
Seminggu berlalu, sejak kejadian malam itu di bukit di pinggiran kota J, Bimo tak lagi mengantar jemput Dina. Dina merasa lega, karena ia bebas untuk pulang pergi ke kampus tanpa harus merasa tidak enak dengan kedua temannya.
Hampir tiap malah Dendy juga menelponnya. Mereka berbincang lumayan lama di telepon. Karena hanya di malam harilah mereka sama-sama tak ada kegiatan. Hari sabtu kemarin juga menyempatkan untuk pulang. Demi Dendy ia rela setiap minggu pulang pergi.
Dina masih belum menceritakan tentang Bimo pada Dendy. Ia takut Dendy akan marah padanya dan berakibat seperti yang sudah-sudah. Dina hanya tak ingin hubungannya dengan Dendy bermasalah lagi.
Ia berusaha mengatasi semua sendiri. Di kota J ia hidup sendiri jadi sebisa mungkin ia tetap menjaga hubungan dengan semua orang tetap baik.
Tapi Dina masih berkeinginan untuk berkeliling kota J dan satu-satunya harapan hanyalah Bimo, karena jika ia meminta tolong pada Wilson sudah pasti akan dicibir.
Untuk mengutarakan keinginannya Dina takut. Takut dianggap memberi harapan pada Bimo. Keinginan itu ia simpan dalam hatinya. Selama seminggu pula ia tidak bertemu dengan Bimo di kampus.
Ia sering bertemu dengan Riri, tapi tidak bertemu dengan Bimo. Setiap bertemu dengan Riri, masih saja Riri menatapnya dengan tatapan tidak suka.
Dina tidak tahu ia memiliki salah apa lagi dengan Riri. Ia sudah mengakui jika dirinya sudah memiliki pacar pada Riri dan juga pada Bimo. Dina pikir seharusnya semua bisa berdamai. Lagipula pertunangan yang disebut-sebut oleh Riri sudah batal jauh sebelum Dina kuliah di kampus A.
Karena Dina masih semester satu, sebagian besar mata kuliah yang ia ambil berada di jam paling pagi. Ia harus masuk kuliah jam tujuh pagi dari senin hingga jumat.
Seperti biasa Dina jam setengah tujuh sudah bersiap-siap berangkat ke kampus. Sekarang ia sudah mengenal semua penghuni kosnya. Sering ia berangkat bersama kakak tingkatnya tapi berbeda jurusan namun masih satu kampus.
Dina sudah menunggu Tere kakak tingkatnya satu kampus tapi ia berkuliah di jurusan menejemen. Biasa mereka berangkat berdua berjalan kaki.
Dina duduk di depan kamar kosnya menunggu Tere turun karena kamar Tere terletak di lantai dua tempat kosnya.
"Din..." sapa seseorang di depan pintu kosnya yang terbuka
Dina menoleh, dan mendapati Bimo berdiri di pintu kosnya dengan senyum mengembang. Tapi ada yang berbeda dari Bimo, ia terlihat acak-acakan bukan sperti Bimo yang ia kenal, yang selalu terlihat rapi dan berwibawa.
"iya mas..." ucap Dina tersenyum tipis
"ayo berangkat..." ajak Bimo
"tapi aku menunggu teman mas..." ucap Dina
"siapa? Hari ini kebetulan kuliahku kosong, aku akan mengantar kamu kemana saja yang kamu mau" ucap Bimo dengan nada tegas namun dengan tatapan teduh.
"teman...anak ekonomi, mungkin sebentar lagi turun" terang Dina
"oh...teman satu kos?" Bimo masuk ke kos Dina dan duduk di sebelah Dina.
__ADS_1
"Din...kamu berangkat dulu saja...! aku masih ada tugas yang harus aku kerjakan...!" ucap Tere dari atas tangga
"baik kak...! aku berangkat dulu ya...!" teriak Dina
"sepertinya hari ini hari keberuntunganku" Bimo menaikturunkan alisnya
"mas tumben bajunya berantakan" Dina beranjak berdiri dan berjalan keluar kos diikuti oleh Bimo
"mau rapi atau berantakan sama saja, tidak ada yang memperhatikan" ucap Bimo santai
Dina diam tidak menanggapi ucapan Bimo, jika ia menanggapi pasti akan lebih panjang lagi perbincangan mereka.
