Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 146 Ancaman Riri


__ADS_3

Dina duduk membelakangi Bimo, sebenarnya kalau ia boleh memilih ia ingin makan di luar saja. Tapi teman-temannya memaksanya untuk makan di kanti saja.


"Din...kamu makan apa?!" teriak Caca saat dia memesan makanan ke penjaga kantin.


Bimo menoleh ke arah Caca yang berteriak memanggil Dina. kemudian ia menoleh ke arah pandangan Caca. Bimo terkejut melihat Dina duduk membelakanginya.


Seketika ia melepaskan tangan Riri yang dari tadi memegang lengannya kemudian ia beranjak dari duduk nya dan berjalan menghampiri Dina.


"Din..." ucap Bimo dengan suara tegasnya namun dengan tatapan teduh


Dina menoleh ke arah Bimo yang memanggilnya, ia sudah menduganya Bimo pasti akan menghampirinya.


"Din...pesan apa?!" ganti Berta yang berteriak


"kamu belum makan dari pagi?" tanya Bimo kawatir


Dina hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. Ia memang belum sempat sarapan tadi pag.


"kebiasaan!" ucap Bimo berjalan meninggalkan Dina dan pergi ke arah penjaga kantin. Ia memesankan makanan untuk Dina. Ia sudah tahu apa yang harus dimakan Dina di waktu pagi.


"sudah kalian duduk saja, Dina biar aku yang pesankan" ucap Bimo kepada kedua temannya Dina. Berta dan Caca menurut ia kembali ke tempat duduk satu meja dengan Dina.


Bimo memesankan nasi soto ayam, karena kebetulan ibu kantin sedang memasak soto ayam. Bimo juga memesankan teh hangat untuk Dina.


Dina hanya menatap kedua temannya datar. Karena kedua temannya itu Bimo tahu kalau dia berada di kantin.


"Din...Din...kak Bimo datang tuh..." bisik-bisik Caca


"hmmm...." Dina acuh


"aku sudah pesankan untukmu, jangan lupa dihabiskan" ucap Bimo penuh perhatian


"terima kasih" ucap Dina singkat


Bimo meninggalkan Dina dan kedua temannya kembali duduk bersama Riri dan teman-temannya.


Riri menatap ke arah Dina dengan senyum kemenangan. Sayangnya yang menatap ke arahnya adalah Berta dan Caca.


"itu Kak Riri kenapa Din? Senyumnya menyeramkan" Caca bergidik ngeri


Dina menoleh ke arah Bimo dan Riri yang kembali menggelayut di lengan Bimo. Dina menghadap kembali ke arah kedua temannya.


"mana? Dia malah nempel sama mas Bimo tuh" ucap Dina datar


"kamu tidak cemburu?" tanya Berta

__ADS_1


"cemburu? Buat apa Ta...tidak ada hubungannya denganku juga" ucap Dina santai


Ibu kantin mengantarkan pesanan Dina dan teman-teman. Dina terkesima dengam makanan yang dipesan Bimo. Ia sebenarnya sedang tak berselera makan nasi soto, tapi apalah daya Bimo sudah memesankannya, lengkap dengan tambahan sate usus dan sate telur puyuh.


Dina menghabiskan makanannya, karena sayang kalau makanan itu harus dibuang-buang. Dina sudah selesai makan, tapi kedua temannya masih belum selesai, apalahi Berta dia kalau makan lama. Dina harus ekstra sabar menunggunya.


"Din....Din...kak Bimo jalan ke sini.."ucap Caca


"biarkan saja" ucap Dina santai


"kamu habis ini masih ada kuliah lagi?" tanya Bimo lembut


"ada...nanti jam sepuluh" jawab Dina tanpa melihat ke arah Bimo


"pulangnya tunggu aku" ucap Bimo dengan nada perintah bukan lagi permintaan


Dina tak menjawabnya ia asyik meminum tehnya. Bimo kesal dengan sikap Dina yang mengabaikannya lagi.


"nanti pulang bareng aku ya..." nada Bimo sedikit lebih lembut


Dina hanya melirik ke arah Bimo "aku pulang dengan teman-temanku mas, ada yang mau dikerjakan" Dina menolak secara halus.


