
"jam berapa Den?" tanya Dina sewaktu melihat Dendy keluar dari pintu rumahnya
"jam tiga lebih sepuluh menit Din" jawab Dendy berjalan ke arah kursi yang berada di sebelah Dina
Dendy masih merasa canggung, masih merasa tidak enak hati karena sudah mencium pipi Dina tanpa ijin pemiliknya. Dia merasa kehabisan kata-kata untuk membuka pembicaraan dengan Dina.
Suasana canggung melingkupi mereka. Mereka berdua terdiam, tidak ada yang membuka pembicaraan di antara mereka.
"kamu kenapa diam Den?" tanya Dina lembut memecah kesunyian yang sejak tadi melingkupi mereka.
"hmm...Din...aku minta maaf ya" ucap Dendy dengan tatapan penuh penyesalan
"maaf? Tentang apa Den?" Dina menautkan kedua alisnya, tidak tahu apa yang dimaksud oleh Dendy
"tentang tadi Din..." ucap Dendy lirih penuh penyesalan
"apa Den?" Dina makin bingung apa maksud Dendy
"maaf aku tadi menciummu" Dendy tertunduk merasa bersalah
"aku kira apa Den... 'kan tadi aku tidak mempermasalahkannya Den, sudah jangan dipikirkan lagi" ucap Dina dengan senyum tulusnya
"kamu tidak marah Din?" tanya Dendy mengangkat kepalanya menatap Dina dengan raut wajah terkejut
Dina hanya menggelengkan kepala, memang dia tidak marah hanya kaget saja. Dina tidak mau itu menjadi masalah yang besar.
Melihat Dendy dari tadi dengan raut penyesalannya, Dina tahu kalau Dendy memang benar-benar merasa bersalah. Dan Dina menghargai hal itu, berarti Dendy bukan tipe yang suka memanfaatkan situasi untuk mendapatkan kesenangannya.
Dina membandingkannya dengan mantan pacarnya mas Bimo. Yang pernah dengan sengaja mencium pipinya, ketika Dina menatapnya dengan tatapan tidak suka, tidak ada raut rasa bersalah bahkan dengan terang-terangan ingin menciumnya lagi.
Tapi Dendy berbeda, dia merasa bersalah hanya dengan melihat tatapan terkejut dari Dina, dia pikir Dina pasti akan marah besar dengan tindakannya itu.
"aku tidak marah Den, hanya saja aku belum siap untuk berpacaran seperti teman-temanku yang dengan mudahnya berciuman mesra dengan bibir mereka" terang Dina
"kalau untuk berpelukan seperti tadi atau cium pipi aku masih tidak begitu mempermasalahkan hanya saja aku tidak ingin itu terlalu sering terjadi, aku takut Den..." lanjut Dina yang mengutarakan ketakutannya
"takut? Takut apa Din?" tanya Dendy mengerutkan dahinya
"takut menjadi kebiasaan dan akhirnya jadi kebablasan Den" ucap Dina dengan sorot mata tegas
"aku akan berusaha menjagamu Din, aku juga bukan tipe cowok yang suka memanfaatkan keadaan"
"tapi tetap saja Den... Kita tidak tahu apa yang terjadi setelahnya" ucap Dina menjelaskan alasan ketakutannya
"iya Dina sayang...kelak katakan padaku kalau kamu siap, aku akan menunggu saat itu" ucap Dendy lembug dengan tatapan teduh
"iya Den... tidak apa-apa 'kan kalau menunggu aku siap?" Tanya Dina menatap Dendy
"iya Dina... Tidak apa-apa aku berjanji akan menunggu sampai kamu mengijinkannya" ucap Dendy sungguh-sungguh
Dina menatap Dendy mencari-cari kebohongan di mata Dendy, tapi hanya keseriusan dan ketulusan yang dia dapat. Dia tidak mendapati kebohongan dalam sorot mata Dendy
"Den... Kamu benar-benar sayang aku?" tanya Dina lirih
"kenapa kamu menanyakannya lagi Dina? Apa selama ini semua yang aku lakukan belum cukup membuktikan kalau aku benar-benar sayang kamu?" Dendy dibuat bingung kenapa mempertanyakannya lagi
"aku hanya ingin meyakinkan diriku lagi Den, aku takut kecewa karena sepertinya aku jatuh cinta kepadamu" ucap Dina malu-malu sambil menundukkan kepalanya
"aku cinta dan sayang sama kamu Din, bahkan kamu pacar aku yang pertama kali aku bawa ke rumah dan aku kenalkan dengan papa mamaku" terang Dendy penuh dengan ketegasan sambil menggenggam kedua tangan Dina
"benarkah? Aku yang pertama kali ke sini?" Dina mengangkat kepalanya menatap Dendy dengan matanya yang berbinar-binar
"coba tanya mama papaku kalau kamu tidak percaya" ucap Dendy tersenyum
"mana berani aku tanya mama papamu" Dina mencebik
__ADS_1
"tanya Rio kalau begitu" Dendy tersenyum jahil
"kalau tanya Rio, sudah pasti dia akan bilang sama seperti yang kamu bilang" Dina mencebik
Dendy tergelak melihat Dina yang terlihat lucu di matanya. Dendy makin sayang dengan Dina, dia menghargai Dina karena tidak mau sembarang disentuh oleh cowok. Meski ia tahu Dina lebih banyak bergaul dengan teman laki-laki daripada teman perempuan tapi Dina tahu batasannya.
