Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 177 Pertentangan


__ADS_3

Mamanya Dendy kebingungan, tiba-tiba suasana rumah menjadi panas. Ia melihat Dendy begitu kacau, tak seperti hari-hari sebelumnya. Sudah lama sekali Dendy tak pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.


Sudah lama pula Dendy tak menyentuh alkohol. Meski Dendy tak pernah terang-terangan menunjukkan kalau ia meminum alkohol seperti sekarang, tapi naluri seorang ibu selalu tahu, apa yang telah dilakukan anaknya.


"ini sebenarnya ada apa? Ada yang mau menceritakan pada mama?" mamanya Dendy menatap Dendy dan papanya bergantian


"papa menyuruhku memutuskan Dina, sebagai gantinya aku boleh kuliah di kampus yang sama dengan Dina" ucap Dendy menahan emosinya


"mama kira ada apa" ucap mamanya Dendy "papa begitu pasti ada alasannya Den..."


"dari tadi siang papa tidak menyebutkan alasannya padaku ma!" Dendy mulai tidak bisa menahan emosinya


"Dina itu tidak baik untukmu Den...!"


"tidak baik bagaimana pa?! Bukankah selama ini Dina yang sudah membuat keluarga kita lebih dekat?" Dendy semakin tidak mengerti akan alasan yang diberikan oleh papanya


"tidak ada perempuan baik-baik yang sering ke rumah laki-laki yang dalam keadaan kosong Den!"


"rumah siapa pa?!" Dendy frustasi


"buka matamu Den!"


"terserah apa mau papa, yang jelas aku tetap akan kuliah di kampus yang sama dengan Dina!" Dendy meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke dalam kamarnya


Mamanya Dendy bingung harus memihak siapa. Alasan yang dibuat oleh suaminya tidak sepenuhnya bisa diterima olehnya.


"pa...papa lihat...baru papa menyuruh Dendy untuk memutuskan Dina, ia kembali lagi pada kebiasaan buruknya dulu" ucap mamanya dengan nada kesal


"justru Dina yang membuat Dendy menjadi pembangkang ma...!" papanya Dendy tidak mau kalah

__ADS_1


"pembangkang bagaimana? Dendy lebih patuh pada mama, dan sejak bersama Dina ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah" ucap mamanya Dendy


"itu menurut mama...menurut papa tidak" kilah papanya Dendy. Tidak ada yang tahu apa alasannya kenapa papanya Dendy tiba-tiba tidak mendukung hubungan Dina dan Dendy


"mama hanya ingin semua bahagia pa, Dendy bahagia bersama Dina, Dina pun juga anak yang baik, mama harap papa mempertimbangkan ucapan papa" mamanya Dendy meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke dalam kamarnya.


.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dendy pergi tanpa pamit. Ia kembali ke kebiasaan lamanya, pergi sesuka hatinya jarang sekali pamit kepada orang tuanya.


Dendy pergi ke rumah Dina, ia hanya ingin menenangkan diri bersama Dina. Ia ingin memghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama Dina sebelum semua terjadi di luar kendalinya.


Dina tak menaruh curiga kepada Dendy, ia hanya berpikir Dendy ingin menebus hari-hari yang terlewat ketika Dendy sakit. Mereka berdua pergi ke danau yang terletak di dekat sekolah Dina dulu.


Dendy melirik tangan Dina, ia melihat gelang dan cincin pemberiannya masih dipakai oleh Dina. Ia sedikit bernafas lega, karena ketakutanya sedikit berkurang.


Sorot mata Dina saat bertemu dengannya pun terlihat bahagia, tak ada keraguan atau ketakutan di dalamnya.


"iya..." ucap Dina dengan senyum mengembang


"dulu kamu pernah cerita, ada yang mendekati kamu, bagaimana kabarnya?" tanya Dendy semakin mengeratkan genggaman tangannya


Dina mengerutkan dahinya "kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?"


"hanya ingin tahu saja" Dendy terkekeh mencoba menutup-nutupi semua perasaan yang berkecamuk di hatinya


Dina menghela nafasnya "ia masih mendekatiku, meski dia sudah tahu aku memiliki pacar"


"terus kamu tidak berusaha menghindar darinya?"

__ADS_1


"semua cara sudah kulakukan Yang...aku sudah lelah, jadi kubiarkan saja, lama-lama juga ia akan bosan dengan sendirinya" ucap Dina datar


Dina sedikit curiga, tiba-tiba Dendy menanyakan masalah Bimo, ia merasa pasti Dodi atau entah siapa lagi menceritakan apa saja yang Dina lakukan di kota J.


"aku hanya takut Yang.... suatu saat kamu akan berubah pikiran dan meninggalkan aku" ucap Dendy tertunduk lesu


"aku tidak tahu harus bagaimana mengatakan kepadamu, aku menyayangimu, aku mencintaimu, bahkan mungkin lebih dari kamu mencintaiku, kita berdua sudah sama-sama berjanji untuk masa depan kita, buat apa aku berpaling darimu" Dina melepaskan genggaman tangannya


"entahlah... Yang selalu aku takutkan ketika aku tidak bisa melihatmu setiap hari, ketika aku meneleponmu tapi kamu tidak ada, aku selalu takut kamu akan menduakan aku" ucap Dendy lirih


"tak ada yang perlu kamu takutkan, aku tahu kamu mengawasiku dari jauh, tak pernah ada yang aku tutup-tutupo dari kamu" ucap Dina mencoba menenangkan Dendy.


Berbulan-bulan mereka tak pernah ada lagi perselisihan, bahkan mereka semakin mesra, tapi kenapa tiba-tiba Dendy menanyakan hal yang sebenarny tak perlu dibahas lagi.


"kita mau menghabiskan hari ini dengan berdebat, atau menikmati pertemuan kita yang singkat ini?" Dina menatap Dendy


"maafkan aku...ayo kita jalan-jalan saja....kita cari makanan kesukaanmu" Dendy berdiri kemudian mengulurkan tangannya kepada Dina.


Mereka berdua berkeliling menaiki motor, Dina tak tahu dimana mereka berada saat ini. Jalanan yang mereka lalui sekarang terasa asing.


Dina merasa Dendy sedikit berubah dari kemarin ia bertemu dengannya. Hari ini Dendy lebih diam dari biasanya. Tak banyak bicara, jika bicara pun menimbulkan kekesalan dalam hati Dina.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


Dukung terus karya ini ya bestie...


Jangan lupa mampir di karya 'JADIKAN AKU PACARMU'


__ADS_2