Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 88


__ADS_3

Dendy mengangkat gagang telepon, dan meletakkannya kembali. Ia gusar, apakah harus menelpon atau tidak. Ia ingin mengetahui apa yang tadi Dina lihat dan baca di kamarnya. Setelah beberapa menit ia meyakinkan dirinya, akhirnya Dendy memencet nomor telepon rumah Dina.


Dengan perasaan was-was dia menunggu teleponnya diangkat.


Tutt...tuttt....tut...


☎️ Halo


^^^"Halo, Dina ada di rumah?"^^^


☎️ ini dari siapa


^^^"Dendy"^^^


☎️ oh...kak Dendy, kak Dina belum pulang


^^^"Oh...ya sudah terima kasih ya"^^^


☎️ sama-sama


Dendy meletakkan gagang teleponnya, ia berpikir sejenak. Menghitung waktu, kalau dihitung seharusnya waktu ia menelpon tadi Dina sudah sampai di rumah, tapi kenapa adiknya bilang kalau ia belum pulang.


Seketika perasaan bersalah menyerang hati dan pikirannya. Dina sudah meluangkan waktu untuknya, tapi ia malah pergi bersama cewek lain. Apakah Dina juga tadi melihatnya sedanag berboncengan dengan cewek lain? Apakah Dina juga membaca tulisan-tulisan, atau surat yang ada di meja belajarnya? Pikiran Dendy berkecamuk memikirkan semua yang ia takutkan.


Dendy 'pun berjalan keluar rumah, menemui cewek yang tadi ia bonceng. Meskipun tidak.ada hubungan apa-apa di antara mereka, tapi cewek itulah yang selama ini menjadi pelariannya ketika Dina sibuk.


"kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya cewek itu ketika melihat Dendy keluar rumah dengan wajah kusut.


"Dina tadi kesini" ucap Dendy tak bersemangat, duduk di kursi seberang cewek tadi


"memangnya kenapa kalau dia kesini?"


"dia tadi masuk kamarku, dan merapikan semua barang-barangku" jawab Dendy menundukkan kepalanya


"memangnya dia siapa? Masuk-masuk kamarmu, sampai membereskan barang-barangmu segala?" ucap cewek itu dengan nada ketus


Dendy lebih memilih diam, tidak menanggapi ucapan cewek yang ada di depannya itu.


"memangnya siapa yang mengijinkan dia masuk ke dalam rumah, apalagi sampai masuk kamarmu?" tanya cewek itu dengan nada emosi

__ADS_1


"Rio mungkin" Dendy mengedikkan bahunya


"memangnya ada apa di kamarmu? Sampai-sampai kamu seperti ini?" tanya cewek itu masih dengan nada emosi


"tidak ada apa-apa" kilah Dendy, karena tidak mungkin ia menceritakan apa yang ada di dalam kamarnya. Karena hadiah, surat-surat dari cewek itu belum ia buang, masih ada di meja belajarnya meskipun berada di bawah tumpukan buku-bukunya yang tak mungkin ada orang yang mau menyentuhnya.


"oh...ya sudah kamu tidak usah memikirkan yang tidak-tidak" ucap cewek itu melembut


"tapi aku takut, tadi dia melihat kita berboncengan" ucap Dendy lirih


"oh...bagus itu...kalau dia melihat kita berboncengan, biar dia tahu bagaimana cara memperhatikan pacarnya, bukan malah sok sibuk seperti itu" ucap cewek itu sinis


Mendengar perkataan cewek di depannya, Dendy naik pitam mengangkat kepalanya dan memandang cewek itu dengan tatapan penuh amarah


"Dina seperti itu karena ia mau ujian akhir, dia tidak sok sibuk, tapi dia memang benar-benar sibuk mengejar impiannya, bukan seperti kamu yang tidak pernah memperhatikan sekolahmu!" ucap Dendy dengan menahan emosinya


"kalau cuma mau ujian akhir, aku juga mau ujian akhir, tapi aku tidak sibuk seperti dia, buktinya aku masih bisa menemani kamu di saat kamu kesepian" ucap cewek itu dengan nada sinis


"Nia..!! Jaga ucapan kamu!" Dendy membentak Nia


Nia adalah siswa SMA XXX, dia kakak kelas Dendy dulu waktu SMP sekarang dia juga sama seperti Dina kelas tiga. Dendy pernah berpacaran dengan Nia waktu dia kelas tiga SMP dan Nia kelas satu SMA.


