
Bimo mengantarkan Dina pulang ke kosnya, sebenarnya dirinya ragu untuk mengantar Dina kembali ke kosnya, takut pintu kosnya sudah dikunci oleh ibu kosnya.
Mengajak Dina bermalam di tempat kosnya juga bukan pilihan yang tepat. Teman-teman satu kosnya banyak yang membawa pacar-pacarnya menginap di sana dan seringkali terdengar suara-suara aneh dari kamar teman - teman satu kosnya. Ia takut tak bisa mengendalikan diri seperti waktu itu dan juga belum tentu Dina mau tidur satu kamar dengannya.
Tapi, Dina meyakinkan Bimo jika tempat kosnya itu sebenarnya bebas mau pulang jam berapa saja meskipun di peraturan kosnya paling malam jam sembilan malam karena setiap anak kos masing-masing membawa duplikat kunci pintu depan kosnya.
Tepat jam satu malam Bimo sudah sampai di depan kos Dina. Dina segera turun dari mobil Bimo.
"besok pagi ada kuliah pagi kan?" tanya Bimo lembut
"iya mas..." jawab Dina datar "aku masuk dulu, terima kasih untuk makan malamnya" Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas
Dina masuk ke dalam kosnya, dan membuka pintu kamarnya. Biasanya setiap ada yang menelpon atau mencarinya teman-teman satu kosnya akan menulis di kertas catatan yang tertempel di pintu kamarnya, tapi kali ini tidak ada.
Dina sedih, ia teringat lagi akan Dendy. Entah berada dimana dan sedang apa sehingga Dendy tak sempat meneleponnya. Dina langsung merebahkan dirinya dan akhirnya tertidur.
.
Pagi harinya, waktu menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit. Bimo sudah berada di kampus, kebetuluan kuliah pagi dan satu kelas dengan Dina. Bimo cemas, tidak biasa Dina terlambat masuk kuliah. Dosen yang mengajar pun juga belum datang.
Bimo gelisah, ia takut terjadi sesuatu dengan Dina, sedari tadi Bimo melihat arloji di tangannya dan sesekali melihat ke arah tangga biasa Dina lewat.
"Ya.... Aku titip absen ya..." ucap Bimo kepada Arya teman satu angkatannya
"kamu mau kemana?" Arya bingung
"aku mau ke kos Dina... Tidak biasa dia terlambat" Bimo beranjak dari duduknya dan meninggalkan kuliahnya
Bimo melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa, ia begitu kawatir semalam mereka pulang dini hari dan takut terjadi apa-apa dengan Dina.
Sesampainya di kos Dina, ia memencet bel dengan hati yang tak tenang. Reni teman satu kos Dina kebetulan baru saja datang bersama temannya.
"cari siapa mas?" tanya Reni yang belum mengetahui siapa yang berada di depan pintu. Bimo membalikkan badannya menghadap Reni. "Oh...cari Dina? Bukannya Dina ada kuliah pagi?" ucap Reni sambil memutar anak kunci
"kalau dia masuk kuliah aku tidak di sini" ucap Bimo datar dengan suara tegasnya
__ADS_1
"ketuk saja pintu kamarnya, aku mau ke atas dulu" ucap Reni meninggalkan Bimo di depan pintu kamar Din
Bimo mengetuk pintu kamar Dina, dengan hati cemas ia menunggu pintu dibuka. Berkali-kali mengetuk pintu tapi tak ada jawaban, rasanya Bimo ingin mendobrak pintu kamar Dina.
