Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 198 Tugas kelompok


__ADS_3

Pukul sebelas kurang lima belas menit, Dendy mengantar Dina ke terminal. Hari ini Dendy merasa tanpa beban, ia menjalani harinya penuh semangat.


Tapi tidak dengan Dina, ia berat rasanya harus segera berangkat ke kota J. Meninggalkan Dendy beberapa jam lebih cepat, untuk bertemu dengan orang yang akhir-akhir ini ia hindari.


Jika bukan karena mengerjakan tugas kuliah, Dina malas untuk bertemu Bimo. Dina malas karena ia masih trauma, jika ia dekat dengan Bimo ia akan mendapat masalah dari Riri.


Sejak peristiwa Riri mempermalukan dirinya, Dina lebih sering menghindar jika ada Riri. Bukan berarti dia merasa bersalah, tapi karena Dina tak ingin terjadi keributan lagi.


Ia sudah lelah menghadapi Riri yang selalu menyalahkannya. Meskipun kondisi Riri saat ini bukan salahnya atau salah Bimo, Riri masih saja menyalahkan mereka.


"hati-hati di jalan ya..."ucap Dendy mematikan mesin motornya


"aaa....masih kangen...." rengek Dina


"nanti malam aku telepon..." ucap Dendy lembut membelai rambut Dina


"tapi enggak sama...." rengek Dina


"sayang....besok kalau aku selesai ujian kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama" ucap Dendy lembut


Dina menghela nafasnya "entah mengapa, rasanya begitu berat meninggalkanmu di sini, rasanya seperti meninggalkan separuh nyawaku"


"jangan begitu, kalau nyawamu hanya separuh harusnya kamu sekarang di ICU" Dendy mencoba bercanda


"enggak lucu!" Dina mengerucutkan bibirnya.


"sudah sana....bismu sebentar lagi berangkat"


"bisnya enggak cuma satu, itu di sebelahnya masih ada lagi, cuma selisih lima belas menit" Dina kesal


"Dina sayang....aku juga ingin selalu bersamamu, tapi saat ini kita harus berjauhan, semoga suatu saat kita bisa bersama-sama seperti keinginan kita" ucap Dendy lembut


Ucapan Dendy seolah-olah telah menghipnotis Dina. Ia selalu merasa lebih tenang ketika Dendy membicarakan semua yang menurut Dina rumit. Cara bicara Dendy lembut tapi selalu menyiratkan ketegasan.


"aku berangkat dulu, jaga diri baik-baik..." ucap Dina dengan tatapan sendu


"hati-hati di jalan, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku"


.


Dua jam perjalanan Dina telah sampai di kosnya, ia masuk ke dalam kosnya yang tampak sepi. Dina meletakkan tasnya di lantai kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa lelah di kasur.


Dina mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untu Dendy mengabarkan bahwa dirinya telah sampai di kos. Dina meletakkan ponselnya kembali, dan memejamkan matanya.


Ponselnya berbunyi kembali, Dina mengambilnya dan ada panggilan masuk pada ponselnya. Dengan rasa enggan, Dina menekan tombol hijau pada ponselnya.


"iya...sudah..." Dina mematikan panggilan masuk dan meletakkan kembali ponselnya.


Tak lama terdengar jendela kamar kosnya diketuk, Dina melirik sekilas kemudian dengan langkah gontai ia membuka pintu kosnya kemudian ia masuk kembali ke kamar kosnya.

__ADS_1


"kenapa aku ditinggal sendirian di depan?" tanya orang yang mengikutinya masuk ke dalam kamarnya


"tak usah aku suruh masuk, mas pasti juga akan masuk tanpa disuruh" Dina mencebik


"kamu sudah makan?"


"belum....mana sempat aku makan siang, gara-gara teman mas aku jadi harus balik ke kos siang-siang" ucap Dina kesal


"maaf...kalau kamu tidak bisa tinggal bilang, biar aku dan Vito yang mengerjakan" ucap Bimo lembut


"mana bisa begitu, aku tidak mau dapat nilai buta ya...enggak ngerjain tapi dapat nilai " Dina makin kesal


"ayo makan dulu...aku bawa mie pangsit tempat biasa..." Bimo menunjukkan bungkusan yang ia bawa


Dina beranjak dari duduknya kemudian mengambil mangkok dan mulai membuka bungkusan makanan tersebut. Mereka berdua makan dalam diam. Dina masih kesal karena ia harus buru-buru kembali ke kos karena Vito hanya bisa mengerjakan tugas siang sampai sore hari saja.


