
Dina masih berdiri, di depan pintu kamar Dendy, menimbang-nimbang masuk atau tidak. Antara ingin melihat dan takut dianggap lancang. Rio yang melihat pacar kakaknya hanya berdiri saja di depan pintu kamar kakaknya mempunyai ide jahil.
"kakak kalau mau masuk, masuk saja pintu itu tidak pernah dikunci" ucap Rio menahan tawa
"benar tidak apa-apa kakak masuk dek?"
"benar...masuk saja kak"
Rio menahan tawanya, karena tahu kalau pintu kamar kakaknya itu ditutup waktu pemiliknya tidak ada, berarti kamarnya sedang berantakan. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Dina
Rio membuka pintu kamar kakaknya "tu... 'kan tidak dikunci, masuk saja kak" ucapnya menahan tawa
"hah?" Dina terkejut, membulatkan matanya melihat pemandangan dalam kamar yang benar-benar di luar bayangannya.
"kenapa kak?" Rio sudah tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Dina yang terlihat terkejut.
"setiap hari begini kamar kakakmu itu? " tanya Dina
"hmmm....tidak setiap hari sih...kak..." ucap Rio menarik sudut bibirnya ke atas " lebih tepatnya sebelum mama marah-marah ya begini ini"
"aduh.... Ini sih...bukan kamar tapi gudang " Dina akhirnya terkekeh
"ya begitulah kak Dendy jarang sekali kamarnya rapi " ucap Rio
"ya sudah bantu kakak merapikan kamar kakakmu ya...." Dina masuk ke dalam kamar Dendy dan melihat sekeliling, berpikir dari mana ia harus mulai merapikan kamar Dendy
Dina 'pun mulai merapikan baju-baju yang sudah disetrika rapi yang tadinya hanya ditumpuk di atas meja ia masukkan ke dalam lemari. Dina melihat entah baju kotor atau baju bersih Dina tidak tahu tergantung di kursi dan ada yang di taruh di atas kasurnya Dina ambil dan gantung di gantungan baju yang ada di belakang lemari.
Rio hanya melihat Dina yang dari tadi sibuk merapikan baju- baju kakaknya tanpa ada niat untuk membantunya. Ini adalah ide jahilnya membiarkan Dina membereskan kekacauan yang Dendy buat, biar kakaknya itu merasa malu karena Dina melihat kamarnya dalam kondisi yang mengenaskan.
Rio mendapat bahan untuk mengolok-olok kakaknya itu, karena ia tidak pernah bisa menang kalau mengolok-olok Dendy. Kalay begini dia bisa di atas angin, dan pasti mama papanya tidak akan membela kakaknya itu.
Dina sudah selesai merapikan baju-baju dan tempat tidur Dendy, giliran meja belajarnya yang hendak di rapikan oleh Dinaa. Ketika Dina merapikan buku-buku milik Dendy, tak sengaja ia melihat ada selembar foto yang tertempel dengan paku payung di meja belajar. Dina mengambil foto itu dan mengamatinya.
Di dalam foto itu ada dia beserta keluarga besar Dendy sedang berada di sebuah resto. Dina tidak merasa pernah berfoto dengan Dendy. Tapi di dalam foto itu Dendy sedang memberikan potongan kue ulang tahun ke dia.
"Dek... Ini foto kapan?" Dina berjalan ke arah Rio yang berdiri di depan pintu kamar Dendy dan memperlihatkan foto yang ia ambil di meja belajar milik Dendy
__ADS_1
"oh...ini...kakak lupa ya?" tanya Rio sambil melihat foto yang ia pegang
"sepertinya waktu perayaan ulang tahun kamu dan kakakmu, tapi kakak tidak merasa ada yang mengambil foto kakak" jawab Dina
"itu papa yang mengambil foto, Kak Dendy juga tidak tahu, tahunya setelah foto-foto itu dicetak. " ucap Rio
"oh...begitu...kakak jadi malu, di foto ini kakak terlihat jelek " ucap Dina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"hahahha....kakak ini bisa saja" Rio mengembalikan foto yang tadi ia pegang
Dina melanjutkan merapikan buku-buku milik Dendy. Dina menjadi heran sebenarnya di mejanya itu banyak sekali lembaran-lembaran kertas coret-coretan tapi kenapa tidak dibuang oleh Dendy.
