
Siang itu, panas begitu terik, untung mereka sedang berada di pegunungan, udara yang sejuk sedikit mengurangi rasa panas itu.
Dina berjalan mendekati pohon mangga yang berada di halaman vila. Pohon itu begitu besar dan sangat rindang sangat cocok untuk berteduh menghalau panas terik matahari.
Dendy menyusul Dina berjalan ke arah pohon mangga tersebut dengan pikiran yang berkecamuk, bingung harus memulai dari mana percakapan mereka nanti.
Dina telah sampai di bawah pohon mangga, kemudian duduk di kursi taman, yang kebetulan di situ diletakkan sebuah kursi taman oleh pengelola vila yang hanya cukup diduduki oleh dua orang.
Dengan perasaan yang bercampur aduk antara gugup, senang, takut, malu Dendy menghampiri Dina yang sedang duduk di kursi.
"Sini Den, duduk sini... " Dina menepuk-nepuk bangku kosong yang berada di sebelahnya
"hmm...boleh Din?" Dendy ragu-ragu untuk duduk di sebelah Dina takut tiba-tiba ada yang marah karena dia telah berani duduk di sebelah Dina
"Ya boleh...memangnya kenapa?" Dina mengernyitkan dahinya menatap Dendy
"hmm....takut nanti ada yang marah" Dendy menjawab dengan senyum kikuk
"marah?...siapa yang marah?" Dina makin bingung
"mungkin saja kamu sudah panya pacar...takut saja Din" Dendy mengerucutkan mulutnya
"hahahhaha...kamu itu ada-ada saja, bukannya semalam kita jalan berdua dan buktinya tidak ada yang marah" Dina tertawa dengan tingkah laku Dendy
"iya sih Din...cuma takut saja kejadian semalam membuat ada yang marah sama kamu" Dendy menggaaruk kepalanya yang tidak gatal
"semalam aku melihat Widi sepertinya marah melihat kita jalan berdua" lanjutnya
Dina mengernyitkan dahinya "Widi..?" Dina bingung kenapa Dendy merasa tidak enak sama widi
"widi itu sahabat aku Den... tidak usah memikirkan yang tidak-tidak, sudah sini duduk katanya tadi mau bicara sesuatu "
Dendy akhirnya memberanikan duduk di sebelah Dina. Ada perasaan gugup tetapi lega. Dendy gugup karena duduk berdekatan lagi dengan Dina. Dia merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Dina, kalau Widi itu sahabat baik Dina.
"jadi kalian hanya bersahabat?" tanya Dendy memastikan apa yang dia dengar baru saja
"iya...sahabat...memang sih kalau dilihat dari sikapnya dia suka sama aku, tapi dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya ke aku, aku hanya diam saja takut dibilang terlalu percaya diri " Dina mengedikkan bahunya
"ohh...begitu ya Din?" Dendy manggut-manggut menatap ke depan
"jadi mau bicara tentang apa, waktuku tidak banyak Den masih banyak yang harus aku bereskan" Dina menoleh menatap Dendy yang ada di sampingnya
"oh...hmmm...anu...anu..."Dendy menunduk tidak berani menatap Dina
__ADS_1
Dina mengernyit heran, dibuat bingung dengan sikap Dendy. Sedang dia sudah ditunggu untuk menyelesaikan mengemasi perlengkapan yang mereka pakai untuk kegiatan makrab.
"ya sudah Den... kalau tidak ada yang mau dibicarakan aku masuk dulu ya " Dina pamit ke Dendy beranjak dari duduknya
tetapi tak disangka Dendy meraih tangannya. Dia genggam tangan Dina dan menatap Dina dengan tatapan sendu
"eh..Din...sebentar" Dendy menarik tangan Dina dan menununtunnya untuk duduk kembali di sebelahnya
"iya apa Den...?"
