Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 69


__ADS_3

Mereka berdua telah sampai di depan rumah Dendy. Ini kali kedua Dina ke rumah Dendy tapi dengan status yang berbeda. Dulu yang pertama mereka hanya berteman, sekarang mereka sepasang kekasih. Tidak banyak berubah masih asri dan banyak tanaman hias milik mamanya Dendy yang sangat terawat.


Dina turun dari boncengan, membuka pintu pagar agar Dendy bisa memasukkan motornya. Setelah Dendy memasukkan motornya, Dina menutup kembali pintu pagar. Dina melepas helmnya dan meletakkannya di atas motornya.


"ayo Din...masuk..." ucap Dendy lembut


"aku di teras saja ya Den..." ucap Dina lirih menahan gugupnya


"ya sudah...aku ke dalam dulu ya, mau ganti baju.." ucap Dendy dengan tatapan teduh


"jangan lama-lama ya.... " ucap Dina dengan rasa gugup yang luar biasa


"iya... Kamu duduk dulu, aku mau ke dalam" Dendy melangkah ke dalam rumah, sedangkan Dina duduk diam di teras menahan gejolak di dadanya. Takut mama papanya Dendy keluar dan mendapatinya sedang duduk di teras.


"kamu pulang sama siapa Den?" tanya mama Tari yang sempat mendengar percakapan Dendy dengan seseorang


"sama Dina ma..." ucap Dendy kemudian naik ke kamarnya.


Setelah selesai mengganti bajunya, ia kembali turun dan berjalan ke arah dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil minuman dingin dan meminumnya.


Dendy kembali berjalan keluar, dan mendapati mamanya telah siap seakan mau pergi


"Den... Kamu jemput Rio di tempat les ya, mama sama papa mau pergi sebentar lagi" ucap mama Tari


"Rio pulang jam berapa ma?" tanya Dendy


"jam tiga..."


"terus aku naik apa jemput Rio, mama kan tahu motorku masih di bengkel" ucap Dendy beralasan karena merasa malas menjemput adiknya, apalagi Dina sedang berada di rumahnya.


"oh...iya..ya...mama lupa, nanti biar mama telepon Pak Pur biar adikmu pulang bareng sama anaknya" ucap mama Tari


Dendy keluar ke teras dan duduk di sebelah Dina yang dari tadi termenung sendirian menunggunya.


"sayang....ngelamunin apa sih?" ucap Dendy pelan dengan nada menggoda


"hah...siapa yang melamun?" ucap Dina menatap Dendy yang duduk di sebelahnya


"habis dari tadi diam saja..." Dendy mencebik


"terus aku harus bagaimana? Teriak-teriak begitu?" ucap Dina terkekeh


"ya enggak begitu juga Din...."


"terus aku disuruh bagaimana?" ucap Dina menahan tawanya melihat tingkah Dendy yang manja

__ADS_1


"tadi kamu bilang sedang banyak pikiran, memang mikirin apa sih hmm?" ucap Dendy dengan tatapan teduh


"banyak yang aku pikirkan..."


"apa aku termasuk salah satunya?" ucap Dendy dengan nada menggoda


"siapa yang mikirin kamu" Dina mencebik sedangkan Dendy tergelak melihat Dina mengerucutkan bibirnya


"terus apa yang kamu pikirkan? Sampai bolos les begini"


Dina menghela nafasnya dan terdiam, bingung apakah harus menceritakannya kepada Dendy. Dina sudah terbiasa memendam semuanya sendirian jarang ada yang tahu permasalahannya.


"cerita saja Din, mungkin aku bisa bantu, kalau tidak seenggaknya kamu sudah bisa berbagi beban pikiranmu" ucap Dendy tegas tapi dengan nada lembut "sekarang kamu pacarku, kalau ada apa-apa cerita sama aku, jadikan aku tempatmu berbagi"


Dina menoleh ke arah Dendy yang duduk di sebelahnya, ia terkejut dengan ucapan Dendy. Dia pikir Dendy hanya menganggap semua ini hanya sekedar untuk mencari kesenangan layaknya anak SMA pada umumnya.


