
Sesampainya di sekolah setelah memarkirkan motor miliknya di tempat parkir Dendy berjalan menuju kelasnya. Di depan pintu ruang kelasnya Nana sudah menunggunya seperti biasa.
Ada yang memberi tahu Nana kalau Dendy dan Dina sudah putus. Hal itu dimanfaatkan oleh Nana untuk mendekati Dendy lagi. Ia sudah lupa dengan ancaman Dendy tempo hari.
"pagi Dendy...." ucap Nana dengan suara dibuat mendayu-dayu
"hmmm..." Dendy berjalan melewati Nana yang berdiri di depan pintu kelasnya. Merasa diacuhkan oleh Dendy, Nana mengekori Dendy masuk ke dalam kelas.
"hari minggu jalan yuk..." Nana mendekati Dendy yang sedang meletakkan tasnya di kursi duduknya
"aku sudah ada janji" jawab Dendy datar
"janji? Janji dengan siapa?" Nana mencoba menggoda Dendy, ia meyakini itu hanya alasannya saja untuk menghindarinya.
"Dengan Dina" ucap Dendy datar dan berjalan meninggalkan Nana
"alasan kamu saja, aku tahu kalian sudah putus" ucap Nana setengah berteriak mengikuti Dendy
"putus? Aku baik-baik saja dengan Dina!" ucap Dendy kesal
"kalau kalian baik-baik saja, kenapa kamu pergi dengan mantanmu heh?" tanya Nana semakin kencang suaranya
Dendy hanya diam tidak menjawab lagi, percuma dia bicara dengan Nana. Nana tidak akan mau peduli, dia tidak akan menyerah sebelum semua keinginannya terwujud.
"heh...Den...kalau sudah putus bilang saja...jangan sok jual mahal!" ucap Nana histeris karena Dendy megabaikan dia, hingga seisi sekolah mendengar teriakannya dan akhirnya dia diam dan masuk ke kelasnya.
.
.
Di studio SMAX fm, semua tim sudah berada di dalam kecuali Dina. Mereka memanfaatkan waktu sebelum mereka terpisah nantinya karena mereka tidak tahu mereka akan kuliah dimana.
Widi menunggu Dina dengan cemas, karena ia yang kemarin bilang kalau harus memperbaiki alat yang ada di studio ternyata dia harus membeli suku cadang yang harganya agak mahal. Sedangkan dia lupa membawa dompetnya, mau tidak mau harus menunggu Dina karena Dina yang membawa uang untuk keperluan studio.
Dina masuk ke studio tepat jam sembilan. Seisi ruangan memandang ke arahnya berjalan masuk ke dalam studio, mereka bernafas lega karena yang ditunggu-tunggu sudah datang.
"ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Dina menatap teman-temannya yang sedari tadi menatap kedatangannya.
"ini...tadi ada yang rusak, tapi Widi lupa bawa dompet" ucap Joni
__ADS_1
"memang apa yang rusak, terus apa hubungannya dengan aku dan Widi yang lupa bawa dompet?" Dina bertanya heran
"iya adalah.... 'kan harus beli suku cadangnya, memangnya beli tidak pakai uang?" ucap Alex
"memangnya apa yang mau dibeli?" tanya Dina mendekati Widi
Widi menunjukkan apa saja yang harus dibeli kepada Dina. Sebenarnya selama ini Widi yang membeli alat-alat dengan uangnya sendiri dan setelah bertemu Dina ia memberikan notanya dan Dina mengganti semua uang yang sudah dikeluarkan oleh Widi.
"oh...itu...tidak perlu beli...tempo hari pak Har sudah pernah beli, sebentar aku cari dulu" ucap Dina sambil membuka lemari penyimpanan dan mencari barang yang dimaksud oleh Widi.
Setelah ketemu, Dina memberikannya kepada Widi. Widi 'pun mulai mengerjakan tugasnya kembali.
