Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 207 Luka


__ADS_3

"aku tidak akan ikut campur masalahmu, aku akan menemanimu, aku akan selalu ada ketika kamu butuh teman" ucap Bimo lembut, satu hal yang Bimo belum pernah tahu dari Dina adalah ia tak suka jika ada yang ikut campur masalahnya.


"terima kasih, tapi aku enggak apa-apa" Dina memaksakan senyumnya


"enggak apa-apa bagaimana? wajahmu terlihat pucat kamu terlihat lebih kurus dam itu kakimu! Kamu tak akan bisa berangkat ke kampus jalan kaki dengan kaki seperti itu!" ucap Bimo tegas


"aku masih bisa berjalan mas, dan lagi aku sedang tak ingin menambah masalah baru"


"keras kepala! Sebentar aku ambil makanan untukmu, gara-gara aku dengar dari temanmu kamu jatuh aku lupa membawanya ke atas" Bimo meninggalkan Dina di kamarnya


Tak lama Bimo sudah kembali ke kamar Dina membawa kotak entah isinya apa Dina tak tahu.


"ini makan dulu, kamu pasti suka..." ucap Bimo membuka kotak. Dan terlihat seperti kue ulang tahun


"siapa yang ulang tahun mas?" Dina menatap Bimo heran


"memangnya makan begini harus ada yang ulang tahun?" Bimo memotong kue dan memberikannya pada Dina "kamu pasti suka, ini lemon cake aku tahu kamu tidak suka kue yang terlalu manis"


"terima kasih mas..." Dina mulai memakan kue yang diberikan Bimo.


"makanlah yang banyak biar kamu tidak sakit, nanti sore kita makan di tempat biasa" ucap Bimo lembut


Dina tak berselera makan, ia hanya memakan satu potong kue yang tadi dipotong oleh Bimo. Bimo membujuk agar Dina mau makan lagi, tapi nihil, Dina menolak bujukan Bimo.


"sudah mas...aku kenyang...kalau aku paksakan makan nanti malah mual" ucap Dina menggeser kue yang ada di depannya.


"Din...seberat apapun masalahmu, kamu harus tetap makan, menangis juga butuh tenaga"


Dina diam tak menghiraukan ucapan Bimo, ia kembali termenung, pikirannya melayang pada Dendy yang sampai sekarang tak ada kabar lagi, bahkan nomor ponsel yang kemarin dipakai untuk menelponnya sudah tidak aktif lagi.


"apapun masalahmu, cepat selesaikan agar semua tidak berlarut-larut dan kamu bisa melanjutkan hidupmu lagi" ucap Bimo yang berusaha untuk menahan amarahnya


"entahlah mas...aku tidak tahu harus bagaimana, rasanya aku kehilangan separuh jiwaku" ucap Dina lirih


.

__ADS_1


Keesokan harinya, Dina berangkat kuliah lebih awal, ia dijemput kedua sahabatnya Berta dan Caca. Mereka berdua bergantian menuntun Dina yang masih susah berjalan.


"padahal hanya lecet, kenapa kamu sampai enggak bisa jalan begini Din?" ucap Caca dengan nada sedih


"entahlah Ca...aku sendiri tidak tahu, aku pakai jalan rasanya sakit sekali" ucap Dina meringis


"jangan-jangan infeksi Din" ucap Berta


"sepertinya sih enggak Ta...enggak ada tanda-tanda kalau infeksi" ucap Dina yang akhirnya dengan tertatih-tatih sampai di kampus.


Dari arah belakang tiba-tiba ada yang mengangkat Dina, menggendong Dina dan menaiki tangga menuju ke ruang kuliahnya. Untung kampus sedikit sepi karena tidak banyak mahasiswa yang kuliah di semester pendek.


"sudah kubilang, aku akan jemput kamu, kenapa tidak mau menunggu?!" ucapan Bimo seperti tak mau ada bantahan atau penolakan


"turunkan aku mas...malu dengan yang lain..." ucap Dina kesal


"sudah diam saja!" Bimo tak mau menuruti ucapan Bimo


Berta dan Caca mengikuti Bimo dan Dina dari belakang hanya senyum-senyum melihat perlakuan Bimo pada Dina.


"sudah diam saja...itu urusan Dina" bisik Berta


Bimo menurunkan Dina di depan ruang kuliahnya "aku kuliah di lantai empat, kalau aku belum ada di depan kelasmu kamu tunggu aku, jangan sampai kamu jatuh lagi!" Bimo meninggalkan Dina dan berjalan menuju ke ruang kuliahnya.


Jam kuliah Dina telah selesai, Dina keluar kelas dan sudah ada Bimo yang menunggunya di depan kelasnya.


"aku jalan sendiri mas...enggak enak sama teman-teman"


"baiklah, kita pakai lift saja...tapi sampai sana aku gendong kamu!" tanpa aba-aba Bimo menggendong Dina


"Din...kita pulang duluan ya..." ucap Berta


"yah...kok aku ditinggalin?" ucap Dina dengan raut wajah sedih


"sudah ada kak Bimo...nanti malam kita tidur di kosmu lagi, besok kita kan libur kuliah"

__ADS_1


"baiklah..."


Bimo menggendong Dina berjalan sampai di depan lift, mereka turun ke lantai dasar menggunakan lift.


"kamu tunggu di depan sebentar, aku ambil mobil" belum juga Dina menjawab, Bimo sudah berjalan cepat meninggalkan Dina


Bimo mengantarkan Dina pulang ke kosnya "enggak perlu digendong aku bisa masuk sendiri" ucap Dina ketus


Bimo mengikuti Dina dari belakang, kemudian membantu Dina menaiki tangga kosnya.


"coba aku lihat kakimu, harusnya kakimu sudah membaik, tapi kenapa jalanmu begitu" Bimo mengangkat kaki Dina yang sakit


Dina hanya meringis menahan sakit ketika kakinya diangkat Bimo


"bengkak...agak kemerahan" Bimo memegang kening Dina "sepertinya kamu mulai demam, lukamu infeksi Din...jangan kena air, untung papa tadi membawakan salep luka untukmu" ucap Bimo yang terlihat seperti mamanya Dina


Dina diam membiarkan Bimo merawat luka kakinya "jangan kena air dulu" ucap Bimo sambil membalut luka Dina


Serelah selesai Bimo membereskan peralatannya. Dina mengambil ponselnya, mengecek mungkin ada pesan dari Dendy yang belum ia baca.


Ternyata harapan tinggal harapan, tak ada satu pesanpun yang masuk, hanya pesan dan panggilan tak terjawab dari Bimo. Raut wajah Dina kembali murung sambil menatap layar ponselnya.


Bimo menyadari itu, ia seperti ditarik ke masa lalu saat ia memutuskan Dina tanpa memberi alasan kepada Dina. "Apakah dulu kamu seperti ini Din? Kalau iya...aku benar-benar brengsek membuat kamu sedih, murung dan merasakan sakit di hatimu" batin Bimo


Dina mencoba menelpon nomor Dendy, tapi nomor yang ia telepon tidak aktif. Berulang kali ia mencoba menelepon tapi tetap sama.


"kalau kamu mau menangis...menangislah sekarang, besok kembalilah ceria, masih banyak orang yang sayang kamu" ucap Bimo lembut


Dina menangis lagi untuk ke sekian kalinya, menumpahkan apa yang ia rasakan, berulang kali ia menangis tapi perasaannya tak juga membaik. Ia semakin teringat akan Dendy.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2