
Hari-hari berlalu, Dina kuliah seperti biasa. Dia juga masih sering diantar jemput oleh Bimo. Bahkan ada dua mata kuliah mereka satu kelas. Dina sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Bimo.
Dina tak lagi bersikap dingin, ia hanya bersikap biasa saja tak menunjukkan jika ia menyukai atau membenci Bimo. Ia hanya menghargai Bimo yang telah baik kepadanya.
Dendy semakin intens menelepon Dina setiap malam. Terkadang mereka berbicara di telepon sampai larut malam. Dina semakin tak bisa pindah ke lain hati.
Dendy selalu punya cara menenangkan Dina yang terkadang merasa gundah. Dendy selalu bisa memberikan masukan-masukan terhadap masalah yang sedang Dina hadapi.
Dina semakin kagum, Dendy yang sekarang jauh lebih dewasa dan lebih bijak. Dina lah yang semakin terlihat seperti anak kecil yang manja. Memang benar umur tidak bisa menjadi patokan kedewasaan seseorang.
Dulu banyak yang mencibir Dina berpacaran dengan cowok yang umurnya lebih muda dari dia karena nantinya dirinya yang harus menjaga perasaan dan dituntut menegerti semua kondisi cowok yang lebih muda.
Semua cibiran itu terbantahkan, malah Dendy lah yang terkadang lebih dewasa daripada dirinya. Dina sering bersikap kekakanak-kanakan bukan Dendy.
Jika ada kesempatan Dina akan pulang sesering mungkin. Ia juga ingin memberikan dukungan kepada Dendy yang sebentar lagi menghadapu ujian akhir.
Ketika pulang pun Dina juga selalu menghabiskan waktunya di rumah Dendy yang lebih sering kosong. Tapi Dendy dan Dina tak pernah berbuat lebih lagi, mereka hanya sekedar berpelukan, berciuman atau tidur bersama.
Mereka berdua menyadari apa yang mereka lakukan itu salah. Mereka takut tak akan bisa mengendalikan hasrat muda mereka yang membara.
Hari Valentine, hari yang dinanti setiap pasangan untuk menghabiskan wakti mersama orang terkasih. Dina pulang meskipun tugas kuliahnya menumpuk. Ia ingin bertemu dan menghabiskan waktu bersama Dendy.
Tapi dari pagi ia menelepon rumah Dendy tak ada yang mengangkat. Jika tak ada yang mengangkat telepon berarti memang tak ada orang di rumah.
Dina sengaja pulang tak memberitahu Dendy jika dirinya pulang di hari valentine. Karena sudah terlanjur pulang Dina ke rumah Ani. Teman sekolah Dina yang masih dekat dengannya hanya Ani.
"eh...Din..." ucap Ani membuka pintu pagar rumahnya
"An..."
"baru minggu kemarin pulang, sudah pulang lagi" ucap Ani
"memang biasanya aku pulang seminggu sekali An...apa kamu lupa?" Dina terkekeh
"iya...ya..." Ani terkekeh "oh...iya...semalam Dendy ke sini, menitipkan sesuatu untukmu" ucap Ani masuk ke dalam rumahnya
__ADS_1
Tak berapa lama Ani keluar membawa sebuah bungkusan berwarna merah jambu. "ini..." Ani menyerahkannya kepada Dina
"kenapa dia menitipkannya paadamu?" ucap Dina kesal
"mana kutahu Din....paling pikirnya dia, tiap kamu pulang sering mampir ke sini" Ani mengedikkan bahunya
"sekarang dia tidak di rumah...sia-sia aku pulang" Dina mengerucutkan bibirnya
Dina kembali ke kota J dengan perasaan sedih, kesal, marah karena tak bertemu Dendy. Entah kemana Dendy sampai di hari valentine tak menemuinya.
Di saat ia sedang kesal, Bimo datang ke kosnya. Dengan perasaan malas Dina menemuinya.
"kenapa wajahmu dilipat-lipat begitu?" tanya Bimo lembut meski dengan suara tegasnya
"sedang capek saja mas..." kilah Dina
"sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" ucap Bimo dengan kedua sudut bibirnya terangkat
"memangnya mau kemana mas?" tanya Dina senyumnya mulai terbit
"rahasia...yang jelas kamu pasti suka" ucap Bimo lembut
Bimo tersenyum, Dina mau ia ajak keluar. Setidaknya ia bisa melewati hari valentine bersama Dina. Bersama orang yang amat sangat ia cintai dan ia harapkan.
"aku sudah siap mas..." ucap Dina tersenyum simpul
Bimo membalikkan badannya dan terkesima melihat penampilan Dina yang beda dari biasanya.
"kamu cantik sekali Din.." ucap Bimo dengan mata berbinar
"jadi pergi tidak?" Dina mengalihkan pembicaraan Bimo
"ah...iya..." Bimo menggandeng tangan Dina masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan Dina hanya diam, ia masih memikirkan kemana Dendy, bahkan kado valentine saja dititipkan pada Ani sahabatnya. Dina sedih, ia menitikkan air matanya, dan Bimo melihatnya.
__ADS_1
Setengah jam perjalan mereka tiba di sebuah resort pinggir pantai. Bimo mengajak Dina masuk ke dalam restoran yang ada di tepi pantai.
"selamat malam, atas nama siapa?" tanya seorang pelayan
"atas nama Bimo" ucap Bimo
"mari silakan " pelayan itu menunjukkan jalan ke meja yang sudah dipesan oleh Bimo.
"silakan duduk, pesanannya akan segera diantar..." ucap pelayan itu tersenyum ramah
"terima kasih" ucap Bimo datar
Bimo memperhatikan Dina yang sedang melihat sekelilingnya. "kamu ada masalah?" tanya Bimo lembut
"hah...tidak...tidak ada mas..." kilah Dina
"aku melihatmu menangis, kalau ada masalah kamu bisa cerita padaku"
"mas pesan tempat ini memang sengaja untuk makan denganku?" tanya Dina mengalihkan pembicaraan Bimo
"iya...aku sengaja, ingin makan malam romantis bersamamu" ucap Bimo dengan tatapan penuh damba
"bukan untuk melamarku lagi kan?" Dina terkekeh
"kalau kamu mau...aku akan mengulanginya lagi" ucap Bimo dengan tatapan serius
"sepertinya berteman baik seperti ini lebih baik untuk kita..." ucap Dina menarik kedua sudut bibirnya
"aku tetap akan menunggumu dan berusaha mendapatkan cintamu kembali" ucap Bimo penuh penekanan
Dina diam, ia tak mau menanggapi ucapan Bimo. Sejak dulu Bimo hanya menjadi pelariannya saja. Dan kebetulan di saat Dina membutuhkan seseorang yang menemaninya, Bimo selalu datang kepadanya tanpa diminta
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g