Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 73


__ADS_3

Widi berhasil membawa Dina kembali masuk ke studio. Anto dan Alex kaget melihat Widi menarik tangan Dina yang terkesan malas untuk masuk ke studio. Sedangkan dua anak baru hanya menatap dengan penuh tanda tanya.


"kalian sebenarnya ada apa? Dina baru masuk langsung keluar lagi" tanya Widi yang biasanya pendiam tidak banyak bicara atau komplain mendadak jadi sosok yang berbeda.


"tidak ada apa-apa Wid" jawab Anto cengengesan


Alex berdiri dan menghampiri Widi membisikkan sesuatu, seketika Widi kaget. Widi sebenarnya marah tapi dia masih berusaha menahan emosinya. Dia sangat menyayangi Dina walaupun Dina tidak membalas perasaannya, dia tetap menjaga Dina meski dari jauh. Melihat Dina tersinggung ia jadi marah.


"dengar ya...sebelum kamu ada di sini jadi penyiar, Dina sudah ada lebih dulu di tim ini, meski dia tidak pernah terlihat di studio bukan berarti dia tidak peduli dengan studio ini, apa kamu tahu selama ini Dina yang berusaha mengatur semua dana yang kita butuhkan?" tanya Widi menahan emosinya kepada Anto


"dulu di sini hanya ada aku, Dina, dan Joni waktu studio ini masih menjadi gudang belum seperti sekarang!"


"selama ini Dina memang tidak pernah tampil untuk siaran, karena memang bukan tugas dia, awal-awal dia yang siaran karena diantara kami bertiga tidak ada yg percaya diri kalau harus tampil, tapi karena permintaan Pak Har akhirnya dia mau itu sebelum kamu, Alex dan Yoga bergabung" terang Widi sambil menunjuk-nunjuk wajah Anto


"jadi kamu paham kan sekarang... Jangan membuat Dina tersinggung lagi" Widi sungguh-sungguh menjadi sosok yang berbeda, membela Dina karena Dina merasa tersinggung.


Dina hanya diam mematung, dirinya sebenarnya tidak ingin mendapat pembelaan dari Widi. Dia hanya malas kalau harus meladeni orang-orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya telah ia perbuat untuk studio mereka itu.


Widi teringat di studio masih ada dua anak baru yang dibawa Anto. Ia berjalan ke arah mereka yang duduk di dekat pintu masuk memdengarkan pembicaraan antara senior-senior mereka.


"dan untuk kalian, kalian sudah dengar apa yang aku katakan tadi kan?" tanya widi kepada dua anak baru tersebut dan hanya dijawab dengan anggukan dari mereka


"sekarang kalian keluar dulu!"

__ADS_1


Mereka berdua keluar, saat mereka sudah keluar Widi menutup pintu studio agar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka lagi


Widi menarik bangku kecil dan meletakkannya di depan meja siaran menyuruh Dina duduk. Sedangkan ia masih berdiri menatap Anto yang menunduk tidak berani menatap Dina.


"sekarang kamu mau bilang apa Din? Mumpung kamu ada di sini meskipun Joni sama Yoga tidak ada di sini nanti aku sampaikan" ucap Widi dengan nada tegas


"aku sebenarnya tidak mau sampai ribut-ribut seperti ini, tadi aku cuma nanya kalau ada kru baru kenapa aku tidak dikasih tahu, tapi aku malah dipojokkan seolah-olah aku sudah tidak peduli lagi dengan studio ini" ucap Dina


"siapa yang memojokkan kamu Din? Memang kenyataan kamu tidak pernah ke sini, kamu malah sibuk pacaran" Anto membela dirinya


"aku tidak akan membela diri, memang benar aku jarang ke studio, tiap ke sini sebentar aku keluar lagi, karena memang tugasku hanya mengecek keadaan studio, kalau kamu menuduh aku sibuk pacaran, memangnya kenapa? Apa itu merugikan kamu?" Dina yang dari tadi menahan emosinya, akhirnya sudah tidak bisa ia bendung lagi.


Bukan masalah senioritas, siapa yang lebih dulu di tim itu, tapi Dina merasa tersinggung, ada kru baru dia tidak diberi tahu. Padahal selama ini mereka masih belum membutuhkan kru baru, tapi kenapa tiba-tiba muncul dua orang tidak ia kenal di studio. Dina merasa seharusnya kalau butuh kru baru semua dibicarakan dulu, buka asal memasukkan orang.


Hanya dia dan widi yang tahu kalau Pak Har kadang mengeluarkan uang pribadinya untuk keperluan proyek.


"iya Dina...aku minta maaf memang aku tidak tahu semuanya, tapi kamu yang tidak pernah ke studio, kalau ada kabar terbaru jangan tersinggung kalau tidak tahu" Anto masih berkilah tidak mau mengakui kesalahannya.


Alex yang paling muda dari segi umur di antara mereka hanya diam, dia tidak ingi terlalu terlibat karena ia merasa orang baru.


"kamu juga salah To... Sudah tahu kita masih belum butuh tambahan kru, seenaknya saja bawa orang masuk" ucap Widi datar


"iya aku memang salah, kalau aku tidak mengajak mereka, lantas siapa yang akan membantu kamu membereskan pipa-pipa untuk menninggikan antena kemarin?" kilah Anto yang masih tidak mau mengalah

__ADS_1


"membantu ya membantu To...tapi bukan berarti setiap orang yang membantu itu lantas menjadi kru" Dina angkat bicara


"kalau semua yang mengangkat barang-barang dijadikan kru, kenapa tidak sekalian saja sopir yang biasa mengantar pipa-pipa besi itu juga jadi kru" ucap Dina makin kesal masalah yang sepele malah menjadi bahan perdebatan yang tidak kunjung selesai


"sekarang begini... Kita tidak perlu meributkan masalah yang sepele, toh selama ini baik-baik saja, aku yang dari awal bekerja sendirian membuat semua alat-alat ini berfungsi saja tidak memerlukan kru baru, apalagi posisi penyiar, aku rasa sudah cukup,


ini bukan radio komersial yang harus siaran dari pagi sampai malam, ini itu radio sekolah yang menyampaikan info-info terbaru seputar masalah sekolah. Siaran juga cuma dari kita setelah pulang sekolah, paling cuma sampai jam delapan atau sembilan malam" Widi berusaha menengahi perdebatan antara Dina dan Anto


Sebenarnya yang salah adalah Anto yang tidak tahu apa-apa asal menarik orang untuk bergabung dengan tim itu. Tapi Widi tidak mau terlalu terlihat kalau dia membela Dina walaupun orang yang tidak sengaja mendengarnya pasti akan menyimpulkan kalau Widi membela Dina.


"sudah selesai 'kan? Aku mau balik ke kelas dulu, sebentar lagi bel masuk, aku tidak mau terlambat" ucap Dina berdiri berjalan menuju pintu studio dan membukanya, Dina keluar dari studio dengan perasaan yang masih sedikit kesal.


Keinginan Dina itu sebenarnya sederhana, jika ada masalah apapun dibicarakan bersama, bukan setiao orang berhak mengambil keputusan untuk studio radio mereka. Studio yang mereka rintis agar sekolah mereka semakin maju, dan kelak bisa bermanfaat untuk adik-adik kelas mereka.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2