Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 107 Bertengkar hebat


__ADS_3

Dina lelah harus bagaimana lagi menghadapi Dendy yang tidak mau bertanya dulu kepadanya, dan tiba-tiba malah marah-marah tidak jelas. Sepanjang jalan yang mereka lalui, Dina hanya diam. Dia begitu malas untuk membuka mulutnya karena ia tidak tahu apa kesalahannya sehingga Dendy marah seperti itu.


Yang Dina inginkan adalah waktu yang berkualitas bersama Dendy sebelum ia pergi kuliah keluar kota. Dalan formulir pendaftaran Dina tadi, ia memilih jurusan kedokteran di dua kota yang berbeda dan itu semua jauh dari kotanya. Dendy tidak tahu apa yang menjadi pilihan Dina.


Dengan kata lain Dina memantapkan diri untuk kuliah di luar kota. Itu berarti dengan berat hati ia harus berpisah dengan Dendy. Ia tidak bisa sering bertemu dengan Dendy, walaupun ia akan berusaha seminggu sekali pulang ke kotanya.


Tapi melihat Dendy yang tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas, Dina pesimis hubungannya akan bisa bertahan saat terpisah jarak nantinya. Selama ini Dina sudah berusaha menekan egonya demi rasa sayangnya kepada Dendy.


Dina tidak tahu ia akan dibawa kemana, perjalanan terasa jauh dan begitu lama. Dan mereka berdua hanya terdiam tidak ada yang memulai obrolan. Kemesraan beberapa hari yang lalu hilang berganti dengan amarah.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam mereka berdua tiba di sebuah pantai yang masih sangat sepi. Mungkin belum ada yang tahu lokasi pantai itu. Sepertinya hanya penduduk lokal daerah itu yang datang kesana.


Dendy memarkirkan motornya di pinggir sebuah gubug. Kemudian ia menarik Dina berjalan ke arah pantai yang masih banyak ditumbuhi pohon kelapa. Dendy mengajak Dina duduk di bawah pohon kelapa.


"tadi siapa Din?" tanya Dendy dingin


"yang mana?" ucap Dina datar


"yang ada di kantin?" tanya Dendy tidak menatap Dina


"teman" jawab Dina singkat


"dengan orang lain kamu bisa tertawa, denganku nada bicaramu ketus" ucap Dendy penuh penekanan


"siapa yang memulai hah?!" Dina sudah tidak bisa mengontrol emosinya, ia berteriak meluapkan kekesasalannya


"kamu yang memulai!" ucap Dendy ketus dan dingin


"aku yang mulai, mulai dari mana hah?! Tunjukkan salahku dimana?!" Dina benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya lagi


"kamu yang selalu menolak ketika aku menawarkan mengantar kamu, dan buktinya benar dugaanku di belakangku diam-diam kamu berhubungan lagi dengan mantanmu, bahkan hari ini kamu dengan terang-terangan berduaan dengan cowok lain di depanku!"


"terserah kamu mau bilang apa, dari awal aku sudah bilang semua alasanku! Kalau kamu masih tidak percaya denganku buat apa kita pertahankan hubungan ini lebih baik kita putus!" ucap Dina tak kalah dinginnya

__ADS_1


"putus katamu?!" Dendy tersentak, matanya membola menatap ke arah Dina "tidak...aku tidak akan memutuskan kamu!" Dendy berteriak


"terus mau kamu apa? Tidak mau putus tapi tidak percaya aku? Egois namanya!" ucap Dina sinis


"bagaimana aku bisa percaya kamu, kalau kamu di belakangku masih berhubungan dengan mantanmu!"