"begini Din... kamu nanti pulangnya sama siapa?" tanya Dendy menatap Dina dengan tatapan serius
"aku pulang sama teman-teman Den" Dina menjawab dengan tersenyum
"aku antar kamu pulang boleh?" tatapan Dendy maenunjukkan keseriusannya
"aku sepertinya pulang ikut mobil Pak Har tapi tidak tau nanti muat apa tidak "
"aku antar kamu saja ya...ya...ya..." Dendy sedikit memaksa Dina untuk mau diantar pulang
"tidak usah Den, aku harus memastikan semuanya beres di sini, kamu kalau menunggu aku terlalu lama nanti" tolak Dina secara halus
"tidak apa-apa Din, aku tunggu sampai kamu selesai"
Dina tidak mau merepotkan orang lain. Dina masih bisa bareng dengan teman-temannya yang kebetulan ada beberapa yang searah dengan rumahnya
"oohh..jadi kamu tidak mau aku bonceng ya Din?" jawab Dendy lirih
"bukannya aku tidak mau Den, tapi......" ucapan Dina terjeda karena ada yang berteriak memanggilnya dari arah teras
Widi yang memanggil Dina. Dia menanyakan apa barang-barang bawaan Dina sudah selesai dibereskan. Kalau belum Widi ingin membantunya untuk mebereskannya.
Dina menolak bantuan dari Widi, karena tidak enak dengannya, itu bukan tugas widi karena dia bukan panitia.
"sepertinya ada yang tidak suka aku dekat dengan kamu Din?" ucapan Dendy membuat Dina terkesiap menatap Dendy
"Hahh....?"
"ya sudah kalau kamu tidak mau aku antar Din? Dendy memaksakan senyumnya menatap Dina "aku ingin lebih dekat dengan kamu Din" lanjutnya lirih
"eh.... apa Den?" tanya Dina karena merasa kurang jelas apa yang dia dengar barusan
"ah...tidak apa-apa Din" Dendy memksakan senyumnya
__ADS_1
"kalau besok-besok aku main ke rumahmu boleh kan Din?"
"eh...mau main ke rumah? aku jarang di rumah Den, kalau di rumah di atas jam 5 " Dina kembali menolak secara halus
"ya hari minggu atau hari libur begitu Din"
"iya..iya...kalau mau main, main saja Den " Dina akhirnya menyerah bingung harus beralasan apa lagi agar tidak ada cowok-cowok yang main ke rumahnya
"Ya sudah...kamu masuk lagi saja itu sudah ditunggu sama teman-temanmu" ucap Dendy menunjuk ke arah teras vila
"nanti pulang jam berapa Din?"
"paling jam satu atau jam 2 gitu" jawab Dina sambil beranjak dari duduknya
"nanti hati-hati pulangnya, aku tunggu di depan mungkin saja kamu tidak dapat tumpangan " Dendy masih ingin meyakinkan Dina untuk pulang bersamanya
"iya..iya...aku ke dalam dulu ya Den" pamit Dina
"terima kasih buat waktunya ya Din" Dendy mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus, sambil beranjak dari duduknya berdiri menghadap Dina
"iya sama-sama " Dina tersenyum sambil berjalan meninggalkan Dendy
Dendy menatap Dina yang berjalan meninggalkan dia di bawah pohon mangga itu. Perasaannya campur aduk sulit untuk diungkapkan. Senang sedih kecewa lega semua bercampur jadi satu
Dendy memang bukan tipe yang bisa mendekati cewek dengan cepat. Dia mendekati cewek secara perlahan, tidak mau terburu-buru. Dia hanya ingin cewek yang dekat dengannya itu karena memang suka dengannya bukan karena terpaksa dekat dengannya.
Memang terkesan bertele-tele seperti orang yang tidak berniat untuk berpacaran. Tapi itulah Dendy tipe cowok yang lembut sabar tetapi gigih memperjuangkan apa yang dia inginkan meskipun butuh waktu yang lama. Tak jarang orang meremehkannya kadang memandangnya dengan sebelah mata.
.
.
.
.
.
.
*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1