
Widi kembali ke dalam studio dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dia tidak ingin Dina mengetahui kalau ia baru saja berbicara dengan Toni. Ia tahu Dina pasti akan marah kalau ia ikut campur masalah pribadi Dina.
"kamu dari mana saja Wid?" tanya Dina yang sedang menemani Alex siaran
"dari toilet" jawab Widi singkat
"kamu lihat ada Dendy di luar tidak?" tanya Dina dengan wajah tak berdosanya
"tidak" jawab Widi kemudian ia duduk di samping Alex
Dina merasa aneh, kenapa tiba-tiba Widi diam dan berbicara seperlunya saja padahal tadi dia bersikap seperti biasa, banyak bicara ketika ada dirinya.
"Wid, kamu besok di kota J tinggal dimana?" tanya Dina yang sudah tahu kalau Widi diterima di kampus negeri di kota J, kampus impian Dina
"aku tinggal bersama kakakku Din, yang dosen di calon kampusmu besok" ucap Widi tak sedatar tadi
"oh...iya kah? Dosen apa Wid?" tanya Dina penasaran
"dosen fakultas hukum" jawab Widi
"oh..." Dina hanya ber-oh ria
Dina melanjutkan siaran, menggantikan Alex yang sedang ke toilet. Dina asyik siaran, tak sadar dari tadi Dendy sudah menunggunya duduk di dekat pintu studio. Dendy mendengarkan dan memperhatikan Dina siaran.
Dendy merasa cemburu karena Dina terlihat sangat dekat dengan Widi. Tapi ia berusaha berpikiran positif, dan tidak langsung menyimpulkan apa yang ia lihat. Dendy menahan rasa cemburunya, ia takut jika ia menunjukkan rasa cemburunya, Dina akan sakit lagi seperti waktu lalu.
Dina melihat ke arah pintu ruang studio, dan ia kaget melihat ternyata Dendy sudah menunggunya. Dina memutar musik dan kemudian meninggalkan meja siar. Ia bergegas menghampiri Dendy.
"sudah lama?" tanya Dina menghampiri Dendy
"lumayan, dapat dua lagu " ucap Dendy terkekeh
"kenapa tidak ke dalam kalau menunggu lama?"
"aku tidak mau mengganggumu" ucap Dendy tersenyum teduh
"eh...kamu masih pakai batik...dhuh...makin cakep saja" ucap Dina sedikit tersipu melihat Dendy yang kadar ketampanannya sedikit naik karena masih pakai baju batik
"iya, tadi belum sempat ganti baju, aku langsung ke sini takut kamu menungguku" ucap Dendy tersenyum mendengar pujian Dina
"maaf ya kamu harus menunggu lagi....aku mau lanjut siaran, nanti kalau Alex sudah kembali kita pulang" ucap Dina bergegas kembali ke meja siar karena lagu yang ia putar sudah hampir selesai.
Dina melanjutkan siaran, ia menunggu Alex yang tak kunjung kembali. Sampai setengah jam berlalu Alex masih tak kunjung kembali.
__ADS_1
"Wid...kamu cari Alex, masak iya ke toilet lama sekali?" ucap Dina
"iya sebentar..." Widi berjalan ke luar studio. Saat sampai di dekat pintu ia hanya melirik Dendy sekilas kemudian ia membuka pintu dan keluar dari studio.
"Den...temani aku di sini" ucap Dina setengah berteriak karena ia tidak bisa meninggalkan meja siarnya.
Dendy menuruti Dina, ia berjalan mendekati Dina kemudian ia duduk di samping Dina.
Ini pengalaman pertamanya menemani Dina siaran dan duduk di meja siar. Dendy diam memperhatikan Dina, ia tidak berani bersuara takut mengganggu Dina.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Widi dan Alex masuk ke studio. Dengan raut wajah tanpa dosanya Alex duduk di depan Dina.
