus banget^^^


"iya ada apa? Cepat katakan aku mau berangkat"


^^^☎️kebetulan, jemput aku ya Den aku ada urusan di dekat sekolahmu^^^


"berangkat saja sendiri!"


Dendy menutup teleponnya, dia malas meladeni Nia yang masih saja mengganggunya. Salahnya juga dia menanggapi Nia yang mencoba mendekatinya tempo hari.


Dendy berangkat ke sekolah dengan perasaan kesal dan marah. Sepagi ini sudah ada yang membuat moodnya hancur. Ia berharap setelah sampai di sekolahnya tidak ada lagi yang mengganggunya dengan hal-hal yang tidak penting


.


.


Malam harinya Gilang mengajak Dendy untuk ke studio SMAX fm. Gilang ingin mengirim lagu untuk Maya yang sudah lama tidak ia temui. Mereka berdua pergi ke SMAX fm naik motornya Gilang. Setelah sampai di sekolah Gilang mereka masuk ke studio, kebetulan yang berada di sana adalah Alex dan Joni.

__ADS_1


"eh... Lang tumben ke sini malam-malam" ucap Alex


"iya...sudah lama ingin ke sini baru sekarang kesampaian" Gilang terkekeh


"ada kartu yang biasa buat titip salam tidak?" tanya Gilang


"sebentar..." Joni mengambilkan beberapa lembar kartu yang dipergunakan untuk menulis salam dan pesan serta lagu yang ingin diputar, yang mereka jual dengan harga sukarela sebagai uang lelah untuk para penyiar.


Gilang menulis pesan dan salam untuk Maya sedangkan Dendy untuk Dina tak lupa ia juga ingin diputarkan lagu khusus untuk Dina. Lagu favorit Dina yang sekarang menjadi lagu favorit mereka berdua.


Setelah menulis pesan-pesan mereka, Gilang menyerahkan kartu-kartu tersebut ke Alex dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam kotak yang telah di sediakan. Kemudian mereka pamit ke Alex dan Joni dan mereka berjalan keluar studio.


"besok semua kelas tiga jadi masuk 'kan mas?" tanya Dendy ke Gilang


"iya..." jawab Dendy


"aku mau ke kelasnya Dina, kira-kira dikunci tidak ya...?" ucap Dendy


"biasanya sih...tidak dikunci" ucap Gilang


Mereka berdua berjalan ke arah ruang kelas Dina. Suasana malam hari di sekolah Dina sungguh menyeramkan. Melewati lorong kelas IPS dan kelas IPA. Gilang merutuk dalam hatinya kenapa juga kelas Dina terletak di ujung.


Setelah sampai di depan kelas Dina, Dendy membuka pintu ruang kelas Dina. Ruang kelas itu benar-benar gelap gulita tak ada cahaya dari luar yang menerobos masuk ke dalam kelas.


Gilang meraba-raba dinding dan berhasil menemukan saklar kemudian menyalakannya.


"kamu di sin mau apa?" tanya Gilang


"entahlah...aku hanya ingin melihat kelas Dina sebelum Dina lulus" ucap Dendy


"Dina sekarang duduk di situ, bersama Putra" ucap Gilang menunjuk bangku dimana biasa Dina duduk.


Dendy berjalan ke arah tempat duduk Dina, dan kemudian ia duduk dimana Dina biasa duduk. Dendy diam melamun, membayangkan ia yang duduk di sebelah Dina.


.


.


.


B E R S A M B U N G


Dukung terus karya ini ya bestie


Please like, komen dan votenya ya...


Terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2