Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Bab 150 Kelinci manis


__ADS_3

Bimo berdiri kemudian ia berjalan mendekat ke arah Dina yang masih memperhatikan foto-foto dirinya. Dia memeluk Dina dari belakang. Dina tersentak kaget mendapat perlakuan seperti itu.


"biarkan seperti ini sebentar Din" ucap Bimo memeluk erat tubuh Dina dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Dina.


"seminggu terakhir aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana dengan diriku sendiri, mendengar ucapanmu, mendapat penolakan darimu aku benar-benar kehilangan semangat dan rasa percaya diriku"


"aku tahu nenek sihir itu telah mempermalukanmu, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, maaf saat itu aku tak bisa membantumu, karena jika aku membelamu saat itu pasti tidak akan baik bagimu"


"setelah itu, aku memperingatinya tapi yang terjadi pertengkaran hebat di antara kami, dan dia mengadu pada mamaku"


"mamaku marah besar, seminggu terakhir ini aku sering bolak-balik pulang hanya untuk memperbaiki masalah ini"


"untung papaku bisa menenangkan mamaku, kalau tidak mungkin sekarang aku tidak bisa bersamamu" Bimo membalik tubuh Dina menjadi berhadapan dengannya


"berjanjilah padaku, kamu akan selalu baik padaku, selalu menjadi Dina yang kukenal, dan jangan menjauh dariku meski kita tidak bisa bersama lagi" ucap Bimo dengan tatapan sendu


"iya mas...asal mas tahu batasan kita..." jawab Dina datar. Kemudian Bimo memeluk Dina dengan erat, meski tidak bisa memilik hati Dina lagi setidaknya ia masih bisa selalu bersama Dina itu sudah cukup baginya.


"dan satu lagi, jangan terlalu berlebihan menjaga dan perhatian padaku, aku punya kesibukan mas pun juga punya kesibukan, jadi sewajarnya saja, tidak perlu memaksakan diri jika memang tak ada waktu" lanjutnya


"iya Dina sayang....terima kasih...terima kasih...kamu masih mau memberi aku kesempatan untuk bisa dekat denganmu" Bimo makin mengeratkan pelukannya.


"sekarang mas bersihkan dulu badan mas...aku tidak mau ya jalan berdua dengan mas yang terlihat seperti berandalan" Dina terkekeh


"hahaha....aku sudah mandi Din....meski aku sedang stres berat tapi tidak lupa untuk mandi" Bimo mengurai pelukannya


"tapi kenapa tidak seperti orang yang sudah mandi ya..." Dina meledek Bimo mengalihkan perhatian Bimo agar mau melepaskan pelukannya.


Ia sudah tahu sifat Bimo, jika ia berontak maka Bimo akan semakin mengeratkan pelukannya. Semakin Dina menolak semakin Dina marah, Bimo akan semakin posesif terhadapnya.


"kamu malu ya jalan denganku?" tanya Bimo dengan tatapan sendu


"siapa yang malu, hanya saja aku nanti seperti jalan dengan preman pasar" Dina terkekeh


"baiklah...baiklah....temani aku potong rambut ya..." ucap Bimo dengan tatapan memohon


"iya...iya..." Dina terkekeh.


Menghadapi Bimo memang harus tarik ulur dan ekstra sabar. Bimo orang yang tegas, terlihat berwibawa dan selalu bisa melindungi Dina itu yang Dina suka dari Bimo.


Mereka berdua meninggalkan kos Bimo dengan menaiki motor Bimo. Bimo mengajak Dina ke sebuah pusat perbelanjaan di kota J. Bimo menggandeng tangan Dina berjalan menuju sebuah salon khusus cowok, langganannya selama beberapa bulan terakhir.


Bimo memotong rambutnya kembali seperti dulu waktu ia masih bersama Dina. Ia ingin mengembalikan kenangan-kenangannya bersama Dina. Dan berharap bisa merebut hati Dina lagi.

__ADS_1


"pacar baru?" tanya cowok yang memotong rambut Bimo


"mantan..." jawab Bimo singkat


"mantan? Yang cewek biasanya kemana?" tanya cowok itu


"iya mantan...doakan aku bisa merebut hatinya kembali" jawab Bimo


"pasti..." ucap cowok itu sambil mengacungkan jempolnya


Empat puluh menit kemudian Bimo telah selesai memotong rambutnya dan membersihkan bulu-bulu halus di wajahnya. Dia menatap puas wajahnya di cermin.