"siapa yang bilang?!" ucap Dina ketus


"aku percaya dengan apa yang aku lihat Din! Kamu pergi bersamaku tapi masih menemui mantanmu!" ucap Dendy dengan nada tinggi


"intinya kamu tidak mempercayai aku!" ucap Dina ketus "buat apa aku selama ini bertahan kalau ternyata pacarku sendiri tidak percaya padaku"


"berulang kali kamu mengecewakan aku, bahkan yang terakhir kalinya kamu sudah menduakan aku, tapi aku memberi kamu kesempatan untuk memperbaikinya"


"kamu yang memohon-mohon padaku untuk memaafkan kamu, tapi sekarang apa yang terjadi? Hanya karena sesuatu yang belum jelas kamu marah-marah seperti ini padaku! Sungguh egois!" ucap Dina ketus


Dina meluapkan segala yang ia rasakan, ia terlalu lelah menghadapi Dendy yang entah setan apa yang sedang merasukinya bisa sampai marah seperti itu.


Mendadak hening, tidak ada satu suarapun yang terdengar dari bibir mereka. Hanya suara deru angin pantai serta suara ombak yang berkejar-kejaran yang terdengar.


Sebenarnya Dina sudah merasa lapar, bahkan perutnya pun mulai terasa sakit. Dari pagi perutnya belum terisi dengan benar. Apalagi ditambah pertengkaran di antara mereka membuat ia sedikit stress.


Padahal dua hari seblumnya ia pergi ke dokter untuk periksa karena maagnya kambuh. Mungkin karena ia stres dan cemas menghadapi tes masuk peeguruan tinggi negeri. Dokter menasehatinya agar jangan terlalu stres dan jangan telat makan.


Tapi hari ini dua pesan dokternya itu semua ia langgar, dan berakibat sakit maagnya kambuh kembali. Dina menahan rasa sakit yang teramat sangat, bahkan ia 'pun sudah mulai berkeringat dingin.


Dina sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakitnya. Ia 'pun mengeluarkan obat yang sengaja ia bawa dari rumah karena memang ia masih mengkonsumsi obat dari dokternya itu.


Dina mengeluarkan dua tablet dari bungkusnya kemudian ia mengambil botol air yang tadi ia bawa dari rumah. Kemudian ia meminum dua butir tablet itu bersamaan.


Dendy terkejut melihat apa yang dilakukan Dina. Ia melihat wajah Dina begitu pucat karena menahan rasa sakitnya. Bahkan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung terlihat di dahinya.


"kamu sakit Din?" tanya Dendy kawatir

__ADS_1


"apa pedulimu? Sekarang antarkan aku pulang!" ucap Dina dingin


"kamu sakit Din? Wajahmu pucat" Dendy menjadi sangat kawatir karena melihat Dina makin pucat


Dina tidak menjawab pertanyaan Dendy. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah motor Dendy terparkir. Dina menahan rasa sakit yang teramat sangat. Belum sampai ia sampai di tempat parkir ia sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya.


Mendadak pandangannya menjadi kabur, ia jatuh terduduk. Sekuat tenaga ia menahan rasa sakitnya, ia harus kuat ia harus bisa, karena jarak dari pantai sampai ke rumahnya satu jam lebih.


Dina masih belum berdiri ia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, tapi rasa sakit itu menyerang lagi. Dina hanya duduk terdiam ia menunggu obatnya bekerja, ia yakin setengah jam lagi pasti rasa sakitnya mulai berkurang.


Dendy melihat Dina yang jatuh terduduk dari kejauhan menjadi semakin kawatir. Belum pernah ia melihat Dina seperti itu. Ia berlari menghampiri Dina. Dia benar-benar takut terjadi apa-apa dengan Dina.


"Din...kamu sakit?" tanya Dendy dengan raut kawatir


Dina hanya diam tak menjawab. Ia masih merasakan sakit yang begitu hebat. Dendy yang kawatir lalu mengangkat Dina dan menggendongnya menyamping dan membawanya menuju ke gubug yang berjarak sekitar lima belas meter di depannya.


Melihat wajah pucat serta keringat yang bercucuran di dahinya Dina, Dendy takut terjadi apa-apa dengan Dina. Dendy merasa bersalah, baru saja ia marah-marah dengan Dina. Bahkan ini pertengkaran terhebat mereka selama mereka berpacaran.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Jangan lupa ritualnya ya bestie...


Terima kasih sekebon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2