Akhirnya Dina sudah selesai merapikan kamar Dendy. Dina melihat jam di dinding kamar Dendy sudah menunjukkan pukul satu siang tapi Dendy belum juga pulang.
Dina memutuskan untuk keluar kamar dan menutup kembali pintu kamar. Dina menghampiri Rio.yang sedang asyik menonton tv.
"Dek...kakak pulang dulu ya..." ucap Dina
"kak Dendy kan belum pulang kak, kenapa buru-buru?" Rio mengerutkan dahinya
"senin kakak ujian akhir, kakak ingin istirahat" ucap Dina beranjak dari duduknya
"iya terima kasih ya..." Dina mengacak rambut Rio yang seumuran dengan adiknya
Dina berjalan menuruni tangga diikuti Rio di belakangnya. Setelah sampai di depan pintu Rio memutar anak kunci dan membuka pintunya. Dina keluar rumah dan segera memakai helmnya. Rio dengan sigap membuka pagar agar Dina tidak perlu susah-susah membuka pintu pagar.
"dah...kak Dina hati-hati di jalan ya" ucap Rio
"iya kamu juga hati-hati di rumah, jangan lupa pintunya dikunci semua" pesan Dina
Dina melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sampai di tikungan dekat rumah Dendy, Dina sekilas melihat Dendy membonceng cewek entah siapa Dina tidak mengenalnya. Karena ingin cepat-cepat sampai rumah Dina mengabaikan apa yang dia lihat.
.
.
Setelah mengunci pintu pagar dan pintu rumah Rio kembali menonton tv di depan kamarnya di lantai dua. Rio mendengar ada yang membuka pintu pagarnya dan melihat dari jendela siapa yang datang ternyata kakaknya tapi dengan siapa ia tidak mengenalnya.
__ADS_1
Rio kembali melanjutkan menonton tv. Dendy yang naik ke lantai dua diacuhkan oleh Rio karena ia kesal dengan kakaknya itu, ditunggu pacarnya malah dia pulang dengan cewek lain.
"tadi ada kak Dina menunggu kakak" ucap Rio tanpa melihat ke arah Dendy
"terus Dina dimana?" tanya Dendy
"sudah pulang baru saja" ucap Rio
"baru saja?"
"iya belum ada lima menit kak Dina pulang, harusnya kakak bertemu dia di depan" ucap Rio ketus
Ucapan Rio tidak ditanggapi oleh Dendy, ia berjalan ke kamarnya dan membuka pintu kamarnya. Alangkah terkejutnya dia mendapati kamar yang tadi pagi ia tinggalkan dengan keadaan kacau menjadi rapi dan bersih. Kemudian dia berjalan keluar lagi menghampiri Rio
"siapa yang merapikan kamarku?" tanya Dendy dengan wajah tegang
"memangnya siapa yang mau merapikan kamar kakak? Kamar apa gudang ?" ucap Rio ketus
"mama yang merapikannya?" tanya Dendy dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Rio
"jangan katakan kalau Dina yang merapikannya? " tanya Dendy frustasi dan dijawab dengan anggukan oleh Rio.
"berarti Dina melihat semua yang ada di kamar kakak?" tanya Dendy sembil mengusap rambutnya kasar dan dijawab anggukan oleh Rio
"kenapa tidak kamu larang Rio?" ucap Dendy setengah berlari menuruni tangga
"memangnya ada apa? Toh kamarnya juga tidak ada barang berharganya, dibantu merapikan kamar bukannya terima kasih malah marah-marah" gumam Rio yang menjadi heran kenapa kakaknya itu menjadi marah.
Dendy berjalan ke meja telepon. Hendak menelpon Dina, takutnya Dina melihat atau membaca tulisan-tulisan yang ada di kertas-kertas yang tadi Dina rapikan.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1
.
Yuk bestie...tolong dukung terus karya ini ya, like vote dan komen ya, terima kasih sekebon