Reni turun lagi dan mendapati Bimo masih mengetuk pintu kakar Dina "belum dibuka?" tanya Reni menghampiri Bimo
"belum, ada kunci cadangan tidak?" tanya Bimo dengan nada gusar
"yang punya ibu kos" ucap Reni sambil mengetuk pintu kamar Dina
"Din...kamu ada di dalam tidak?" Reni mengetok pintu kamar Dina sedikit kencang
Tiba-tiba terdengar bunyi anak kunci diputar dan pintu terbuka, tampak Dina dengn wajah pucatnya "ya ampun Dina..!" Reni panik melihat Dina yang pucat
Bimo memegang kening Dina "kamu demam tinggi Din....!" Bimo panik
"aduh bagaimana ini, aku ada janji dengan dosen pagi ini" ucap Reni juga panik "mas titip Dina ya...tidak apa-apa kan?" ucap Reni kebingungan
"iya...!" ucap Bimo tegas tak mempedulikan wajah Reni yang panik
Tiba-tiba Dina terjatuh dan pingsan, untung Bimo dengan sigap menangkap tubuh Dina. Bimo membaringkan Dina di kasurnya, kemudian ia mengambil air dan handuk kecil milik Dina. Dengan telaten Bimo mengompres Dina yang masih tak sadarkan diri.
Setengah jam berlalu dalam kepanikan Bimo. Ia mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Dina agar cepat sadar. Usahanya berhasil, Dina mulai mengerjapkan matanya.
Bimo sedikit lega "kamu kenapa sampai pingsan? Punya obat demam tidak?" tanya Bimo panik
"hehehe...aku kalau demam terlalu tinggi begini mas tidak perlu kawatir" Dina memaksakan senyumnya
"bukannya mas, pagi ini ada kuliah?" tanya Dina mencoba bangun dan duduk
"aku bolos, bagaimana bisa aku meninggalkanmu dengan kondisi begini!" ucap Bimo ketus
"aku tidak apa-apa mas, minum obat tidur sebentar juga pasti sembuh" ucap Dina menarik kedua sudut bibirnya
"obat? Memangnya kamu punya?" tanya Bimo ketus dan dijawab dengan gelengan oleh Dina
__ADS_1
Bimo menghela nafasnya kasar "ayo ke dokter kalau begitu" ucap Bimo lembut, namun Dina hanya menggelengkan kepalanya.
"ya sudah...aku beli obat dulu, kamu istirahat dulu, kunci kosmu aku bawa" ucap Bimo kemudian berdiri keluar dan menutup pintu kamar Dina.
Dina berbaring lagi, matanya menerawang ke arah langit-langit. Ini kali kedua ia sakit karena terlalu memikirkan Dendy. Ia tak ingin menelepon Dendy duluan, ia ingin Dendy yang berusaha memperjuangkannya. Selama ini ia sudah berusaha memperjuangkan cintanya.
Setiap minggu ia pulang, walau ia capek, tugas kuliah menumpuk tapi ia berusaha untuk selalu menemui Dendy. Ia tak pernah sekalipun mengeluh, tapi ketika tiba-tiba ia sakit seperti ini seolah-olah semua usahanya tak ada artinya bagi Dendy.
Dua puluh menit kemudian, Bimo sudah kembali membawa banyak belanjaan. Dina bingung Bimo seperti mau berjualan. "Mas bawa apa? Kenapa banyak sekali?"
"ini obat dan vitamin, ayo sekarang kamu minum dulu setelah itu makan buburnya" ucap Bimo penuh penekanan tak mau dibantah sambil membuka bungkusan obat dan vitamin kemudian memberikannya kepada Dina
"bubur? Bubur apa?" Dina mengerutkan dahinya
"bubur ayam..." ucap Bimo mengeluarkan bungkusan bubur
"aku kan tidak doyan makan bubur ayam mas" ucap Dina datar sambil meminum obatnya
"terus kamu maunya makan apa?" Bimo sedikit kehilangan kesabaran
"itu bungkusan yang lain isinya apa?" tanya Dina
"ini makananku untuk sarapan, nasi sama sayur dan ayam goreng" ucap Bimo sedikit kesal
"aku makan itu saja, mas makan buburnya" Dina nyengir kuda
Bimo menghela nafasnya, dan mengalah daripada Dina tidak mau makan. Bimo memberikan nasi bungkusnya untuk Dina. Kemudian ia membuka bungkusan bubur ayam dan menuangkannya ke dalam piring.
Mereka berdua makan dalam keadaan diam, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Meski lidahnya terasa pahit Dina memaksakan menghabiskan makanannya.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1