Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
BONPAR 2


__ADS_3

Lama Dendy menatap Dina yang terlihat tertidur pulas, ia tak rela jika Dina dimiliki orang lain, namun ia juga tak punya keberanian untuk memberi harapan pada Dina.


Dendy bingung harus bagaimana, ia begitu menikmati kebersamaannya dengan Dina tapi ia juga takut melangkah. Ia takut dengan semua yang akan terjadi jika ia mengikuti perasaannya.


.


Hari-hari berikutnya Dendy lupa dengan semua perjanjiannya dengan orang tuanya. Ia sering memghubungi Dina, tapi kembali lagi seperti dulu. Dina yang terlihat memperjuangkan perasaannya. Dina yang sering mendatangi kosnya.


Dina sering menghabiskan waktu dengannya di kosnya bukan Dendy yang mendatangi Dina.


"Den...aku bisa minta tolong?" tanya Dina ketika di kos Dendy


"apa?"


"temani aku mengumpulkan laporan KKN di gedung pusat ya..."


Dendy tampak berpikir tidak langsung menyetujui permintaan Dina.


"kalau enggak mau nggak apa-apa" ucap Dina sambil memaksakan senyumnya


"memangnya teman-teman kelompokmu kemana?"


"mereka akan menunggu di sana" ucap Dina


Dendy berpikir lagi, ia takut akan ada orang yang tahu hubungannya dengan Dina. Namun ia juga ingin pergi dengan Dina, sudah lama mereka tidak pergi jalan-jalan atau sekedar makan bersama.


"baiklah...aku bersiap dulu ya..." Dendy mengambil baju kemudian membawanya ke kamar mandi. Tak lama Dendy sudah rapi dan mengambil jaketnya.


"naik motorku saja ya..."


"iya....tapi aku lapar, kita makan dulu ya..."


"memangnya kami janji dengan teman-temanmu jam berapa?"


"masih ada waktu, masih ada yang kuliah jam ini"


"baiklah.....aku kemarin berjanji mentraktirmu makan mie ayam, ayo...aku traktir...."


"baik...." Dina mengembangkan senyumnya. Senyum yang sudah lama Dendy rindukan. Dendy sempat berpikir Dina membencinya dan tak akan mau bertemu dengannya, namun pikirannya itu salah.


Dina masih tetap Dina yang ia kenal, yang tak menyimpan dendam pada siapapun yang menyakitinya. Dina yang selalu bisa menutupi semuaa yang ia rasakan dengan senyum dan keceriaannya.

__ADS_1


Dendy menyalakan mesin motor dan menyuruh Dina naik ke boncengannya. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sampai di dekat kampus mereka Dendy menghentikan motorntya dan memarkirkannya.


"ayo...kita makan di sini...kamu pasti belum pernah" ucap Dendy menyunggingkan senyumnya.


"iya...aku biasanya makan di depan kampus..." jawab Dina sambil melepaskan helmnya


"ayo..." Dendy berjalan mendahului Dina. Kemudian ia memesan makanan dan minuman untuk mereka berdua.


Mereka berdua makan dalam diam, tak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Lima belas menit kemudian mereka telah selesai. Dendy membayar makanan mereka kemudian mereka berangkat ke gedung pusat kampus mereka.


Dendy memarkirkan motornya di dekat pintu masuk "aku tunggu di sini saja ya..." ucap Dendy sambil melepaskan helmnya


"temani aku ke dalam ya....gedung ini agak sepi, aku sedikit takut..."


"apa yang kamu takutkan....? Ke kosku yang isinya cowok semua aja ga takut" ledek Dendy


"itu beda....di kosmu ada kamu...di sini jarang ada mahasiswa di sini kalau nggak ada urusan"


"iya....iya...tapi aku mengikutimu dari belakang ya...."


"baiklah..."