"baiklah...hati-hati" ucap Bimo dengan tatapan teduhnya.


Bimo berjalan meninggalkan Dina dan teman-temannya. Riri yang berjalan paling belakan berhenti di meja Dina


Dina hanya menatap Riri sekilas dan mengabaikannya. Ia merasa tidak memiliki urusan dengan Riri atau Bimo.


"Din...Serius?! Kak Bimo sudah bertunangan dengan nenek lampir?" tanya Caca


"mana kutahu Ca..." Dina mengedikkan bahunya


"kamu kan setiap hari diantar jemput kak Bimo masak tidak tahu?" tanya Berta dengan mulut yang masih mengunyah


"aku tidak tahu Ta....lagipula bukan urusanku, aku dan dia hanya berteman" ucap Dina santai


Mereka bertiga kembali ke kampus, dan mencari ruang kelas tempat mereka kuliah tiga jam kedepan. Kuliah berlangsung lebih cepat satu jam empat puluh lima menit.


Dina dan kedua temanya berjalan ke arah lobi kampus. Mereka sengaja melewati lobi untuk melihat pengumuman. Saat asyik membaca pengumuman, Dina dikejutkan oleh Riri yang datang tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"ingat Din...Bimo adalah tunanganku, jangan sekali-sekali kamu merebut dia dariku!" ucap Riri dengan tatapan marah


"maaf kak...kakak ini kenapa? Dari tadi menuduh aku yang tidak-tidak, siapa yang mengganggu tunangan kakak, dan untuk apa aku merebutnya, aku sudah punya pacar kak, jadi kakak jaga tunangan kakak agar tidak mengganggu aku!" Dina kesal kemudian ia meninggalkan Riri dan berjalan cepat keluar dari kampusnya.


Caca dan Berta yang melihat kejadian tersebut hanya saling tatap. Mereka kemudian mengejar Dina, yang sudah sampai di lorong kelas milik fakultas ekonomi.

__ADS_1


"Din...tunggu...!" ucap Berta yang tidak bisa berjalan cepat


Dina menoleh ke arah belakang, dan terkekeh melihat kedua temannya mengejarnya.


"nenek sihir itu kenapa lagi?" tanya Berta dengan nafas tersengal-sengal


"entahlah, aku tidak tahu, mas Bimo yang mendekatiku kenapa aku yang kena marah sama dia!" Dina kesal


Dina berjalan bertiga dengan teman-temannya, rasanya senang tanpa ada yang mengganggu. Mereka bertiga berjalan ke kos Dina, mereka sepakat untuk bersantai di kos Dina.


Saat sampai di depan kos, Dina meliha sepupunya Wilson sedang menunggunya.


"kak...ada apa di sini?" tanya Dina bergegas menghampiri Wilson


"eh...kamu sudah pulang? Kebetulan aku ada urusan di rektorat jadi mampir ke sini, batangkali adikku ini kelaparan" Wilson terkekeh


"oh...aku kira ada apa? Aku tidak kelaparan...aku sudah makan, terima kasih sudah perhatian" ucap Dina


"ya sudah....aku pergi dulu...jangan lupa kalau ada waktu main ke rumah" Wilson pamit meninggalkan Dina


"Siapa Din? Pacar?" tanya Caca penasaran


"oh...sepupuku... Anak hukum" jawab Dina santai sambil membuka pintu kosnya


"terus pacar kamu yang mana Din?" tanya Berta penasaran


"tidak di sini Berta sayang...kan sudah kubilang masih SMA" ucap Dina gemas


"oh...iya...ya...aku lupa" Berta menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Mereka bertiga melanjutkan obrolan mereka di dalam kamar Dina sambil mendengarkan radio. Mereka bercanda sampai lupa waktu.


Makan siang pun mereka memesan mie ayam yang lewat depan kos Dina. Dan memakannya di dalam kamar Dina.


.


.


B e r s a m b u n g


.


Jangan lupa ritualnya ya bestie....


Ditunggu like komen dan votenya ya bestie

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel 'JADIKAN AKU PACARMU!' ada Toni dan Dina di sana


__ADS_2