"kamu mau pulang jam berapa Din?" tanya Dendy
"jam empat lebih atau setengah lima Den, memangnya ada apa?" tanya Dina
"kamu mau di sini saja apa mau jalan-jalan?"
"kalau kita jalan-jalan Rio sama siapa Den?"
"di rumah sendiri "
"hah... Kasihan kalau di rumah sendiri, Rio masih kecil kalau disuruh jaga rumah sendiri" ucap Dina yang tidak enak hati kalau harus meninggalkan adiknya Dendy di rumah sendirian padahal adiknya yang seumuran denga Rio juga kadang-kadang ditinggal di rumah sendiri, tapi itupun juga tidak lama
"berarti kita di rumah saja Din?" tanya Dendy
"iya di sini saja, kalau mama papamu sudah pulang kita bisa jalan-jalan" ucap Dina dengan senyum manisnya yang membuat Dendy semakin cinta
"sebentar aku ke dalam dulu"
Dendy beranjak dari duduknya, dan berjalan ke dalam rumah naik ke kamarnya. Dendy mengambil gitarnya, dia teringat Dina sangat antusias ketika dia bernyanyi sambil bermain gitar waktu di puncak tempo hari.
Dendy berjalan keluar dengan membawa gitarnya. Dendy duduk di seberang Dina dan mulai memainkan gitarnya.
"kamu mau bernyanyi lagu apa Den?" tanya Dina yang terpesona pada Dendy yang sudah memetik gitar dengan nada asal
"kamu mau mendengarkan lagu apa hmm... Akan kunyanyikan apa saja yang kamu minta" ucap Dendy sambil memandangi wajah Dina yang terlihat sangat senang.
"hmmm... Apa ya Den?" Dina berpikir keras memilih lagu apa yang ingin dia minta untuk dinyanyikan oleh Dendy
Ketika Dina sedang berpikir, Dendy sudah mulai memetik gitarnya dan dia tahu lagu apa yang akan dinyanyikan oleh Dendy
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Wo-ho-oh
Wo-oh, wo-oh, wo-oh-ho
Sifatmu nan s'lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku
Kembali dunia ceria
__ADS_1
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Oh-oh-ho-oh
Wo-oh-ho-oh
Wo-oh-ho-ho-oh
Wo-ho-oh
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, wo-ho
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Wo-ho-oh
Wo-ho-oh, wo-oh, wo-oh-ho
Wo-oh-ho-ho
Wo-oh-ho-ho
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu, wo-ho
Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu, hu-hu
Hangat peluk janjimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
(Anugerah Terindah yang pernah kumiliki ~ Sheila on 7)
Dina mendengarkan Dendy yang sedang bernyanyi, matanya berbinar mendengar alunan gitar yang dimainkan oleh Dendy. Sejak dulu ia memimpikan memiliki pacar yang selalu menyanyikan lagu cinta untuknya.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Jangan lupa ritualnya ya bestie....
Tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote nya ya
__ADS_1
Juga kirim-kirim bunga atau kopi
Terima kasih sekebon bestie...