"kamu lama sekali, kemana saja?" tanya Dina kesal
"aku tadi pulang dulu sebentar" ucap Alex menggaruk kepalanya yang tak gatal
"ya sudah aku pulang dulu" Dina beranjak dari duduknya
"lhoh...kenapa buru-buru Din?" protes Alex
"aku di sini kan bukan penyiar, aku cuma bantu-bantu kalian, ya suka-suka aku mau sebentar atau lama!" ucap Dina ketus "ayo Den..." Dina menarik Dendy keluar.
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya Dendy menurut mengikuti Dina. Ia tahu Dina kesal karena sejak tadi ia menunggu temannya tapi tidak kunjung datang jadi lebih baik dia diam saja.
Mereka berdua sampai di tempat parkir motor yang terletak di dekat pintu gerbang belakang sekolah Dina. Dendy menghentikan langkahnya
"kenapa?" tanya Dina
"aku mau ganti baju dulu, malu kalau harus mengantar kamu pakai batik seperti ini" ucap Dendy
"eh...jangan...! Jarang-jarang kamu pakai batik seperti ini, jangan ganti baju" ucap Dina
"baiklah...demi kamu, hari ini aku pakai batik seharian" ucap Dendy sambil menatap Dina dan menyelipkan rambut Dina yang terurai di belakang telinga Dina.
"nah....kalau begitu aku makin sayang" ucap Dina lirih tersipu malu mengucapkan kata-kata sayang untuk Dendy
Dendy hanya tersenyum, kemudian mencium kening Dina dengan penuh perasaan.
"pengumumannya kapan Din?" tanya Dendy
"hari kamis besok, besok tolong kamu lihat pengumumannya ya Den, soalnya aku besok harus menjaga adik-adikku di rumah" ucap Dina
"iya... Pagi-pagi aku lihat di website kampus A habis itu aku ke rumahmu, mau dibawakan apa besok?" tanya Dendy lembut
__ADS_1
"hmmm...apa ya....bawakan aku...apa saja deh..." ucap Dina
"ooiya...aku hampir lupa..." Dendy mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku jaketnya dan memberikannya kepada Dina
"apa ini Den?" tanya Dina dengan mata berbinar
"kado ulang tahun untukmu, maaf terlambat memberi kado untukmu, Selamat Ulang tahun sayangku, cintaku, kekasihku" ucap Dendy sambil mencium pipi Dina
"ah...terima kasih sayangaku, cintaku, kekasih hatiku" ucap Dina tersipu
"sekarang bukalah" ucap Dendy
Dina pun membuka kotak beludru kecil berwarna merah itu. Dan saat kotak itu terbuka Dina sungguh tidak menyangka apa yang ada di dalam kotak itu.
Sebuah kalung perak, dengan liontin inisial nama mereka berdua 'D&D' "ini bagus sekali sayang..." ucap Dina berbinar kemudian memeluk Dendy
Dendy pun membalas pelukan Dina dengan erat dan membelai punggung Dina.
"sini aku pakaikan" Dendy mengurai pelukannya dan mengambil kalung yang ada dalam kotak itu. Dendy memakaikan kalung itu di leher Dina.
"cantik..." ucap Dendy dengn tersenyum "semoga dengan kalung ini kamu selalu ingat aku ketika kamu jauh dariku"
"kamu bicara apa? sudah pasti aku selalu ingat kamu" Dina mengerucutkan bibirnya
Dendy hanya tersenyum melihat Dina yang merajuk. "ayo kita pulang, atau kamu mau jalan-jalan dulu?" tanya Dendy
"aku mau ke danau Den...mumpung masih ada waktu, siapa tahu setelah ini kita akan jarang sekali bertemu, atau bahkan tidak akan bertemu lagi dalam waktu yang lama" ucap Dina sendu
"kamu bicara apa sih? Seperti mau pergi jauh saja" ucap Dendy sambil mengambil helm Dina dan memakaikannya ke kepala Dina
Dendy pun juga memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya. Setelah Dina naik ke boncengan Dendy, Dendy melajukan motornya dengan kecepatan rendah ke arah danau yang terletak tidak jauh dari sekolahnya.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Dukung terus karya ini ya bestie...
Pleas like, komen dan votenya ya bestie...
__ADS_1
Kirim kopi atau bunga juga boleh...
Terima kasih sekebon bestie