
Keesokan harinya Dina telah bersiap untuk pergi ke kampus untuk mengikuti briefing . Dina belum sempat berkenalan dengan teman-teman satu kosnya karena semalam Dina pulang malam dari pergi bersama Wilson. Dia berhasil membuat Wilson menuruti kemauannya untuk menemaninya keliling kota J di malam hari.
Kos-kosan Dina terdiri dari dua lantai, di lantai satu ada enam kamar di lantai dua juga ada enam kamar. Dina menempati kamar lantai satu di depan sendiri dekat dengam pintu masuk. Semua anak kos membawa kunci kos sendiri-sendiri jadi anak kos bebas keluar masuk.
Sewaktu Dina keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya Dina bertemu salah satu anak kos.
"anak baru ya?" tanya cewek yang baru saja keluar kamar
"iya..." jawab Dina dengan senyuman
"aku Ira nama kamu siapa?" tanya cewek itu mengulurkan tangannya
"aku Dina kak" jawab Dina sopan sambil menyalami tangan teman satu kosnya itu
"mahasiswa baru ya? Jurusan apa?" tanya Ira
"iya kak...aku jurusan teknik industri" jawab Dina sopan
"aku teknik sipil, aku angkatan dua tahun di atasmu" ucap Ira sambil mengeluarkan motornya yang terparkir di depan kamar Dina
"mari kak...aku mau ke kampus dulu" pamit Dina sopan, setelah itu dia berjalan keluar kosnya. Sekitar sepuluh menit dia sudah sampai di kampusnya. Di sana sudah ramai oleh para mahasiswa baru.
Dina berjalan ke arah dekat tangga dan dia berdiri di sebelah tangga sendirian. Tiba-tiba ada dua orang mahasiswi baru yang menghampirinya.
"hai...kenalan dong..." sapa salah satu cewek "namaku Caca kamu siapa?" lanjut cewek itu mengulurkan tangannya
"hai aku Dina..." ucap Dina menerima uluran tangan Caca dan menyalaminya
"hai aku Berta" ucap cewek satunya dan juga menyalami Dina
"aku Dina" ucap Dina
Dina mengamati sekeliling dan mendapati ada seorang cowok yang wajahnya mirip dengan Dendy hanya bedanya kulitnya lebih putih jika dibanding Dendy.
Ketiga cewek itu mengobrol, saling bercerita berasal dari daerah mana dan asal sekolahnya. Mereka juga saling bertukar alamat kos mereka masing-masing.
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dari pengeras suara yang menyuruh mereka untuk berkumpul di auditorium di lantai empat kampus itu.
Semua mahasiswa baru berbondong-bondong naik tangga menuju auditorium. Sesampainya di auditorium Dina dan kedua teman barunya memilih duduk di tengah-tengah.
Suara riuh dari para mahasiswa baru membuat Dina pusing. Ia hanya fokus pada mimbar yang ada di depan. Menunggu kakak-kakak tingkat mereka yang menjadi panitia pengenalan lingkungan kampus datang.
Suara dari pengeras suara terdengar lagi. Kali ini mereka di suruh diam tidak ada yang boleh berbicara, jika ada yang berbicara mereka akan dihukum.
Setelah semua mahasiswa diam, sekelompok mahasiswa memakai jas almamater masuk ke dalam auditorium.
Deg!!!
Dina melihat seseorang yang ia kenal, tapi Dina menepis kalau orang itu hanya mirip saja. Ketua panitia mulai memperkenalkan satu persatu panitia yang akan mendampingi mereka pada masa pengenalan lingkungan kampus.
Dina menajamkan pendengarannya ketika perkenalan itu sampai pada cowok yang mirip dengan seseorang yang ia kenal.
Deg!!!.
Dina kaget, ternyata ia benar tidak salah melihat. Ia tadi sempat ragu karena potongan rambut cowok itu sangat berbeda dengan yang ia kenal. Cowok itu belum menyadari jika di tengah-tengah mahasiwa baru itu ada seseorang yang masih sangat ia sayangi.