"Din...bagaimana?" tanya Bimo berbalik badan ke arah Dina yang duduk menunggu sambil membaca majalah


"hmm....seperti anak SMA" jawab Dina dengan senyum mengembang


"yes...! berhasil...!" ucap Bimo girang


Mereka berdua pun berjalan-jalan di pusat perbelanjaan tersebut. Dina bahagia bisa jalan-jalan di pusat perbelanjaan tanpa ada yang membatasi dia mau berbuat apa.


Dina keluar masuk toko, dan iseng mencoba-coba topi, kacamata, syal semua yang menurutnya bagus ia coba dan kadang bergaya seperti model. Bimo hanya tersenyum memperhatikan Dina. Sesekali ia memberikan komentar kepada Dina.


Mereka melanjutkan jalan-jalan mereka dan memasuki toko yang khusus menjual baju-baju cowok. Dina mengambil satu kemeja dan mengepasnya di badan Bimo


"cakep...!" ucap Dina tanpa menatap Bimo


"ayo coba...dari tadi aku yang mencoba terus sekarang giliran mas" ucap Dina mendorong Bimo ke arah ruang ganti. Dina mengambilkan baju dan celana kemudian memberikannya kepada Bimo.


Bimo menurut saja, ia mencoba baju yang Dina pilih tadi, ia tersenyum bahagia, pilihan Dina memang tepat, baju yang diambil Dina terlihat sangat cocok di badannya. Ia pun keluar dari kamar pas dan menunjukkan ke Dina. Dina mengangkat kedua jempolnya.


Bimo keluar dari kamar ganti, kemudian ia ke kasir dan membayar baju yang dipilih Dina tadi.


"lhoh...dibeli bajunya?" tanya Dina heran


"iya...kamu yang memilihkan pasti bagus, belum tentu besok-besok bisa belanja sama kamu" jawab bimo santai


Mereka berdua keluar dari toko dan melanjutkan berkeliling di pusat perbelanjaan tersebut. Saat melewati kedaines krim Bimo berbelok dan membeli dua buah es krim untuk Dina dan dirinya.


"bagaimana? Hari ini kamu senang tidak?" tanya Bimo


"senang..." jawab Dina sambil menjilati es krimnya


"kamu pernah jalan-jalan seperti ini dengan pacarmu?"

__ADS_1


"hmmm belum....mana sempat mas" Dina terkekeh


"kenapa tidak sempat?" tanya Bimo heran


"mas tahu sendiri hidupku seperti apa" jawab Dina sambil asyik menjilati es krimnya


"kamu senang jalan bersamaku?"


"senang...senang sekali" Dina masih asyik memakan es krimnya


"kenapa?" Bimo penasaran


"karena bersama mas, aku bisa seperti anak kecil yang diajak jalan-jalan kakaknya, dimanja... Dan ini pertama kalinya aku jalan-jalan tanpa harus bingung memikirkan nanti pulang jam berapa, sampai rumah alasannya apa..." Dina berceloteh seperti anak kecil


Bimo menanggapinya dengan senyuman. Dia bahagia setidaknya Dina merasa senang jalan bersama dengannya. Meski dianggap seperti sedang pergi dengan kakaknya.


Bimo mengajak Din ke toko boneka. Di sana mata Dina berbinar melihat bermacam-macam boneka, ia sangat menyukai bonek sayangnya mamanya selalu melarangnya membeli boneka, katanya seperti anak bayi.


Bimo mengambil sebuah boneka kelinci berukuran sedang berwarna putih dan lucu tanpa sepengetahuan Dina. Kemudian ia membayarnya dan membungkusnya.


"ini buat kamu..." Bimo memberikan boneka kelinci yang terbungkus rapi kepada Dina


"apa ini mas...?" Dina bingung menatap Bimo


"ucapan terima kasihku padamu..." jawab Bimo dengan senyum tipis


"terima kasih mas..." Dina memeluk Bimo singkat "ini bagus...lucu..."


"iya seperti kamu...imut, lucu dan menggemaskan" Bimo mencubit pelan hidung Dina


"kamu kelinci manisku...." lanjutnya


.


.


.


B e r s a m b u n g.


.


Jangan lupa ritualnya ya bestie

__ADS_1


Tolong like, komen dan votenya ya


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2