Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 34


__ADS_3

Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, sinar berwarna jingga kemerahan mulai menghilang tanda malam menjelang. Menunggu adalah hal yang membosankan, tapi jika menunggu ditemani dengan pujaan hati rasa bosan berganti dengan rasa bahagia.


Dendy yang masih berada di rumah Dina dalam hatinya merasa senang tapi juga merasa tidak enak hati karena sampai petang Krisna yang berjanji akan segera menyusul tidak tampak batang hidungnya.


Dendy mulai gusar karena papa dan mama Dina semua sudah berada di rumah dan sedang beristirahat dari aktivitasnya. Dia juga merasa kasihan kepada Dina yang masih sakit meskipun wajahnya sudah tidak terlihat pucat seperti tadi siang.


Berkali-kali Dendy melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Teh hangat yang tadi dibuat oleh Dina juga sudah habis dia minum.


Di tengah kegusarannya tiba-tiba ada seseorang yang datang. Dina dan Dendy reflek menoleh ke arah pintu pagar rumah Dina. Ternyata yang datang bukan orang yang mereka harapkan.


"Din....papanya ada?" tanya orang yang baru datang


"oh...iya pak sebentar saya panggilkan " Dina beranjak dari duduknya bergegas berjalan lewat pintu samping masuk ke dalam rumah memberitahukan ke papanya kalau ada yang mencarinya.


Tak lama ada suara pintu ruang tamu dibuka, Dendy menoleh ke belakang karena posisi duduknya membelakangi pintu ruang tamu. Ternyata yang membuka pintu adalah Dina.


"Silakan masuk pak, silakan duduk, tunggu sebentar lagi papa keluar " Dina memeprsilahkan tamu papanya untuk masuk dan menunggu tuan rumah keluar


"iya..." ucap tamu itu yang dibalas dengn senyuman oleh Dina


Dina pun segera keluar untuk menemui Dendy yang masih duduk di tangga teras rumah Dina.


"siapa Din? kok tahu namamu ?" tanya Dendy penasaran


"oo...itu teman papa di kantor" jawab Dina sambil duduk di sebelah Dendy


"Sudah terlalu sore Din, aku tidak enak dengan mama papamu " ucap Dendy


"lha terus bagaimana, Krisna belum datang " ucap Dina


Akhirnya yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Dengan wajah tanpa dosanya Krisna masuk ke dalam halaman rumah Dina dan memarkirkan motornya di depan mereka yang sedang duduk-duduk di teras.


"Kenapa kalian melihat aku seperti itu?" Krisna melepas helmnya dan turun dari motornya dengan wajah tanpa dosanya dia tersenyum ke arah Dendy dan Dina yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.


"kamu dari mana saja, jam segini baru sampai sini?" tanya Dendy dengan nada ketus sedang Dina hanya menatap Krisna dengan wajah datar tanpa eskpresi


"oh..itu..aku pulang dulu tadi disuruh mengantar adikku dulu beli buku" ucap Krisna beralasan padahal tadi dia tidur-tiduran di rumah


"alasan...!" ucap Dendy ketus Dina masih diam tidak berkata sepatah katapun karena sedang meredam rasa jengkelnya.

__ADS_1


"eh...itu kue boleh dong aku cicip satu?" Krisna mengambil toples yang ada di kursi panjang di belakang Dendy dan Dina duduk


"ini...anak tidak aada sopan-sopannya! " Dendy merebut toples yang sedang dipegang oleh Krisna


"yah....Den...aku kan juga mau...." ucap Krisna sambil meraih toples yang dipegang


"enak saja...makanya datangnya dari tadi " ucap Dendy meletakkan toplesnya kembali ke tempatnya


"kalian ini seperti anak kecil cuma kue saja direbutin " akhirnya Dina bersuara sambil menggelengkan kepalanya, sejak tadi Dina melihat kedua cowok beda umur itu ribut sambil memperebutkan toples


"kalau kamu mau membuat keributan lebih baik ayo pulang" Dendy beranjak dari tempat duduknya dan merangkul bahu Krisna


"aku kan baru daateng Den, duduk dulu kek...minum dulu kek... habis perjalanan jauh ini...." rengek Krisna


"sudah...ah tidak usah kamu nanti cuma menghabiskan makannannya Dina " Ucap Dendy sambil mengambil jaket dan memakainya


"haish...tau begitu tidak aku susul " gerutu Krisna sambil mengambil toples dan membukanya dan mengambil kue satu buah tetapi naas kue yang dia pegang melayang begitu saja


"tidak ada kue...kue...an " ucap Dendy mengambil kue yang sedang dipegang oleh Krisna dan memasukkannya ke dalam mulut


"jahat sekali sih..." ucap Krisna setengah merengek dan kembali mengambil kue dalam toples dan memakannya kali ini kue itu sukses masuk ke dalam mulut Krisna


"baru jam berapa?" ucap Krisna sambil melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya


"sudah ayo... " Dendy menarik tangan Krisna yang hendak duduk di sebelah Dina


Dina dari tadi hanya menjadi penonton setia perdebatan antara Dendy dan Krisna


"eh...Din.... tadi aman kan?" tanya Krisna menggoda Dina


"aman?" Dina menautkan kedua alisnya


"maksudku tidak diapa-apakan oleh Dendy begitu?" ucap Krisna cengengesan "ga ngebutkan" lanjutnya


"oh....itu...nggg..."


"aman....aman....buktinya Dina selamat sampai rumah tidak ada lecet sama sekali " Dendy memotong ucapan Dina.


Dina hanya menatap kedua cowok beda umur yang ada di depannya dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Din aku pulang dulu ya, istirahat kalau besok masih tidak enak badan tidak usah memaksa masuk " ucap Dendy berpamitan ke Dina


"terima kasih Den... Sudah mau mengantar aku sampai rumah dengan selamat" Dina terkekeh karena mengingat pertanyaaan Krisna baru saja


"iya sama-sama Din " ucap Dendy berjalan ke arah motor Krisna dan naik ke atasnya " nDut...kunci motor mana?" lanjutnya


"sudah mau pulang ? tidak nanti saja ?" ucap Krisna dengan wajah tanpa dosanya


"sekarang !" ucap Dendy dengan nada memerintah


"iya...iya..." jawab Krisna "aku pulang dulu Din, tuan muda sudah memberi titah" pamit Krisna kemudian berjalan ke arah motornya yang sedang terparkir melemparkan kunci motornya ke Dendy


Sedang Dina hanya terkekeh melihat kelakuan Dendy dan Krisna yang absurd itu.


Dendy menyalakan motornya Krisna dan menyuruh Krisna naik ke boncengannya.


"yok...Din...pulang Dulu " ucap Dendy berpamitan


"iya....terima kasih ya...." ucap Dina sambil tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Krisna dan Dendy yang mulai melajukan motornya.


Krisna membalas lambaian tangan Dina dengan wajah sumringahnya


Motor yang dinaiki Krisna dan Dendy sudah meninggalkan halaman rumah Dina. Dina akhirnya bisa bernafas lega karena sejak tadi merasa canggung berdekatan dengan Dendy. Meskipun mereka tadi bisa mengobrol dan saling tukar cerita-cerita lucu, tapi itu semua hanya untuk menutupi rasa canggung mereka.


Dina 'pun bergegas membereskan gelas dan toples yang tadi dia bawa keluar untuk Dendy dan membawanya masuk ke dapur dan menyuci gelas kotornya.


.


.


.


.


.


.


*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.

__ADS_1


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2