Ketua panitia mulai menjelaskan acara-acara yang akan dilaksanakan dalam tiga hari kedepan. Ketua panitia menyebutkan mereka akan dibagi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok akan ada dua pendamping dari kakak tingkat mereka.
Sesekali ia melihat ke arah seniornya. Dan waktu melihat ke depan, cowok yang ia kenal tampak sedang membaca daftar anggota kelompoknya. Dina menundukkan kepalanya lagi ia tidak mau beradu pandang dengan seniornya sekaligus mantan pacarnya.
Dina memberanikan diri untuk menatap ke depan lagi. Ia melihat cowok itu terlihat sedang mencari-cari seseorang di tengah kerumunan mahasiswa baru. Dina menundukkan lagi kepalanya ia berharap cowok itu tidak mengenalinya.
Saat terdengar suara yang sangat ia kenal memanggil satu per satu anggotanya Dina hanya bisa berdoa dalam hatinya semoga ia tidak masuk ke dalam kelompok itu.
Nama Berta telah dipanggil, kemudian Caca, mereka berdua masuk dalam kelompok cowok itu. Dina mulai bernafas lega karena sepertinya jumlah kelompok cowok itu sudah hampir semua dipanggil.
Dina mulai berani mengangkat kepalanya lagi dan pandangannya beradu pada pandangan cowok itu. Cowok itu tersenyum lebar ketika melihat orang yang tadi ia cari-cari menatap ke arahnya.
"dan....anggota kelompok yang terakhir adalah Jocelyn Andina Prasetya" ucap cowok itu dengan lantang dan senyum yang lebar.
Dina terperangah mendengar namanya disebut cowok itu.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Dina berjalan ke arah kelompoknya. Caca dan Berta berteriak kegirangan karena Dina bisa satu kelompok dengan mereka. Tapi tidak dengan Dina, meskipun selama ini ia masih sering berkirim surat dengan cowok itu, ia tidak menyangka jika cowok itu adalah kakak tingkatnya.
Cowok itu tidak pernah bercerita ia kuliah dimana dia hanya memberikan alamat tempat dia kos. Dina tahu kalau cowok itu kuliah di kota J, tapi ia tidak menyangka jika akan satu kampus bahkan satu jurusan dengannya.
"kamu kenapa kelihatan sedih Din?" tanya Caca yang melihat raut mukanya murung
"ah...aku tidak apa-apa Ca...hanya sepertinya maagku kambuh" ucap Dina lesu
"terus bagaimana? Sudah minum obat?" tanya Berta
"iya sudah...tadi sudah minum paling juga sebentar lagi membaik" ucap Dina berbohong. Dina tidak mungkin mengaku kepada teman-temannya jika sebenarnya yang menjadi pendamping kelompok mereka adalah mantan pacarnya.
"terus bagaimana? Masih kuat kan? Perlu aku panggilkan ambulans atau aku telepon 911?" tanya Caca yang sedikit panik
"sudah Ca...aku tidak apa-apa, tidak perlu panik begitu?" ucap Dina dengan senyum yang dipaksakan
"lagipula 911 itu kan nomor telepon darurat negeri pakde Sam mana ada di negara kita pakai nomor itu?" ucap Berta
"kenapa pakde Sam Ta?" tanya Caca dengan polosnya
"iya kata orang jawa paman itu bisa disebut pakde " ucap Berta tergelak
"kamu ini ada-ada saja" ucap Dina yang akhirnya ikut tertawa karena teman-teman barunya yang lucu dan cukup menghibur kegundahan hatinya.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Yuk...main tebak-tebakan, kira-kira mantan pacar Dina yang mana ya?
Yuk bestie jangan lupa vote nya ya mumpung hari senin
__ADS_1
Ditunggu like, komen dan juga kiriman bunga dan kopinya
Terima kasih sekebon bestie...