Dina telah sampai di kampus. Bimo menurunkan Dina tepat di depan tangga lobi kampusnya.
"aku tunggu di depan perpustakaan bawah, kuliah yang rajin, aku ada urusan sebentar" pamit Bimo sambil menutup kaca helmnya.
Dina berjalan menaiki tangga ke ruang kuliahnya. Dina memikirkan Bimo yang penampilannya bukan seperti Bimo yang ia kenal. Bahkan biasanya kumis dan bulu-bulu halus di wajahnya rutin ia bersihkan, sekarang terlihat agak tebal.
Entah apa yang terjadi pada Bimo selama satu minggu terakhir. Dina tidak tahu, apakah karena penolakannya itu Bimo menjadi seperti sekarang.
Dua jam berlalu, kuliah Dina telah selesai. Dina turun bersama kedua temannya.
"aku tidak ikut ya..." ucap Dina dengan nada sendu
"kenapa Din?" tanya Caca curiga
Selama seminggu terakhir mereka bertiga selalu bersam-sama. Sarapan bersama, makan siang bahkan makan malam merek sering bertiga.
"aku sudah ditunggu mas Bimo Ca..." ucap Dina tak enak hati
"oh...aku kira kalian sudah tidak berhubungan lagi" ucap Berta
"tiba-tiba tadi pagi dia menjemputku...aku kasihan merasa tidak enak juga..."
"ya sudah temui dia Din...beberapa hari yang lalu aku sempat melihatnya bersama Riri, penampilannya sudah acak-acakan dan seprtinya kak Bimo marah besar dengan si nenek sihir itu" terang Berta
"iya...kalian hati-hati ya...kalau ada apa-apa telepon ya..." pesan Dina
"oke...kamu juga hati-hati...sepertinya kak Bimo sedang tak baik-baik saja"
__ADS_1
Mereka bertiga berpisah di lobi kampus. Dina berjalan ke perpustakaan yang terletak di basement. Saat turun ke basement Dina berpapasan dengan Dodi teman dekat Dendy.
Dina mencari keberadaan Bimo, ia menelusuri lorong depan perpustakaan. Ia melihat Bimo duduk di sudut lorong tersebut sendiri.
"mas...." Dina menyentuh bahu Bimo dari belakang
"sudah selesai?" tanya Bimo
"iya..."
"masih ada kuliah?" tanya Bimo
"tidak, kuliahku selanjutnya kosong" jawab Dina duduk di sebelah Bimo
"mas Bimo ada masalah apa? Aku belum pernah melihat mas seperti ini" Dina memberanikan diri bertanya
"aku baik-baik saja Dina sayang..." ucap Bimo dengan senyum dipaksakan
"mas Bimo terlihat tidak sedang baik-baik saja, baju acak-acakan, rambut juga acak-acakan, wajah juga biasanya bersih ini kenapa brewokan begini?" Dina mencibir "dan lagi matamu seperti mata panda, mas habis menangis?"
"Dinaku sudah kembali ternyata...." ucap Bimo tersenyum mengembang
"mas ini ada apa? Jangan membuatku takut..." Dina makin gusar melihat tingkah laku Bimo yang seperti orang depresi
Tiba-tiba Bimo memeluk Dina. Dan bahu Dina terasa basah.
"jangan di sini, kalau ada orang yang melihat bagaimana?" Dina mengurai pelukan Bimo
"Din...jangan abaikan aku, aku butuh kamu" ucap Bimo terisak
"ayo lebih baik kita pulang saja" Dina beranjak berdiri.
Dina hanya tidak mau terjadi masalah padanya. Berpelukan dengan cowok di dalam kampus. Apalagi ia masih menyandang status mahasiswa baru.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1