
Keesokan harinya Dina di rumah saja tidak pergi kemana-mana karena dari pagi mama papanya Dina pergi ke tempat saudaranya di luar kota. Dina di rumah menjaga kedua adiknya. Setelah membersihkan rumah dan memasak untuk makan siang dirinya dan adik-adiknya Dina segera mandi.
Setelah selesai mandi Dina bergegas menelpon Dendy karena ia meminta tolong Dendy untuk melihat pengumuman hasil tes masuk Universitas "A".
Tutt...tutt...tutt...
^^^☎️ halo^^^
"Halo selamat pagi, Dendy ada?"
^^^☎️ iya tunggu sebentar^^^
Seseorang yang mengangkat telepon meletakkan gagagng teleponnya dan terdengar teriakan dari seberang sana "kakak...telepon..." ucap si pengangkat telepon yang ternyata adalah Rio
^^^☎️halo^^^
"halo Den..."
^^^☎️ iya Din...ada apa?^^^
"sudah jadi melihat pengumuman?"
...☎️belum, ini baru selesai mandi mau berangkat ke warung internet...
"ya sudah hati-hati ya..."
^^^☎️iya nanti setelah dari warnet aku ke rumahmu^^^
"iya"
Dina menutup teleponnya dan kemudian melanjutkan membereskan buku-buku miliknya semasa SMA.
.
Setelah mendapat telepon dari Dina, Dendy segera bersiap-siap. Kemudian ia menyalakan motornya dan berangkat ke warnet terdekat. Sesampainya di warnet Dendy kemudian membuka website universitas 'A' tak butuh waktu lama halaman yang dimaksud Dendy sudah terbuka.
Kemudian ia memasukkan nomor tes Dina di bagian pengumuman hasil tes. Dan ternyata Dina diterima di Universitas 'A'. Seketika Dendy merasa senang sekaligus sedih. Berarti setelah ini ia harus berjauhan dengan Dina.
Dengan langkah gontai Dendy meninggalkan warnet. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia membelokkan motornya ke warung bakso biasa dia dan Dina makan. Dendy membeli dua porsi bakso untuknya dan Dina makan.
Dendy telah sampai di rumah Dina, bertepatan dengan adiknya Dina yang paling kecil pulang dari bermain. Dendy memarkirkan motornya di tempat biasa ia parkir. Kemudian ia mengikuti adiknya Dina masuk ke dalam.
"eh...kakak mau kemana?" tanya Nino menatap Dendy dengan raut heran
"hehehe...mau bertemu kak Dina" ucap Dendy menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"tunggu di sini, aku panggilkan kakak dulu" ucap Nino ketus. Adiknya Dina yang paling tidak bisa basa-basi dan tidak ramah adalah Nino. Siapa saja yang datang mencari Dina kalau Nino yang ada di depan pasti mereka kesal.
Tak berapa lama Dina 'pun keluar. Dina berjalan menghampiri Dendy yang duduk diam di kursi teras rumah Dina.
__ADS_1
"sudah lama?" tanya Dina
Dendy tersentak, mendengar suara Dina yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
"belum, aku datang bersamaan dengan adikmu pulang bermain" ucap Dendy "ooo...iya...ini aku bawakan bakso kesukaanmu" Dendy menyodorkan bungkusan kepada Dina.
"oh...terima kasih, kenapa tadi enggak bilang kalau mau beli bakso, aku sudah selesai masak" ucap Dina memgambil bungkusan dari Dendy.
"kejutan begitu..." Dendy terkekeh
"ya sudah aku ke dalam dulu mengambil mangkok" Dina berjalan masuk ke dalam rumah.
Tak lama Dina keluar lagi membawa dua buah mangkok dan sebotol besar air minum dan satu gelas plastik. Dengan cekatan Dina menuang bakso ke dalam mangkok dan menyodorkan satu mangkok ke Dendy dan satu lagi untuknya.
"ini kenapa gelasnya hanya satu Din?" tanya Dendy mengangkat gelas yang tadi dibawa Dina.
"aku tidak bisa membawanya Den...tidak apa-apa ya, gelasnya satu nanti gantian" ucap Dina merasa sedikit tak enak
"tidak apa-apa malah lebih romantis" Dendy terkekeh
Kemudian mereka sama-sama menuang sambal ke dalam mangkok mereka. Mereka pun mulai menikmati bakso yang tadi di bawa Dendy.