Dendy mengikuti Dina masuk ke dalam gedung pusat. Ia menjaga jarak dari Dina, ia tak mau terlihat mencolok karena dekat dengan Dina. Saat ia melihat Dina bertemu dengan temannya, ia memilih menunggu di lorong yang di lalui Dina.


Ia terlalu lama berpikir dan lamban bertindak. Ia tak menyaadari jika Dina sebenarnya sudah ada yang memiliki. Mungkin dulu jika Dina tak bertindak lebih dulu ia tak akan bersama dengan Dina.


Ia menunggu Dina setengah jam lamanya. Ia mulai melihat satu per satu teman-teman Dina berjalan melewatinya, tinggal di barisan paling belakang berjalan bersama cowok yang membuat Dendy cemburu.


Mereka terlihat tertawa bersama, seperti sepasang kekasih di mata Dendy. Dendy nelihat Dina dengan sorot mata tajam.


"eh....Bud...kamu duluan aja...." ucap Dina ketika mendekati Dendy


"terus kamu?"


"aku tadi diantar temanku" jawab Dina. Pembicaraan mereka dapat didengar oleh Dendy.


Dendy merasa kecewa mendengar Dina menyebut dirinya teman, namun ia sadar diri, itu memang dirinya saat ini. Ia hanya teman Dina, bukan siapa-siapa.


Teman Dina yang diajak mengobrol tadi melirik Dendy "hati-hati....jangan main api Din..." ucapnya


"iya....makasih ya...." ucap Dina menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


Dendy bingung, maksud teman Dina dengan main api apa. Ia tak mengerti, namun ia juga tak berani menanyakan pada Dina. Setelah teman Dina meninggalkan mereka berdua, Dina pun duduk di sebelah Dendy.


"maaf ya....kamu menunggu lama..." Dina menyunggingkan senyumnya


"nggak masalah...."


"sudah...ayo pulang..." ucap Dina beranjak berdiri


Mereka berdua berjalan beriringan, ke tempat parkir. Mereka berdua diam seperti orang asing yang kebetulan berjalan bersama. Dendy masih memikirkan ucapan teman Dina tadi.


Sesampainya di kos Dendy, Dina tak langsung pulang ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Dendy. Tak ada hal yang mencurigakan dengan Dina yang Dendy lihat.


"eh....ada mantan pacar...." Dodi tiba-tiba berada di pintu kamar Dendy


Dina hanya menatap datar pada Dodi, sedangkan Dendy melayangkan tatapan membunuhnya pada Dodi.


"iya...iya...aku pergi..." Dodi terkekeh kemudian ia meninggalkan Dendy bersama Dina.


"Den....aku pulang ya...udah gelap ternyata...jalanan dari sini sampai kosku gelap kalau malam, aku takut"


"iya...hati-hati di jalan" ucap Dendy memaksakan senyumnya


"terima kasih untuk semuanya" Dina menyunggingkan senyumnya


Dina meninggalkan kos Dendy, kini ia menyerahkan semuanya pada Tuhan, apakah Dendy akan memperjuangkannya kembali atau tidak.


"Dina kamu biarkan pulang sendirian? Jalanan sudah gelap Den, kamu enggak takut terjadi sesuatu pada Dina?" Dodi menghampiri Dendy


"Dina bisa menjaga dirinya sendiri" Dendy kemudian meninggalkan Dodi


"kalau Dina diambil orang baru tahu rasa kamu!!" teriak Dodi


Dendy tak pernah lagi bertemu Dina, Dina juga tak menghubungi dirinya. Ia juga jarang ke kampus lagi. Misal ia ke kampus ia memakai motor milik temannya.


Di jam kuliah yang sama dengan Dina ia tak pernah lagi melihat Dina di kampus. Dalam hatinya ia berharap bisa menatap Dina dari jauh. Lagi-lagi Dendy menunggu Dina yang akan menghubunginya, menunggu apakah Dina memang masih mengharapkannya.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2