"ayo....kita ke kosku, Ratna tadi sudah dijemput Vito" ucap Bimo setelah membantu membereskan alat makan mereka.


Dina mengambil tas kuliahnya, kemudian mengunci pintu kamarnya. Dina keluar dari kosnya heran, tumben Bimo naik motor besarnya lagi. Biasanya dia selalu memakai mobil jika ingin pergi dengan Dina, mau dekat atau jauh Bimo selalu memakai mobil.


Lima menit perjalanan, mereka berdua sudah sampai di kos Bimo.


"sepertinya Vito sudah datang...." ucap Bimo melepas helmnya


"oh..."


Sikap Bimo lebih acuh dari biasanya. Biasanya Bimo menunggu Dina untuk berjalan dulu baru ia akan mengikuti dari belakang, tapi kali ini Bimo meninggalkannya di garasi kosnya.


"nah ini dia....dua sejoli kita sudah datang" ucap Vito meledek Bimo ketika Bimo dan Dina memasuki kemarnya


"ayo cepat kerjakan....aku masih ada pekerjaan setelah ini" ucap Bimo datar


"pekerjaan atau kencan ?" goda Vito


"sudah....sudah....ayo kita kerjakan, semakin cepat kita kerjakan, akan semakin cepat selesai" sela Ratna


Mereka berempat mulai berdiskusi mengerjakan tugas kelompok mereka. Yang lebih aktif mengerjakan Bimo dan Dina, sedangkan Vito dan Ratna hanya saling paandang melihat Bimo dan Dina yang benar-benar cocok, saling melengkapi.


"tahu begitu kalian saja yang mengerjakan, kita dari tadi tidak dianggap" Ratna menegerucutkan bibirnya


"maaf....maaf Na...." Dina tak enak hati


"enggak masalah, aku malah senang, karena aku enggak harus berpikir keras untuk tugas ini" Ratna terkekeh


"ini sudaj hampir selesai....Vit...kamu lanjutkan mengetiknya..." ucap Bimo datar


"tapi apa yang harus aku ketik, aku dari tadi bingung dengan yang kalian bahas" Vito menggaruk kepalanya yang tidak.gatal


"sudah...kamu ketik saja, nanti aku atau Dina yang akan mendikte" ucap Bimo

__ADS_1


"terus aku mengerjakan apa?" Ratna menunjuk wajahnya


"kamu sama aku baca buku ini, mungkin ada yang terlewat belum aku baca" ucap Dina menyodorkan sebuah buku


Mereka berempat mengerjakan tugas kelompok mereka, tepat pukul enam sore, mereka telah menyelesaikan tugas kelompok mereka.


"Vito...kamu tanggung jawab mengantar aku pulang...enggak mungkin aku jalan kaki " Ratna berdiri dari duduknga


"baik aku antar...Bim kamu mau di sini atau...?"


"aku keluar dengan Dina" ucap Bimo berdiri kemudian menarik tangan Dina


Bimo mengajak Dina ke kamarnya dan mengeluarkan sesuatu dari tas ranselnya.


"ini buat kamu..." Bimo menyerahkannya pada Dina


"apa ini mas?" Dina membuka bungkusan itu


"ini salah satu produk perusahaan papa yang akan dipasarkan bulan depan"


Dina membukanya, matanya berbinar menatap benda yang diberikan oleh Bimo.


"aku tahu kamu suka warna itu, ukurannya sepertinta pas..."


"iya ini pas di badan aku, warnanya aku suka sekali, terima kasih mas..." ucap Dina dengan senyum mengembang


"iya produk, ini nantinya akan diekspor, hanya kamu yang punya ini di sini, misal.ada yang memakainya pasti dia beli dari luar negeri" teeang Bimo


"terima kasih mas....mas Bimo tidak perlu repot-repot memberi aku barang-barang mahal" Dina melepas jaket pemberian Bimo


"ini tidak mahal Din...untuk kamu tidak ada yang mahal" ucap Bimo lembut


"tetap saja, mas sudah terlalu banyak memberiku barang-barang yang menurutku itu mahal semua, aku tidak mungkin bisa membalas semuanya"


"cukup kamu berada di sampingku dan selalu menjadi tempatku berkeluh kesah itu saja Din..."


"mas tahu sendiri, aku tidak bisa memberikan apa yang mas minta, aku hanya bisa menjadi teman mas, teman baik"


Bimo menghela nafasnya kasar, ia pikir setelah menyelesaikan masalah Riri dan mendapat restu dari papanya jalan untuk mendapatkan Dina akan terbuka. Tapi lagi-lagi Bimo harus mendapat penolakan dari Dina.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2