"oh..iya Din...hampir lupa...aku tadi sudah melihat pengumumannya dan kamu diterima" ucap Dendy menahan rasa sedihnya
"iya...aku sudah tahu, tadi Wilson sudah memberitahu aku" ucap Dina santai sambil mengunyah baksonya. Ia tak sadar jika ucapannya tadi membuat Dendy cemburu.
"Wilson? Siapa Din?" tanya Dendy dengan nada cemburu
"oh...aku kira...memangnya tidak boleh aku cemburu?" Dendy mencebik
"boleh..boleh...asal jangan berlebihan saja" ucap Dina terkekeh "kamu cukup percaya sama aku Den...aku akan menceritakan semuanya padamu, selama ini aku sudah jujur dan akan selalu seperti itu kedepannya" ucap Dina melirik Dendy yang termenung
Mereka berdua melanjutkan makannya dalam diam. Setelah selesai makan Dina membereskan peralatan makan mereka. Kemudian ia kembali keluar menemui Dendy.
"papa mamamu pulangnya masih lama?" tanya Dendy
"aku tidak tahu, memangnya ada apa?" tanya Dina
"aku ingin jalan-jalan berdua bersamamu" jawab Dendy
"besok saja bagaimana, liburmu masih lama kan?" tanya Dina
"iya baiklah..." jawab Dendy lesu
Mereka berdua berbincang-bincang, bercanda sampai adiknya Dina Alan pulang, berarti sudah jam makan siang.
"makan yuk Den...aku sudah masak tadi" ucap Dina riang
"memangnya kamu masak apa?" tanya Dendy
__ADS_1
"hanya sayur sop dan ayam goreng, ayo..." ucap Dina
"memangnya tidak apa-apa aku masuk Din?" tanya Dendy ragu
"makannannya aku bawa keluar saja bagaimana?" tanya Dina yang mendadak ingat di rumahnya hanya ada dia dan adik-adiknya. Orang-orang di sekitar rumahnya masih sangat kolot, mereka selalu ingin tahu apa aktivitas tetangganya.
Jika ada lelaki bertamu malam-malam jam sembilan belum pulang pasti didatangi warga. Memang sedikit tidak menyenangkan tapi itulah warga di area perumahan Dina.
Dina berjalan keluar dan membawa makanan nasi, sayur dan lauknya, kemudian ia masuk lagi membawa piring.
"sepertinya enak masakanmu..." ucap Dendy dengan mata berbinar
"ya sudah ayo makan...nanti keburu dingin" ucap Dina
Dendy mulai menambil nasi, sayur dan ayam goreng. Kemudian ia mulai menyendokkan makanannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"hmm...enak sekali Din masakanmu" Dendy memuji masakan Dina
"hehehe... Terima kasih Den...tapi masih kalah sama masakan Tante Tari" ucap Dina juga sambil makan
Dendy makan dengan lahap, bahkan dia sampai nambah dua kali. Dina yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, untung saja ia sudah menyisakan untuk adiknya.
Dalam benaknya Dendy, Dina benar-benar paket komplit. Dina yang cantik, ramah, pandai, sabar dan pandai memasak. Dia sungguh malu karena pernah menyia-nyiakan Dina. Dia menyesal, dia sudah berkali-kali mengecewakan Dina tapi Dina tetap masih memaafkannya.
Mereka berdua telah selesai makan, kemudian Dina membereskan semuanya dan menaruhya di dapur. Dina kembali keluar lagi membawa dua gelas es sirup untuknya dan Dendy.
"kapan kamu ke kota J Din?" tanya Dendy
"menunggu surat dari kampus dulu Den, baru aku kesana" ucap Dina, ia tahu Dendy berat untuk berpisah dengannya tapi ia juga tidak mungkin mengorbankan kuliahnya demi Dendy
"kalau ada apa-apa kabari aku ya Din, aku juga mau kalau disuruh mengantar ke kampusmu" ucap Dendy
"iya..." ucap Dina tersenyum
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
Dukung terus karya ini ya bestie...
Ditunggu kiriman bunga dan kopinya ya...
Jangan lupa like, komen dan votenya ya
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie