
Meski hatinya sedikit tersentuh akan perhatian Toni tidak lantas membuat Dina lupa dengan kejadian tempo hari yang membuat Dina trauma. Apa yang ia dengar sudah menunjukkan kalau Toni belum sepenuhnya lepas dari teman-temannya yang punya pengaruh buruk kepadanya.
"Din, mama pulang dulu, kasihan adik-adikmu di rumah sendirian" ucap mama Vera
"iya ma" ucap Dina
"maaf tante merepotkan kamu ya.. Ton, kalau mau pulang, Dina tidak apa-apa ditinggal" ucap mama Vera dengan senyum ramahnya
"tidak apa-apa tante, saya akan menjaga Dina sampai Om Joni datang" ucap Toni
"ya sudah tante pulang dulu, salam untuk mama papa ya" ucap mama Vera kemudian meninggalkan ruang rawat Dina
Sepeninggal mamanya, Dina hanya diam pandangannya tertuju layar televisi. Tapi Dina tidak fokus terhada apa yang ia tonton. Ia masih enggan untuk berbicara dengan Toni.
Dina ingin ke toilet lagi, ia berusaha bangun dari tempat tidurnya. Toni yang melihat Dina berusaha untuk turun dari tempat tidurnya dengan sigap membantunya. Dina diam tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Toni sadar Dina masih tidak nyaman dengan kehadirannya, tapi ia sudah berjanji kepada mamanya Dina untuk menjaga Dina sampai papanya datang. Dina diam tak menolak apa yang Toni lakukan untuknya saja Toni sudah sangat berterima kasih.
Tak terasa sudah sore hari, menghabiskan waktu dengan orang yang disayangi sungguh membuat waktu terasa berputar begitu cepat. Sudah jamnya Dina mandi sore, tapi Dina enggan ke kamar mandi karena ia malu ada Toni di situ. Menunggu papa atau mamanya datang pasti juga lama.
"kamu mau mandi Din? Ini sudah sore, atau mau aku panggilkan perawat?" tanya Toni lembut
"ambilkan tasku saja Ton" ucap Dina datar
Toni mengambilkan tas yang dimaksud Dina. Dina membukanya dan mengeluarkan bajunya. Kemudian ia beranjak dari brankar dan mengambil kantong infusnya.
"kamu kalau butuh bantuan bilang Din, jangan seperti ini kamu masih lemah" ucap Toni kawatir
"aku mau mandi" ucap Dina datar
Toni membantu Dina berjalan ke kamar mandi, kemudian ia menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Kemudian ia duduk kembali di kursinya menunggu Dina selesai mandi.
Terdengar suara pintu terbuka, terlihat papanya Dina sudah datang. Toni berdiri menyambut papanya Dina dan menyalaminya.
"sore om" ucap Toni
"Dina di mana?" tanya papanya Dina
"sedang mandi om" jawab Toni
"ck...ya sudah kamu pulang saja" ucap papanya Dina dengan aura yang membuat orang bisa lari terbirit-birit
"baik om...sore..." Toni tidak membantah, karena ia tahu papanya Dina orang yang tidak suka dibantah.
__ADS_1
Toni 'pun pulang, setelah seharian menemani Dina. Ia merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Dina meskipun berada di rumah sakit. Dengan hati berbunga-bunga ia keluar dari rumah sakit dan menuju ke tempat parkir motor.
Saat di pintu keluar, ia tidak sengaja berpapasan dengan Dendy. Entah sedang apa Dendy di rumah sakit tempat Dina dirawat. Tangannya terkepal menatap Dendy dengan kilatan amarah di matanya. Ia marah, Dendy yang menyebabkan Dina sampai maasuk rumah sakit.
Dendy 'pun juga menatap Toni dengan kilatan amarah. Ada rasa cemburu dan marah di hatinya. Toni buru-buru meninggalkan rumah sakit. Melihat pacarnya Dina membuat ia naik darah.
.
.
Keesokan harinya Toni datang lagi ke rumah sakit tempat Dina dirawat. Pagi-pagi ia sudah berada di ruang rawat Dina. Ia datang membawa majalah remaja kesukaan Dina. Ia berharap semoga dengan majalah itu Dina tidak terlalu bosan.
"bagaimana kabarmu? Sudah lebih baik?" tanya Toni lembut
"lumayan" ucap Dina sedikit tersenyum. Wajahnya tak lagi pucat seperti kemarin
"aku bawakan majalah untukmu, obat buat mengusir rasa bosan" Toni terkekeh
"terima kasih" ucap Dina dengan raut wajah sedikit ceria
Dina menerima majalah tersebut dan mulai membacanya. Ia membolak-balik majalah dan kadang tersenyum entah apa yang membuatnya tersenyum. Tapi Toni bahagia, melihat Dina hari ini sedikit ceria daripada kemarin.
"aku kemarin bertemu pacarmu di depan, apa dia dari sini?" tanya Toni hati-hati
Toni mencoba untuk menghibur Dina dengan bercerita yang lucu-lucu. Dina hanya sedikit tersenyum mendengar candaan Toni. Belum pernah Dina melihat Toni melucu seperti itu.
.
.
Di rumah Dendy, ia yang kebetulan pulang pagi menjadi uring-uringan. Dari kemarin ia mencoba menelpon rumah Dina tapi tidak ada yang mengangkat. Marah, sedih, cemburu dan kawatir bercampur menjadi satu.
Mamanya dibuat heran dengan tingkah laku Dendy, sejak dua hari yang lalu, tingkah laku Dendy kembali seperti dulu, anak yang tidak peduli, acuh dan tidak mau mendengarkan mamanya.
"Dina bagaimana Den? Jadi ambil kuliah kedokteran?" tanya mamanya Dendy ketika berada di meja makan
"tidak tahu!" jawab Dendy ketus
"kamu itu ditanya baik-baik, malah bicara kasar!" mamanya Dendy berang
"paling juga bertengkar lagi dengan kak Dina" ucap Rio adiknya Dendy
"anak kecil tahu apa?!" bentak Dendy
__ADS_1
"Dendy...!!" mama Tari membentak Dendy.
Dendy tidak melanjutkan makannya, ia menaiki tangga menuju ke kamarnya. Pikirannya campur aduk, memikirkan apakah benar Dina memutuskannya. Sampai ia menelpon rumah Dina berkali-kali tidak diangkat.
Ia teringat biasanya Dina berada di studio. Ia bergegas turun ke bawah dan mencoba menelpon studio. Tapi ia mendapati Dina sudah dua hari tidak datang ke studio. Dendy makin kalut, ia tidak bisa berpikir lagi. Ia kembali ke kamarnya dan membanting pintunya.
Gilang yang mendengar keributan di kamar sebelahnya keluar dari kamarnya. Ia masuk ke kamar Dendy, ia mendapati adik sepupunya itu sedang menyalakan rokok sambil mendengarkan musik keras-keras.
Tidak biasanya Dendy merokok di rumah, jika mamanya tahu ia pasti akan kena amukan dari mama papanya.
"kamu itu ada apa? Berisik sekali!" ucap Gilang sambil mengecilkan volume musik
"aku tidak bisa menelpon Dina" ucap Dendy dengan raut wajah tak bersahabat
"memangnya ada apa di antara kalian?" tanya Gilang
"Dina minta putus dariku" jawab Dendy ketus
"kalau Dina sampai minta putus, berarti ada yang salah dari kamu!"
"aku yang salah? Dia yang salah mas, bukan aku!" Dendy setengah berteriak
"jangan melemparkan kesalahan pada orang lain, sebaiknya kamu ke rumah Dina, bicara baik-baik dengannya, asal kamu tahu sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu Dina sakit" ucap Gilang "kemarin dia memaksakan diri untuk mengembalikan formulir" lanjutnya sambil meninggalkan kamar Dendy
"tahu dari mana kamu mas?!" tanya Dendy sedikit berteriak
Mendengar teriakan Dendy, Gilang berhenti di depan pintu "dari Ani" ucap Gilang tanpa menoleh kemudian ia keluar
Seketika ia teringat Dina yang diam tak mengeluh tapi wajahnya begitu pucat. Bahkan sempat hampir pingsan dan ia menggendongnya. Dendy panik ia menyambar kunci motornya dan berlari keluar rumah.
Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai ke rumah Dina, dan memastikan keadaan Dina. Dina tidak mengeluh padanya atau mungkin mengeluh tapi ia tidak menghiraukannya karena emosinya yang sedang memuncak
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
jangan lupa ritualnya ya bestie
__ADS_1
Like..komen dan vote terima kasih 😘😘