Ketika bertemu dengan Nia tidak ada niat untuk berhubungan lagi dengannya. Hanya saja di pertemuan yang singkat itu mereka bernostalgia seolah-olah mereka masih dekat.


Sejak pertemuan pada ulang tahun temannya itu, Dendy yang kesepian dan karena Nia yang selalu menelpon atau kadang menunggu Dendy pulang sekolah di depan sekolah Dendy yang berada tidak jauh dari sekolahnya menjadi semakin dekat.


Kedekatan itu berjalan kurang lebih hampir dua bulan. Dendy sebenarnya tahu Nia memiliki tempramen yang buruk yang kadang suka mengatur-atur dirinya waktu mereka masih berpacaran dulu, tapi karena ia merasa butuh pelarian, ia mengabaikan semua keburukan Nia yang membuat mereka dulu putus.


"oh...sekarang kamu berani membentak aku hah....?!" Nia juga tersulut emosinya "kamu mempermainkan aku Den...kamu yang datang padaku tapi kenapa kamu sekarang membentakku?"


"dari awal kamu juga tahu kalau aku sudah punya pacar lagipula yang sering menelpon dan menemuiku itu kamu bukan aku yang datang kepadamu terlebih dulu!" ucap Dendy tak kalah ketusnya


"dasar cowok dimana-mana sama saja! Mau menang sendiri!" Nia bangkit berdiri dan berjalan keluar pintu pagar rumah Dendy. Dia berjalan ke arah jalan raya dan pulang dengan naik angkutan umum


Sedangkan Dendy menngusap wajahnya kasar dan menarik rambutnya sendiri


"bodoh...bodoh...kenapa aku sebodoh itu?" Dendy terduduk lesu meratapi kesalahannya karena dia telah menduakan Dina.


Mungkin Dina juga salah karena terlalu sibuk mempersiapkan ujian akhirnya. Tapi dari awal Dendy juga tahu kalau Dina memang anak yang rajin dan ingin mengejar memimpinya.

__ADS_1


Setelah puas merenungi kesalahannya, Dendy masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri di kursi depan televisi sambil menunggu telepon dari Dina. Ia berharap Dina akan menelponnya kembali saat tiba di rumahnya.


.


.


Di rumah Dina, sejak pulang dari rumah Dendy tadi ia tidak keluar kamarnya, ia terlalu lelah dan tertidur tanpa mengganti seragamnya. Dina terbangun karena pintu kamarnya digedor-gedor. Dengan langkah malas Dina membuka pintu kamarnya


"kak...tadi kak Dendy telepon" ucap Alan adiknya


"oh..." Dina menutup kembali pintu kamarnya dan ingin melanjutkan tidur siangnya tapi belum sampai ia menutup rapat pintu kamarnya adiknya itu mendorong pintu kamarnya


"tidak ada upah atau apa begitu? Aki sudah berbaik hati memberi tahu kalau kak Dendy menelpon" ucap Alan sambil menaikturunkan alisnya


"tidak ada!" ucap Dina kesal


"besok-besok kalau ada yang menelpon kakak lagi aku tidak akan memberi tahu" ancam Alan


"tidak masalah, kalau ada yang telepon cari kakak bilang saja kakak tidak di rumah" ucap Dina kesal


"tapi jangan lupa ada upahnya kak!" Alan berlari meninggalkan Dina takut kena marah


Dina kembali merebahkan badannya di atas tempat tidurnya, rasanya ingin tidur lebih lama lagi sebelum ia harus fokus ujian akhir yang akan ia hadapi senin depan.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


Tolong dukung terus karya ini ya bestie....


Like komen dan votenya ya...

__ADS_1


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2