
Dendy dan Dina memutuskan untuk segera pulang ke kos Dina. Meski Dendy ingin berlama-lama jalan berdua dengan Dina, tapi ia tak boleh egois. Dendy lah yang selalu mengingatkan Dina, jangan pernah mengorbankan kuliahnya demi dirinya.
Dendy harus menerima konsekwensi atas perkataannya. Ia ingin selalu mendukung Dina, ia tak ingin karena dirinya kuliah Dina jadi berantakan. Ia sudah berjanji pada Dina akan selalu mendukung semua keputusan Dina selama itu memang baik bagi Dina.
Seperti Dina juga selalu mendukungnya dalam setiap apa yang ia lakukan. Dina adalah penyemangatnya begitu juga sebaliknya. Mereka saling mendukung dan memberikan semangat satu sama lain.
Mereka berdua telah sampai di kos Dina. Di depan kosnya sudah ada Caca dan Berta serta Ratna sudah menunggunya.
"pacar baru Din?" tanya Ratna dengan tampang polosnya, Caca yang sudah tahu itu adalah Dendy menyenggol lengan Ratna
Dina terkekeh "pacar lama rasa baru Na..." Dendy hanya tersenyum meelihat interaksi Dina dan teman-temannya.
"ayo masuk..." Dina berjalan masuk ke kosnya diikuti Dendy dan teman-teman Dina
"Din...kita ganggu ya...?" ucap Caca dengan wajah polosnya
"sudah tahu mengganggu masih saja masuk ke kos Dina" cibir Berta
"sudah...sudah....ayo cepat kerjakan, nanti kalian tinggal mengetiknya" Dina meletakkan tasnya.
"Yang...kamu kalau mau istirahat, tidur saja dulu, nanti kalau aku sudah selesai aku bangunin" ucap Dina lembut
"iya..." ucap Dendy lembut dengan tatapan teduhnya
Dendy merebahkan tubuhnya di kasur Dina, ia sangat lelah, mencoba memejamkan matanya sembari menunggu Dina menyelesaikan tugasnya.
"Ayo...bagian mana yang kurang, cepat selesaikan" ucap Dina sambil mengambil kacamatanya.
"iya...iya..." Berta mulai mengeluarkan kertas-kertas dan mulai mencatat apa yang Dina ucapkan.
Mereka berempat berdiskusi menyelesaikan tugas mereka secepat mungkin. "ini kalau langsung diketik pasti lebih cepat, sayangnya tidak ada yang punya komputer" ucap Berta
"aku ada di kos...tapi kalian tahu sendiri kosku paling jauh" ucap Ratna
"masak Ratna sendiri yang disuruh mengetik?" ucap Caca
"enggak masalah sih sebenarnya..." ucap Ratna
"aku bisa bantu, tapi enggak hari ini" ucap Dina tersenyum merapatkan dua baris giginya
"iya...iya...yang sedang dijenguk pacar" cibir Berta
__ADS_1
"aku bisa bantu mengetik tapi besok pulang kuliah, bagaimana Na? Kita besok kuliah satu kelas kan?" ucap Dina
"iya...bisa...bisa....kita besok sekelas, juga sekelas sama...."ucapan Ratna menggantung mendapat tatapan tajam dari Dina
"sekelas dengan siapa?" tanya Caca polos
"itu sama...Dio...tau kan Dio...?" kilah Ratna yang mengerti tatapan tajam dari Dina
"ah....kalian sekelas dengan Dio? Tahu begitu aku ambil mata kuliah yang sama dengan kalian" ucap Caca berbunga-bunga
"Dio yang badannya kecil, pakai kacamata, yang tiba-tiba suka pinjam catatan kita waktu semester satu itu?" tanya Berta
"betul...idola temanmu itu tuh..." ucap Dina menunjuk pada Caca
"meski kelihatannya kecil tapi good looking ya..." Caca tak terima
"iya...iya...daripada nanti menangis, aku enggak punya permen" Dina terkekeh
"sudah...sudah...ini tinggal ketik kan Din?" tanya Ratna
"iya itu sudah semua...." jawab Dina sambil membereskan buku-bukunya
"ya sudah nanti malam aku cicil dulu, moga saja ayang enggak ke kos" Ratna terkekeh
"iya...iya besok ayang aku, aku ungsikan dulu" Ratna mencebik
"sudah...sudah...ayo pulang kasihan itu pacar Dina nanti terganggu tidurnya" ucap Berta
"ternyata kamu sadar ya Ta...." Ratna tergelak
"ayo...ayo..." mereka bertiga beranjak keluar dari kamar kos Dina pulanf ke kos masing-masing.
Dina menutup pintunya ia memebereskan kertas-kertas serta buku-bukunya. Kemudian ia menyusul Dendy yang tidur kemudian memelukknya dari belakang.
"aku tahu kamu tidak tidur" bisik Dina
"mana mungkin aku tidur, teman-temanmu itu berisik sekali" Dendy membalikkan badannya menghadap Dina.
"maaf ya...hari ini aku masih sibuk dengan tugasku"
"heii...ini bukan hari libur, aku maklum kalau kamu masih sibuk mengerjakan tugas kuliahmu" ucap Dendy lembut sambil membelai rambut Dina
__ADS_1
Dina menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Dendy. Ia memeluk erat tubuh Dendy, Dina merindukan saat-saat bisa berdua dengan Dendy tanpa ada yang mengganggu mereka.
Beberapa minggu terakhir waktu mereka bertemu hanya sebentar. Bahkan waktu Dina sakit pun Dendy tak menjenguknya. Dina kesal tapi berusaha mengerti keadaan Dendy.
"berarti kamu tadi mendengarkan semua celotehan teman-temanku?"
"iya...aku dengar semuanya....ternyata diam-diam mengidolakan seseorang ya...." ledek Dendy
"bukan aku...buat apa aku mengidolakan cowok lain" Dina kesal
"ah...yang benar..." Dendy tergelak
"Yang....andaikan kamu lulus lebih cepat, maukah kamu menunggyku?" tanya Dendy
"pasti aku akan menunggumu sampai kita berdua sama-sama telah mandiri" jawab Dendy mengeratkan pelukannya
Perasaan Dendy campur aduk, ia takut ia tak bisa menepati janjinya karena papanya. Semakin hari ketakutannya semaki besar. Ia merasa tak sanggup jika harus memberi tahu Dina masalah yang ia hadapi.
Ia tak sanggup melihat Dina yang hancur karena dirinya. Mereka berdua telah terlalu jauh merencanakan hubungan mereka kelak. Mereka berdua tak ingin lagi berpisah karena jarak.
Lama mereka berpelukan, menghabiskan waktu berdua di hari ulang tahun Dendy. Sampai mereka tak tahu kalau matahari sudah hampir tenggelam.
"kamu tidak pulang?" tanya Dina
"sudah kubilang, aku menginap di sini" Dendy terkekeh
"bercandamu enggak lucu" Dina mengerucutkan bibirnya
"iya...aku pulang setelah menemani kamu makan malam" ucap Dendy lembut
"mama papa kamu nanti marah Yang..." Dina melepaskan pelukannya
"sekali-sekali aku pulang malam, sudah lama aku tidak pulang malam" kilah Dendy
Akhir-akhir ini Dendy sering pulang larut malam, sebagai bentuk protes pada papanya karena tak mengijinkan ia kuliah di kampus Dina. Entah semarah apa papanya nanti ketika tahu dirinya telah mendaftar kuliah di universitas A.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g