
Hari-hari berlalu, ujian akhir tinggal menghitung hari. Dina semakin sibuk belajar, les 'pun juga waktunya semakin lama, karena banyak materi yang harus dikejar.
Waktu untuk Dina dan Dendy pun juga semakin sedikit. Mereka lebih sering bertukar kabar melalui sambungan telepon. Walau terasa kurang tapi mau bagaimana lagi, hanya itu jalan satu-satunya mereka bisa saling berkomunikasi.
Dendy sebenarnya ingin bertemu Dina tapi, dia takut mengganggu waktu belajarnya Dina. Meski saat istirahat pergantian jam sore Dendy selalu menemui Dina di tempat biasa, tapi rasanya kurang, karena Dina selalu terburu-buru untuk kembali ke kelas. Alasanya harus menyelesaikan tugas-tugas.
Sempat Dendy tidak percaya akan alasan Dina, tapi Gilang meyakinkannya jika Dina memang terlihat jarang keluar kelas untuk istirahat. Kalaupun Dina ke kantin pasti selalu terburu-buru dan cepat-cepat kembali ke kelasnya.
Dendy 'pun percaya dengan cerita Gilang, ia anggap memang sudah menjadi resikonya berpacaran dengan kakak kelas yang rajin belajar. Dina 'pun juga merasakan hal yang sama ingin bertemu dengan Dendy lebih lama dan lebih sering tapi tanggung jawabnya sebagai siswa kelas tiga yang sebentar lagi ujian akhir mau tidak mau ia harus bersabar paling tidak sampai ujian akhir selsesai.
Minggu terakhir sebelum hari ujian akhir, Dina tidak sengaja bertemu dengan Toni di kantin.
"Din..." Toni memberanikan diri untuk menghampiri Dina, karena selama ini dia menjaga jarak dengan Dina
"iya Ton..." ucap Dina datar
"minggu depan sudah ujian, kamu sudah siap belum?" tanya Toni
"siap tidak siap harus siap Ton" Dina terkekeh
"semangat ya Din... Semoga lancar dan lulus dengan nilai bagus" ucap Toni dengan senyum mengembang
"terima kasih Ton" ucap Dina kemudian berlalu meninggalkan Toni
dengan tatapan sendu Toni menatap punggung Dina yang berjalan menjauh darinya.
Dina yang selalu ceria, selalu baik bahkan tidak pernah membalas orang-orang yang telah menyakitinya menjadi acuh terhadapnya. Memang semua itu salahnya menyesalpun sudah tak ada gunanya.
Namun Toni bertekat setelah mereka lulus nanti, ia akan mendekati Dina perlahan. Ia berharap tidak ada Widi yang menjadi pelindungnya ia lebih mudah untuk mendekati Dina.
.
.
Hari jumat terakhir sebelum ujian akhir, semua les sudah diliburkan oleh guru masing-masing. Dina sedikit lega setidaknya ia bisa pulang di siang hari karena tidak ada les. Atau bisa menghabiskan waktu sedikit lebih lama dari biasanya.
Bel tanda pelajaran usai telah berbunyi, Dina bergegas keluar kelasnya menuju tempat parkir motor. Dina melajukan motornya keluar gerbang, sejenak Dina berhenti di depan gerbang sekolahnya melihat warung biasa Dendy menunggunya. Tak tampak motor Dendy terparkir di sana.
Ada rindu yang merasuk di dada, Dina memutuskan untuk pergi ke rumah Dendy. Dengan kecepatan sedang ke rumah Dendy. Tak butuh waktu lama Dina sudah sampai di depan pintu rumah Dendy. Terlihat sepi meski pintu rumah terbuka sedikit
Setelah mematikan motor, Dina membuka pintu pagar dan masuk ke dalam. Ketika hendak mengetuk pintu mamanya Dendy keluar dari rumah sepertinya akan pergi.