"kenapa kalian tidak bilang dari tadi, kenapa harus menunggu aku ?" tanya Dina sambil mendudukkan dirinya di kursi dekat Widi bekerja
"mana kutahu kalau barangnya sudah ada" jawab Widi
"kalian 'kan bisa menelpon aku" ucap Dina "berarti ini siaran sementara berhenti 'kan?" lanjutnya
"iya...sedang dalam perbaikan" ucap Alex
"ya sudah aku pulang saja kalau begitu" ucap Dina berdiri dari tempat duduknya
"kenapa buru-buru Din?" tanya Anto
"sebentar Din...ini sebentar lagi selesai" ucap Widi
"ya sudah aku temani kalian tapi tidak lama-lama ya" Dina duduk kembali
"daftar lesnya hari rabu saja ya, setelah kita mengembalikan buku" ucap Anto
"iya...tapi aku bonceng ya, terserah siapa yang mau boncengin aku" ucap Dina
Mereka mengobrol membicarakan hal-hal yang sedang hangat diperbincangkan di sekolah. Dari guru yang mau menikah, ada siswa yang ketahuan berpacaran di sekolah. Mereka mnegobrol sudah seperti ibu-ibu komplek kalau sedang arisan.
Tepat jam sebelas Dina pamit karena ia ingin menepati janjinya mampir ke rumah Dendy, walaupun ia tahu kalau Dendy belum pulang. Dina melajukan motornya dengan kecepatan sedang ke rumah Dendy.
Sampai di depan rumah Dendy, Dina memarkirkan motornya di depan pintu pagar. Mamanya Dendy yang sedang mengobrol dengan tetangganya menyudahi obrolannya dan menghampiri Dina.
"sudah lama tidak ke sini Din" ucap mama Tari
__ADS_1
"iya tante, kemarin sibuk ujian akhir" ucap Dina sambil menyalami mamanya Dendy
"tapi Dendy belum pulang Din.." ucap mama Tari
"iya tante, Dina tahu" ucap Dina tersenyum
"ayo masuk...masuk...kok malah di depan pagar" mama Tari mengajak Dina masuk
"ah...iya tante...tapi Dina tidak bisa lama-lama" ucap Dina tak enak hati, niatnya hanya ingin mengerjai Dendy, justru ia yang terjebak dengan mamanya Dendy
"kenapa buru-buru ayo masuk, tante tadi mau masak bakso tapi ada tetangga datang jadi ditunda masaknya" ucap mama Tari
"iya tante, kemarin Dina disuruh Dendy mampir kalau pas ke sekolah, mumpung Dina tadi dari sekolah sekalian saja mampir" ucap Dina merutuki kebodohannya yang niat awal hanya sekedar menampakkan wajahnya di depan mamanya Dendy malah dia diajak memasak oleh mama Tari.
"ayo bantu tante masak, sebentar lagi Rio pulang" ucap mama Tari mengajak Dina masuk ke dapur dan mengeluarkan bahan-bahan masakan.
Dina akhirnya pasrah saja, melihat mamanya Dendy yang bersemangat. Melihat mamanya Dendy yang sudah mengeluarkan begitu banyak bahan masakan akhirnya ia tidak tega dan mau tidak mau membantu tante Tari memasak.
Mereka berdua kompak sudah seperti ibu dan anak. Tante Tari yang tidak memiliki anak perempuan begitu senang akan kehadiran Dina. Dina yang sopan, yang ramah dan bisa menempatkan dirinya membuat mamanya Dendy bahagia karena ia merasa memilik anak perempuan yang selalu ia inginkan selama ini.
Tante Tari merasa beruntung Dendy bisa mengenal Dina yang benar-benar baik. Tante tari berharap semoga Dina dan Dendy bisa terus bersama-sama, dan menginginkan menjadi menantunya kelak.
Dina juga merasa nyaman dengan mamanya Dendy. Tante Tari yang sabar, keibuan dan tidak banyak bicara tapi ramah kepada semua temannya Dendy membuat Dina merasa mama Tari menjadi mertua idamannya.
Dari mama Tari, Dina banyak mengetahui jika mempunyai anak laki-laki benar-benar membuat kesabarannya diuji. Dendy yang cenderung menjadi anak yang susah diatur dan selalu mengabaikan mamanya. Dan Rio yang penurut tapi selalu saja menjahili kakaknya membuat mama Tari benar-benar harus ekstra sabar.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
.
Dukung terus karya ini ya bestie...
__ADS_1
Please like, komen dan votenya
Terima kasih sekebon bestie