
Empat hari Dina berada di rumah. Kini saatnya Dina harus kembali ke kota J. Seperti biasa Dendy akan mengantar Dina ke terminal. Dengan berat hati mereka harus berpisah lagi untuk enam hari ke depan.
"minggu depan aku ada study tour ke Bandung, kamu mau titip apa?" tanya Dendy lembut saat menemani Dina menunggu bis di terminal
"minggu depan? hari apa Yang?" tanya Dina sedih
"berangkat hari jumat sampai hari minggu" Dendy menghela nafasnya
"kalau begitu aku tidak pulang saja!" Dina mengerucutkan bibirnya
"kenapa?" Dendy kaget mendapat tanggapan tak terduga dari Dina
"aku pulang setiap minggu untuk bertemu kamu, kalau kamu tidak ada buat apa aku pulang" Dina masih merajuk
"harusnya ada atau tidak ada aku, kamu tetap pulang, apa kamu tidak ingin bertemu keluargamu?" tanya Dendy lembut. Dina diam, Dendy begitu bijak mengatakan apa yang sebenarnya baik untuk Dina.
"kalau kamu tidak ada aku akan merasa bosan di rumah Yang..." Dina merajuk
"terserah kamu bagaimana baiknya..." ucap Dendy dengan tatapan teduh
"sekarang kamu mau titip apa? Hmmm...."tanya Dendy lembut sambil membelai rambut Dina
"apa saja...aku tidak meminta yang aneh-aneh" jawab Dina yang tidak tahu harus minta apa ke Dendy
"ya sudah...sekarang kamu naik sana...nanti kamu kemalaman sampai kos" ucap Dendy, yang dari tadi melihat beberapa bis yang menuju kota J sudah berangkat dan dilewatkan begitu saja oleh Dina
"jadi kamu mengusir?!" Dina makin merajuk
Dendy menghela nafasnya "bukan mengusir, tapi hanya ingin kamu tidak kemalaman sampai kos kamu, kalau ditanya pastinya aku masih ingin menghabiskan waktu bersama kamu" terang Dendy dengan hati-hati
"baiklah...aku berangkat dulu" Dina mencium pipi kiri dan kanan Dendy dengan wajah muram.
Dina menaiki bis yang akan membawanya ke kota J. Hatinya terasa berat harus meninggalkan Dendy, apalagi kali ini mereka selama dua minggu akan tidak bertemu.
Setelah memastikan bis yang Dina tumpangi berangkat, Dendy pulang. Sebenarnya ia berat melepas Dina, tapi ini juga jalan yang Dina pilih. Kalau boleh memilih, Dendy akan meminta Dina berkuliah di kotanya saja.
Dendy melajukan motornya pulan ke rumah, sebelum pulang ia membelokkan motornya ke rumah Dodi berharap Dodi belum berangkat kembali ke kosnya.
"Dod...aku kira kamu sudah berangkat..." ucap Dendy ketika ia sampai di depan rumah Dodi
__ADS_1
"sebentar lagi...menunggu kak Vina dulu..." jawab Dodi yang sudah siap hendak berangkat
"Dina bagaimana?" tanya Dodi penasaran
"baru saja aku mengantarnya ke terminal..." jawab Dendy lesu
"oh...sabar...tinggal beberapa bulan lagi..." ucap Dodi menenangkan Dendy
Dodi mengetahui rencana Dendy untuk menyusul Dina berkuliah di kota J. Dodi tahu persis apa yang di alami Dendy.
"kos Dina dekat kosnya kak Vina, memang beberapa kali melihat Dina pergi dengan cowok, tapi menurut kak Vina biasa saja, tidak ada yang perlu dikawatirkan" ucap Dodi
"aku percaya dengan Dina Dod..." ucap Dendy yang sebenarnya menahan sesaak di dadanya.
"memang harus begitu, apalagi teman kuliah Dina sebagian besar cowok ya mau bagaimana, tidak seperti aku yang kuliah dikelilingi cewek-cewek" Dodi terkekeh
"ya sudah...aku titip Dina, jaga dia ya..." Dendy pergi meninggalkan rumah Dodi. Meski di depan Dina ia tampak tegar dan bisa menerima kenyataan, tapi jauh di lubuk hatinya ia benar-benar tidak bisa merelakan berjauhan dengan Dina.