__ADS_1
"eh...Din..." mama Tari menyapa Dina
"siang tante" Dina menyalami mama Tari
"tumben ke sini, bukannya hari senin kamu ujian ya?" ucap mama Tari
"iya tante... Sudah lama Dina tidak kesini" ucap Dina dengan menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"tante pergi dulu, di dalam ada Rio kamu masuk saja ke dalam" ucap mama Tari
"Dendy kemana ya tante?"
"oh...Dendy belum pulang, kamu tunggu saja di dalam" ucap mama Tari "sudah ya...tante tinggal dulu" mama Tari menepuk bahu Dina.
"iya tante hati-hati di jalan, perlu Dina antar?" Dina menawarkan untuk mengantar mamanya Dendy
"tidak usah, tante pergi dengan tetangga sebelah kamu di rumah saja menemani Rio" ucap mama Tari kemudian berjalan keluar pagar.
Dina bingung antara mau pulang atau menunggu Dendy, kalau pulang ia tidak bisa bertemu dengan Dendy, tapi kalau menunggunya juga tidak enak karena hanya ada adiknya Dendy di rumah. Akhirnya Dina memutuskan untuk pulang.
Baru beberapa langkah dari pintu rumah Dendy ada yang memanggilnya dari arah belakang, Dina pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"mau pulang" jawab Dina
"tidak menunggu kak Dendy?" tanya Rio
"hmmm....kira-kira lama tidak ya pulangnya?" tanya Dina
"paling sebentar lagi" jawab Rio "ayo kak masuk, tunggu di dalam saja" Rio menarik tangan Dina
"tapi motor kakak masih di luar " ucap Dina
"ya sudah masukkan saja kak" ucap Rio
Dina berjalan keluar pagar dan mendorong motornya masuk ke dalam halaman rumah Dendy. Rio yang mengikutinya menutup pintu pagarnya dan menguncinya.
"kok dikunci pagarnya?" tanya Dina
"biar aman kak, soalnya aku sendirian di rumah " jawab Rio sambil berjalan masuk ke dalam rumah
"kan ada kakak" ucap Dina sambil berjalan mengikuti Rio
__ADS_1
Rio tidak menjawab ucapan Dina. Dia berjalan menuju tangga dan naik ke lantai dua. Tempat dimana hanya terdapat kamar-kamar yang sama sekali Dina belum pernah ke sana.
"ayo kak naik...kita tunggu sambil menonton tv di atas saja" Rio menoleh ke arah Dina yang tampak ragu untuk ikut naik ke atas
"tidak apa-apa kakak naik ke atas? " tanya Dina
"tidak apa-apa...daripada kakak menunggu sendiri di bawah" jawab Rio yang sudah berada di tengah-tengah tangga
Dina 'pun mengikuti Rio berjalan menaiki tangga. Setelah sampai di anak tangga terakhir Dina melihat ada tiga kamar di sana dan di depan kamar-kamar itu ada sebuah meja dengan tv di atasnya serta sebuah sofa besar.
Rio duduk di sofa besar itu dan memegang remot tv hendak mencari saluran tv yang bisa ia tonton.
"terserah kak Dina mau duduk dimana, anggap saja rumah sendiri ya kak" Rio terkekeh "kalau mau melihat kamarnya kak Dendy, itu yang di ujung yang pintunya tertutup" ujarnya menunjukkan kamar Dendy
"memangnya boleh kakak masuk ke sana dek?" tanya Dina
"boleh..." jawab Rio polos
Dina berjalan menuju pintu kamar yang ditunjukkan oleh Rio adik Dendy. Di pintu itu terdapat poster besar sebuah grup band Metalica, di bawahnya juga ada lagi poster yang lebih kecil grup band Creed. Sungguh mencerminkan ciri khas kamar cowok.
Dina tidak langsung membuka pintu kamar itu karena merasa ragu. Di satu sisi ia tidak ingin dianggap lancang di sisi lain ia juga ingin mengetahui bagaimana kamar Dendy. Barang-barang apa saja yang ada di kamarnya.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
Maaf besti baru bisa up... Mendadak badan oleng...
Tetap dukung karya ini ya please like komen dan vote nya ya
Terima kasih sekebon bestie 😘😘
__ADS_1