
Papanya Bimo memperhatikan Dina kemudian Bimo. Di mata papanya Bimo, Dina cewek biasa-biasa saja, jika dibandingkan dengan Riri dari segi penampilan, wajah Dina masih kalah.
Tapi entah kenapa Bimo terlihat sangat takut, bahkan sikap Bimo tak seperti jika berada di rumah. Sifat Bimo yang cenderung tegas dan tak suka dibantah, berwatak keras dan pemaksa hilang, menjadi Bimo yang bicaranya lembut dan perhatian, serta terlihat lebih sabar.
Sebenarnya perubahan yang bagus menurut papanya Bimo, tapi tetap merasa ada yang kurang ketika anak lelakinya berubah tak seperti biasanya. Papanya Bimo merasa perlu untuk berbicara dengan Dina berdua.
"banyak yang harus kamu kerjakan, papa mau bicara dengan Dina berdua saja" ucap papanya Bimo tegas dan seperti tak mau dibantah
Kini Dina tahu, dari mana Bimo memiliki sifat seperti itu. Seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"papa mau bicara apa dengan Dina?" tanya Bimo datar
"kamu kerjakan itu berkas-berkas kemarin yang kamu tinggal"
Bimo mendengus kesal, ia selalu kalah jika berdebat dengan papanya, mau tidak mau Bimo menuruti perintah papanya.
Dina meremas ujung bajunya, ia merasa gugup berhadapan dengan papanya Bimo. Dina hanya bisa diam dan menunduk tak berani menatap papanya Bimo. Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan pria selain papanya.
"kamu sudah lama kenal dengan anak saya?" tanya papanya Bimo sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya
"su...sudah om" Dina merasa sangat gugup
"sejak kapan?"
"sejak masih sekolah om, sejak saya kelas satu" jawab Dina lirih masih tak berani menatap papanya Bimo
"kamu sudah tahu kan Bimo sudah punya tunangan?"
Dina menjawab hanya dengan anggukan kepalanya, ia tak tahu kemana arah tujuan pembicaraan ini.
"lantas kenapa kamu masih mendekati Bimo?!" tanya papanya Bimo dengan nada sedikit meninggi, dengan sorot mata tajam menatap Dina.
__ADS_1
Dina terhenyak, kemudian ia menatap papanya Bimo yang menatapnya seolah-olah Dina bersalah. "Bukan saya yang mendekati mas Bimo om, tapi mas Bimo lah yang mendekati saya"
Dina memberanikan diri membela dirinya, ia harus membersihkan namanya. Ia tak mau dianggap perusak hubungan orang lain, karena di sini Bimolah yang bersalah.
Tawa papanya Bimo menggelegar dalam ruangan itu "untuk apa Bimo mengejarmu? Dia sudah memiliki tunangan yang jauh lebih cantik dari kamu"
"om tanyakan sendiri pada anak om, dia dulu memutuskan saya tanpa alasan yang jelas, dan sekarang ketika saya sudah bahagia dengan orang yang saya cintai, anak om tiba-tiba datang ingin merusak hubungan saya dengan pacar saya" terang Dina
Kegugupan Dina sudah hilang, ia tak mau diremehkan oleh siapapun, meski dirinya bukan anak orang berada. Papanya Bimo mengangguk-angguk mendengar ucapan Dina yang begitu panjang.
"lantas kenapa kamu tidak menolak anak saya?"
"bukan saya tidak menolaknya, tapi anak om yang menulikan telinganya mendengar penolakan saya, saya sudah lelah menghindar, jadi lebih baik saya berdamai dengan keadaan" terang Dina datar menatap papanya Bimo.
"ternyata dia pandai menempatkan dirinya dalam segala situasi, kamu memang pintar Bimo" batin papanya Bimo
"andaikan dalam waktu dekat Bimo akan menikah, apakah kamu mau berjanji pada om, tidak akan pernah menemui Bimo lagi?"
"dari awal saya sudah menghindar dari mas Bimo, tapi dimana pun saya bersembunyi dia selalu bisa menemukan saya, apa saya harus pindah negara om untuk menjauhi mas Bimo?" Dina sudah kehabisan kata-kata, karena ia merasa papanya Bimo seolah-olah masih menganggap Dina yang bersalah.
Dina terdiam ia sebenarnya sangat marah karena merasa diremehkan oleh papanya Bimo, tapi Bimo yang mengajaknya datang ke kantor papanya, maka dia harus menghadapi papanya Bimo agar nantinya tak terjadi kesalah pahaman.
"Bimo ingin membatalkan rencana pernikahannya dengan Riri, apa tanggapan kamu?" papanya Bimo masih menatap Dina dengan tatapan intimidasi
Dina menghela nafasnya, sebenarnya ini bukan urusan dirinya tapi dia harus menjawab pertanyaan papanya Bimo.
"maaf om, itu bukan menjadi urusan saya, karena keputusan menikah atau tidak, mereka berdua yang harus memutuskan, di sini saya hanya orang luar, yang kebetulan selalu jadi kambing hitam ketika mereka berdua ada masalah. Jujur saya lelah dengan masalah ini semua, saya hanya ingin hidup tenan, saya hanya ingin kuliah tanpa adanya teror yang selalu menghantui saya"
Papanya Bimo mengerutkan dahinya, Dina menyebut kata teror. Papanya Bimo berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
"maksud kami diteror itu apa?"
__ADS_1
"ya itu tadi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya om..." Dina sudah lelah menjelaskan, masalahnya semakin rumit saja. Dina dipakasa untuk bersikap dewasa menghadapi masalah Bimo yang selalu saja menyeret dirinya masuk ke dalam masalah itu tadi.
Dina sudah tampak lelah, ia sudah tak ingin membahas masalah yang berputar-putar itu-itu saja.
"om....saya mohon jangan libatkan saya dalam masalah anak om yang rumit, saya hanya ingin berkuliah seperti teman-teman saya, hari ini saya sudah cukup dipermalukan di kampus karena masalah ini" akhirnya Dina pada titik dimana dirinya sudah kehabisan daya dan upaya menghadapi Bimo dengan segala masalahnya.
"baiklah...om tidak akan melibatkan kamu dalam masalah Bimo lagi, tapi jujur om sangat kecewa dengam kamu..." ucap papanya Bimo yang pandai mempermainkan emosi dan perasaan orang lain.
Dina mengerutkan dahinya "saya minta maaf om..." ucap Dina tertunduk menyesali dirinya yang mau saja diajak masuk ke dalam masalah Bimo
"om kecewa.....anak om sudah banyak merubah sikap dan sifatnya tapi kamu sedikitpun tak mau memberinya kesempatan" ucap papanya Bimo dengan menarik satu sudut bibirnya
"maksudnya om?" Dina mengangkat wajahnya menatap papanya Bimo
"maksud om, apa kurangnya anak om? Sehingga kamu menolaknya?" papanya Bimo menarik kedua sudut bibirnya ke atas
"masalah hati tak bisa dipaksakan om" jawab Dina singkat.
Dina benar-benar tidak mengerti dengan sikap papanya Bimo. Di awal pembicaraan mereka Dina merasa tersudut, merasa dirinya yang harus bertanggung jawab atas permasalahan Bimo.
Tapi tiba-tiba, papanya Bimo seolah-olah menginginkan Bimo bersamanya. Dina tidak tahu apa maksud papanya Bimo bersikap dan berbicara seperti itu.
Dina merasa dipermainkan, dituduh kemudian dibela. Sungguh keluarga yang aneh menurutnya. Menurutnya Bimo itu sudah sulit dimengerti, ternyata papanya lebih susah ditebak.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1