Tapi nada bicara Dendy sungguh dewasa, dari yang ia tangkap Dendy serius menjalin hubungan dengan dia, menjadikannya tempat berbagi baik susah maupun senang.


"masih kepikiran masalah yang kemarin itu " Dina menghela nafasnya


"yang masalah Nana?" tanya Dendy dan dijawab dengan anggukan oleh Dina


"kamu masih belum percaya sama aku?" tanya Dendy dan dijawab dengan gelengan kepala


"terus?" Dendy penasaran


"su...." ucapan Dendy menggantung di udara mama dan papanya keluar


"Den...mama sudah telepon pak Pur, nanti adikmu pulang bareng anaknya" ucap mama Tari berjalan keluar dari pintu rumah menghampiri Dendy dan Dina yang duduk di teras


Dina mendadak gugup melihat papa dan mamanya Dendy berdiri di depannya


"baik ma..." ucap Dendy


"ooo...iya ma...pa...kenalkan ini Dina" Dendy yang tahu kalau Dina sedari tadi menahan rasa gugupnya karena takut bertemu dengan kedua orang tuanya, berinisiatif mengenalkannya pada kedua orang tuanya


"oh...ini yang namanya Dina" ucap pak Doni papanya Dendy


Dina menatap ke arah Dendy seolah-olah meminta penjelasan kenapa papanya tahu tentang dia.


"eh...iya om...tante...saya Dina" ucap Dina dengan senyum terbaiknya mengulurkan tangannya menjabat tangan kedua orang tua Dina dengan sopan


"ambilkan minum Den...kasihan Dina dianggurin" ucap mama Tari


"eh...enggak usah repot-repot tante..." Dina merasa tidak enak hati

__ADS_1


"sudah tidak apa-apa... Tante senang kamu kesini... Akhirnya Dendy bisa tersenyum lagi" ucap mama Tari melirik ke arah Dendy


"mama ini apa-apaan sih...?" Dendy merengek seperti anak kecil, sedangkan Dina melirik ke arah Dendy , bingung dengan maksud mamanya Dendy.


"ya...sudah...om dan tante mau pergi sebentar, kalian enggak apa-apa kan kalau om tinggal" ucap papanya Dendy dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya


"mama sama papa kalau mau pergi, pergi saja..." ucap Dendy merasa kesal karena mama papanya hampir menceritakan tingkah lakunya sebelum berpacaran sama Dina.


"kok ngusir Den..." pak Doni tergelak "iya..iya...papa cuma mau ke rumah bos papa, mau lihat cucunya pak bos yang baru lahir"


Mama dan papanya Dendy pergi meninggalkan mereka berdua di teras.


"maksud papamu apa Den?" tanya Dina dengan tatapan dengan penuh tanda tanya


"hmmm....anu.... " Dendy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal


"eh...aku ke dalam ambil minum dulu ya, kamu mau minum apa?" tanya Dendy sengaja mengalihkan perhatian Dina


"apa saja Den, air putih juga enggak apa-apa" ucal Dina menahan kesalnya karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Dendy


Dendy meninggalkan Dina di teras sendirian dia masuk ke dapur membuka kulkas, ternyata masih ada beberapa kotak teh kemasan, Dendy membawanya ke depan.


"ini Din, adanya teh kotak" Dendy menyodorkan satu kotak untuk Dina dan satu lagi untuk dia


"air putih juga enggak masalah kok Den" Dina mencebik sambil menerima teh kotak yang disodorkan oleh Dendy


"untuk orang spesial ya harus yang spesial dong..." ucap Dendy lembut menarik kedua sudut bibirnya ke atas


"papamu kok tahu namaku, tahu dari mana Den?" Dina kembali bertanya karena tadi belum sempat dijawab oleh Dendy.


Dina masih penasaran, kenapa mama dan papanya Dendy seolah-olah sudah tahu tentang dia. Padahal mereka baru saja bertemu. Dina merasa takut kalau-kalau yang mereka tahu tentang dirinya adalah hal-hal yang buruk tentangnya.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya... Please... Like komen dan vote

__ADS_1


Bunga dan kopinya juga ditunggu...


Terima kasih sekebon readersku terlope-lope...


__ADS_2