
Dina kembali ke rutinitasnya, semakin hari tugas-tugas Dina semakin bertambah. Dina mengerjakan semua tugas-tugasnya secepat dia bisa, agar bisa menghabiskan waktu bersama Dendy ketika datang ke kota J.
"Ca...temani aku cari kado yuk..." ucap Dina
"kado? Buat siapa?" Caca mengerutkan dahinya
"buat Yayang lah..." Dina terkekeh
"oh...ayo mumpung jadwal kuliah kosong" ucap Caca semangat
Mereka berdua pergi ke pusat perbelajaan yang berada dekat dengan kampusnya. Caca menemani Dina berkeliling melihat-lihat, keluar maasuk toko.
Setelah mendapat apa yang mau mereka beli, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke kos. Caca membantu Dina membungkus kado untuk Dendy.
.
Hari ulang tahun Dendy, pagi-pagi sekali Dendy sudah bersiap memakai seragam sekolahnya. Ia sengaja tak memberi tahu orang tuanya bahwa hari ini ia libur.
Dendy berangkat seperti biasa dia befangkat ke sekolah, namun tujuannya bukan ke sekolah, namun ke kota J. Dia pergi ke kampus Dina untuk mendaftar kuliah.
Ia tidak memberi tahi siapapun tentang keberangkatannya ke kota J bahkan dia memberitahu Dina ia ke kota J karena ingin merayakan ulang tahunnya bersama Dina hanya berdua dengan Dina.
Di tengah jalan ia berhenti di tempat pengisian bahan bakar, ia mengganti baju seragamnya menjadi baju biasa. Ia memasukkan seragamnya ke dalam tasnya.
Menurutnya ia mendaftar dulu setelah pengumuman penerimaan baru ia akan memberitahu kedua orangtuanya. Ia bertekad dengan uang tabungannya ia membayar kuliahnya di kampus yang ia inginkan.
Sisanya ia pikirkan nanti. Untuk tempat tinggal ia bisa menumpang di tempat saudara mamanya. Ia sudah memikirkan dan merencanakan semuanya. Ia tak ingin lagi menjalani hubungan jarak jauh lagi dengan Dina.
Kali ini ia ingin membantah perintah orang tuanya. Ia tak peduli apapun resikonya. Yang ia pikirkan hanyalah bisa setiap hari bersama Dina. Dina sama berharganya dengan keluarganya. Ia tak bisa memilih salah satu di antara mereka.
Dua jam perjalanan ia telah sampai di kampus Dina. Ia bergegas ke bagian pendaftaran mahasiswa baru agar tak ada seorangpun mengenalinya.
Ponselnya berbunyi, ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Dendy membuka pesan singkat tersebut dan membacanya ternyata dari Dina.
📨 jadi ke sini? Jam berapa?
__ADS_1
Dendy tak langsung membalasnya, ia tak ingin Dina mengetahui jika dirinya telah sampai di kota J. Ia memasukkan lagi ponselnya dan menyelesaikan administrasi pendaftaran mahasiswa baru.
Setelah semua selesai, ia membalas pesan singkat Dina
✉ sebentar lagi aku sampai, aku masih mengisi bahan bakar dulu
Dendy memasukkan ponselnya kemudian ia bergegas ke tempat parkir. Ia melajukan motornya menuju ke kos Dina. Dendy berniat tetap akan merahasiakan tentang pendaftarannya di kampus Dina.
Dendy memencet bel kos Dina, sedikit lama ia menunggy dibukakan pintu oleh Dina. Dendy mengetuk jendela kamar Dina dari luar. Barulah Dina keluar membukakan pintu untuk Dendy.
"Yang..." ucap Dina dengan senyum merekah. Dendy mengembangkan senyumnya, itu yang selalu ia suka dari Dina, selalu mengembangkan senyumnya ketika dirinya datang kecuali kalau memang mereka sedang ada masalah.
"sudah makan?" tanya Dendy lembut
"sudah...sudah...tadi sudah sarapan dengan kak Tere" ucap Dina sambil menutup pintu kosnya.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar Dina, Dendy meletakkan tasnya di lantai dekat pintu kamar Dina.
"selamat ulang tahun sayang..." Dina memberikan kado dan mencium pipi kiri dan kanan Dendy
Mereka berdua menghabiskan waktu berdua bertukar cerita dan bercanda. Dina ingin sekali mengajak Dendy pergi keluar untuk merayakan ulang tahunnya tapi ia takut Dendy kelelahan.
"jadi bagaimana? Kamu ingin kuliah dimana?" tanya Dina
"belum tahu, aku masih bingung..." jawab Dendy lirih
"tidak apa-apa wajar jika bingung, lebih baik kamu ikut ujian masuk universitas negeri dan kamu harus punya alternatif jika tidak diterima" terang Dina
"baik akan aku pikirkan" ucap Dendy menyunggingkan senyumnya "tahun ini jadi mencoba lagi?"
"jadi...jadi...mumpung masih ada kesempatan" Dina terkekeh
"rencanamu di kampus mana?" Dendy ingin memastikan apakah pengorbanannya sia-sia ataukah sepadan.
"kalau tidak univerisitas B ya universitas N" ucap Dina yakin "aku sengaja, jika aku diterima kita masih bisa berdekatan" Dina menggenggam tangan Dendy
__ADS_1
"semoga cita-citamu tercapai sayang..." Dendy mengecup tangan Dina. Entah ini sebuah kabar buruk atau kabar baik buatnya. Jika Dina diterima ia tak harus memutuskan hubungannya dengan Dina, tapi ia tidak bisa satu kampus dengannya.
Dendy sendiri bingung, ia sudah melawan orangtuanya untuk kuliah di kampus yang sama dengan Dina. Ia telah berkorban dan jika Dina pindah kampus maka pengorbanannya akan terasa sia-sia.
"apapun itu aku akan selalu mendukungmu sayang..." ucap Dendy lembut
"aku juga akan mendukungmu, dimanapun kamu kuliah aku akan selalu ada untukmu" ucap Dina kemudian ia memeluk Dendy.
Perasaan Dendy campur aduk, tapi ia tetap bahagia. Entah apa yang terjadi esok ia akan selalu berusaha mempertahankan hubungannya dengan Dina. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika papanya tahu ia telah mendaftar di kampus Dina.
Yang terpenting baginya saat ini hanyalah memanfaatkan waktu yang entah seberapa lama waktu yang tersisa baginya dan Dina untuk bersama.
"ayo makan...waktunya makan siang..." ucap Dina
"iya...ayo...kita makan yang dekat-dekat saja ya..." ucap Dendy lembut
"hmmm....atau kita bungkus saja, kita makan di sini?"
"ini hari ulang tahunku, aku ingin makan di luar di tempat yang sedikit spesial tapi yang dekat-dekat saja" ucap Dendy
"baiklah....kita makan di mall sebelah saja" Dina beranjak dari duduknya dan mulai bersiap-siap. Dendy hanya bisa menatap nanar apa yang dilakukan oleh Dina.
Ia melihat Dina yang selalu tampak ceria dan bahagia ketika bersamanya membuat dirinya tidak tega menceritakan apa yang ia alami saat ini.
Sudah terlalu banyak masalah di awal hubungan mereka, dan itu semua dirinyalah yang bersalah. Ia tak mau menambah masalah di antara mereka.
Dendy menyadari, Dina terlalu sempurna baginya, setiap masalah yang terjadi di antara mereka Dina selalu menghadapinya dengan kepala dingin, jarang sekali Dina emosi menghadapi masalah mereka.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1