.
Dina telah sampai di kosnya, ia membersihkan kamarnya kemudian ia membersihkan dirinya. Sejenak ia merebahkan tubuhnya. Kosnya masih sepi,belum kembali dari liburan pikirnya.
"sore Dina...." sapa seseorang
"eh...kamu Dod...ada apa?" Dina tersenyum ramah
"mampir saja... Habis mengawal kak Vina lewat sini iseng pencet bel ternyata kamu sudah sampai" Dodi nyengir kuda
"oh...memangnya kak Vina kos dimana?"
"itu di ujung gang" Dodi menunjuk rumah kos yang hanya berselisih tiga rumah dari kosnya.
"ya sudah aku lanjut lagi..." pamit Dodi
"lhah...cuma begitu saja?"
"iya...hanya memastikan kamu sampai kos dengan selamat, sesuai pesan kanda Dendy" Dodi terkekeh kemudian ia meninggalkan kos Dina.
Dina menutup pintu kosnya dan masuk lagi ke kamarnya. Dina merada bosan tak ada yang bisa ia kerjakan. Ke tempat teman-temannya belum tentu juga mereka ada di kos.
__ADS_1
Saat-saat seperti ini Dina ingat Bimo. Biasanya Bimo selalu datang disaat Dina merasa bosan. Seperti memiliki ikatan batin yang kuat, Bimo akan datang ketika Dina sedang membutuhkan teman.
Dan benar saja ketika Dina memikirkan Bimo, Bimo sudah berada di depan kosnya. Ia tidak memencet bel namun ia mengetuk jendela Dina. Dina kaget, kemudian ia membuka sedikit gordennya dan terlihat Bimo sedang tersenyum padanya.
Dina membukakan pintu untuk Bimo "dari mana mas tahu aku ada di kos?" tanya Dina heran
"lampu kamarmu menyala..." jawab Bimo dengan senyum tipisnya "boleh aku masuk? Aku baru saja sampai, aku lelah sekali Din.."
Dina mengangguk, mengijinkan Bimo masuk kamar kosnya karena merasa tidak tega melihat wajahnya yang tampak lelah. Bimo masuk ke kamar Dina, pertama yang ia lihat adalah kasur.
Bimo meletakkan tas dan melepas jaketnya kemudian ia merebahkan diri di kasur. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus. Dina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"datang-datang langsung tidur, sungguh tamu tak sopan" gumam Dina kemudian ia merapikan tas dan jaket Bimo yang ditaruh sembarangan. Dina kemudian keluar kamar dan mengunci pintu kosnya.
Dina masuk lagi ke dalam kamarnya "kalau begini sama saja, ada teman tapi orangnya tertidur" gumam Dina sambil duduk bersandar di dinding kamarnya menunggu Bimo bangun.
Karena merasa bosan, Dina keluar kamarnya dan berjalan ke lantai dua, siapa tahu ada teman kosnya yang berada di kamar namun juga tertidur.
Tapi ternyata sama saja di lantai dua terlihat sepi dan lampu lorong kosnya pun belum menyala. Dina bergidik kemudian ia turun lagi masuk ke kamarnya.
Dina benar-benar bosan, ia pun menyalakan radio dengan volume rendah, hanya sekedar untuk menghilangkan rasa sepinya. Setengah jam berlalu, belum ada tanda-tanda Bimo akan bangun.
Dina benar-benar bosan, ia pun keluar dari kosnya pergi ke telepon umum, niatnya menelepon Dendy. Namun ternyata Dendy pun tidak berada di rumah. Sungguh sial nasib Dina hari ini.
Kesepian, tak ada teman, ingin menelepon Dendy tapi tidak ada. Andaikan ia tahu akan seperti ini, Dina akan memilih berangkat dari kotanya sedikit lebih malam.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa mampir di karya 'JADIKAN AKU PACARMU!'
Ditunggu like, vote dan komennya ya bestie
Terima kasih sekebon
__ADS_1